Saturday, July 25, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 93)

Deus ex Machina

Deus ex machina adalah istilah dalam bahasa Latin yang berarti "dewa yang muncul dari mesin." Istilah ini berasal dari konvensi teater Yunani Kuno dan merujuk pada sebuah teknik penceritaan, yaitu ketika persoalan yang tampaknya mustahil diselesaikan dalam sebuah kisah tiba-tiba memperoleh jalan keluar melalui kemunculan tokoh atau peristiwa yang tak terduga. Pada masa itu, para aktor yang memerankan dewa atau sosok ilahi dihadirkan ke atas panggung dengan menggunakan sebuah alat mekanis, biasanya berupa derek atau panggung pengangkat. Kemunculan mereka memberikan efek dramatis sekaligus menjadi penutup cerita atau penyelesaian konflik.

Pameran ini menggunakan istilah tersebut sebagai judul untuk mempertemukan karya-karya dari dua individu yang berasal dari sudut pandang yang sangat berbeda: seorang dokter dan seorang pasien, Andre Setiawan Suryadi dan Anfield Wibowo. Melalui seni, keduanya dipertemukan dalam satu pengalaman ruang yang sama, meskipun memiliki peran yang bertolak belakang. Dunia yang mereka bagikan adalah dunia kedokteran modern, kesehatan mental dan fisik, serta perjalanan menuju pemulihan dan penerimaan diri.

Andre Setiawan Suryadi adalah seorang dokter bedah umum yang berpraktik di Jakarta, Indonesia. Praktik artistiknya lahir dari intensitas, ketelitian, dan beban emosional yang ia alami di ruang operasi. Kecintaannya terhadap seni telah tumbuh sejak usia dini, lalu kembali menguat ketika menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, saat ia mulai mendalami ilmu bedah. Baginya, ilmu bedah merupakan bidang yang sangat menarik karena sangat mengandalkan keterampilan tangan, sebagaimana seorang seniman visual yang menggunakan ketangkasan tangannya dalam menciptakan sebuah karya.

Di sisi lain ruang galeri, dipamerkan karya-karya Anfield Wibowo, seorang seniman muda yang juga berbasis di Jakarta. Sejak kecil, Anfield didiagnosis memiliki kebutuhan khusus, yaitu gangguan pendengaran dan sindrom Asperger. Meski demikian, kondisi tersebut tidak pernah mengurangi semangatnya untuk terus berkarya dan menyampaikan kisah-kisahnya melalui lukisan. Karya-karyanya seolah menjadi sebuah jendela yang membuka dunia yang ia miliki kepada kita. Lukisan-lukisan itu menghadirkan bahasa baru yang mampu menyingkirkan berbagai batasan dalam berkomunikasi.

Dunia kedokteran dan proses pengobatan dalam masyarakat modern sering kali dipandang sebagai sesuatu yang dingin dan sangat teknis. Namun, di balik ketepatan prosedur, berbagai perhitungan, diagnosis, harapan akan kesembuhan, hingga kekecewaan ketika pengobatan tidak berjalan sesuai harapan, terdapat pengalaman yang mempertemukan kedua seniman dalam pameran ini. Pengalaman tersebut adalah pengalaman yang bersifat spiritual sekaligus menghadirkan sudut pandang baru, yang mengaburkan batas-batas antara seni rupa, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan itu sendiri.

Melalui penyajian karya-karya kedua seniman ini, pameran mengajak pengunjung untuk merayakan luluhnya berbagai batas yang selama ini mungkin membatasi atau mengikat kita. Batas-batas yang terbentuk oleh pemahaman dan pengalaman hidup di masa lalu, maupun oleh norma-norma yang kita terima begitu saja tanpa banyak dipertanyakan, sehingga menghalangi kita untuk melihat, memahami, dan menyambut berbagai kemungkinan yang terbentang di hadapan kita. Pameran ini berlangsung pada tanggal 11 Juli 2026 sampai 11 Agustus 2026 di Kendys Gallery.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 17 Juli 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Wednesday, July 22, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 92)

Beyond the Frame

Seni kontemporer telah lama menantang anggapan bahwa lukisan hanyalah sebuah citra yang hadir di dalam bidang persegi. Kini, para seniman tidak lagi hanya mempertanyakan apa yang direpresentasikan, tetapi juga bagaimana sebuah karya terbentuk melalui material, struktur, dan kehadiran fisiknya. Dalam Beyond the Frame, permukaan lukisan tidak lagi diperlakukan sebagai sekadar media penopang, melainkan menjadi bagian yang aktif dalam membentuk makna. Di sinilah batas antara citra, objek, dan medium mulai menjadi semakin cair.

Menghadirkan karya-karya Gandari Irianti, Rafli Piu, dan Wira Liandy, pameran ini memperlihatkan bagaimana masing-masing seniman menegosiasikan kembali konvensi medium yang mereka pilih. Meski berangkat dari pendekatan yang berbeda, ketiganya sama-sama melihat bentuk yang diwariskan bukan sebagai sesuatu yang baku. Kanvas, papan, maupun berbagai permukaan yang mereka bangun kembali diregangkan, ditumpuk, dipahat, disusun, dan dibentuk ulang hingga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gagasan yang mereka bawa.

Bagi Wira Liandy, transformasi kanvas menjadi cerminan lanskap psikologis yang hadir dalam karyanya. Siluet-siluet yang keluar dari bentuk persegi konvensional merefleksikan identitas yang terus dibentuk oleh mekanisme pertahanan diri, ekspektasi, dan pengalaman hidup. Bentuk akhirnya menjadi perpanjangan tubuh—sesuatu yang dikenakan, dihuni, dan perlahan terus berubah.

Dalam praktik Gandari Irianti, lukisan berkembang menjadi ruang-ruang arsitektural yang sunyi. Melalui susunan papan PVC berlapis yang dikerjakan dengan cermat, ia membangun ruang-ruang kecil yang berada di antara ingatan dan imajinasi. Kedalaman fisik setiap karya menjadi metafora bagi lapisan emosional tentang rumah, mengajak pengunjung menyusuri ruang tempat sejarah personal dan lanskap batin saling beririsan.

Sementara itu, Rafli Piu memulai praktiknya dari bentuk persegi sebagai arketipe medium lukis, lalu mengintervensinya melalui potongan, perpanjangan, dan penyusunan ulang bentuk. Mengadopsi logika perancangan karakter, ia mengubah kanvas menjadi objek yang memiliki identitasnya sendiri tanpa sepenuhnya melepaskan jejak bentuk asalnya. Dengan memperlakukan cat, kanvas, dan rangka sebagai elemen-elemen yang memiliki perannya masing-masing, Rafli mengaburkan batas antara lukisan, objek, dan komoditas. Melalui pendekatan ini, ia merefleksikan bagaimana karya seni beredar, memperoleh nilai, dan dikonsumsi dalam budaya visual kontemporer.

Yang mempertemukan ketiga praktik ini bukan sekadar semangat bereksperimen, melainkan keyakinan bahwa setiap pilihan material selalu membawa makna. Setiap tepian yang diubah, permukaan yang dilapisi, hingga bentuk yang direkonstruksi menjadi bagian dari bahasa visual yang mereka bangun. Di sini, inovasi bukan hanya persoalan estetika, tetapi juga cara berpikir yang membuka ruang bagi narasi personal, ruang, maupun budaya untuk hadir melalui transformasi material yang kita kenal sehari-hari.

Alih-alih hanya mengajak pengunjung melihat gambar di permukaan, Beyond the Frame mengundang kita untuk memperhatikan lukisan sebagai sebuah objek—kontur, konstruksi, dan keberaniannya melampaui batas-batas yang selama ini kita anggap lazim. Pada akhirnya, pameran ini mengingatkan bahwa makna tidak selalu berada pada apa yang direpresentasikan. Terkadang, medium itu sendirilah yang bercerita. Pameran ini berlangsung pada tanggal 11 Juli 2026 sampai 11 Agustus 2026 di Art WeMe Contemporary, Wisma Geha 3rd Floor.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 17 Juli 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Monday, July 20, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 91)

Senang Bertemu Kembali

Dalam rangka memperingati satu tahun berdirinya YIRI ARTS Jakarta, pameran Senang Bertemu Kembali (Good to See You Again) menghadirkan karya lima seniman asal Taiwan, yaitu Chen Sung-Chih, Chiu Huai-Hsuan, Hsieh Jung-Wei, Jiang Meng-Si, dan Keng Chieh-Sheng. Pameran ini merefleksikan satu tahun perjalanan pertukaran artistik dan dialog lintas budaya yang telah terjalin di Jakarta.

Pusat perhatian dalam pameran ini adalah Beacon, sebuah proyek instalasi spasial terbaru karya Hsieh Jung-Wei. Dengan memadukan garis-garis reflektif, patung berbasis cahaya, dan lukisan, instalasi ini mengajak pengunjung menjelajahi ruang galeri yang dibuat gelap menggunakan lampu kepala (headlamp). Pengalaman melihat karya pun berubah menjadi sebuah perjalanan yang melibatkan gerak, cahaya, dan ruang. 

Pameran ini berlangsung dalam ruang yang terang, sementara pengunjung diajak menjelajah menggunakan lampu kepala (headlamp) di antara lukisan, patung, dan elemen-elemen arsitektural. Garis-garis reflektif, patung berbasis cahaya, dan lukisan pada awalnya nyaris tidak terlihat, hingga sorotan cahaya dari lampu kepala menyingkap bentuk, warna, dan pantulannya. 

Bagi Hsieh Jung-Wei, karya seni bukanlah representasi cahaya, melainkan medium yang membuat cahaya menjadi dapat dialami dan disadari keberadaannya. Saat pengunjung bergerak membawa sumber cahayanya sendiri, hubungan antara arsitektur, lukisan, dan patung terus berubah, memperlihatkan bagaimana cahaya membentuk kembali cara kita mengalami dan memahami ruang. Pameran ini berlangsung pada tanggal 27 Juni 2026 sampai 02 Agustus 2026 di YIRI ARTS Jakarta, Ranuza Building, 2nd Floor JI. Timor No. 10, Gondangdia, Menteng, Central Jakarta.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 17 Juli 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, July 19, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 90)

I Will Tell You When I am Home

"I will tell you when I am home" mengambil judul dari memoar karya Hala Alyan, yang mengisahkan pengalaman pribadi tentang pengasingan dan pencarian rasa memiliki. Lahir di Amerika Serikat dari ayah berkebangsaan Palestina dan ibu berkebangsaan Kuwait, Alyan merefleksikan bagaimana identitas seseorang dapat terasa terpecah. Ia menulis, "Kamu hidup di dalam dua identitas seperti hantu, tetapi tidak benar-benar menjadi bagian dari keduanya." 

Pameran kelompok ini menghadirkan enam seniman yang melalui praktik dan karya mereka mengangkat persoalan tentang tempat, perpindahan, dan pengalaman tercerabut dari akar. Karya-karya mereka menjelajahi ruang yang tidak pasti, di antara keinginan untuk memiliki tempat berpijak dan kenyataan bahwa hidup selalu dipenuhi perpindahan. 

Melalui karya-karya tersebut, para seniman memetakan berbagai pengalaman seperti proses melepaskan dan menjadi, kehilangan dan pemulihan, serta pencarian akan rasa memiliki. Mereka menunjukkan bagaimana diri, ingatan, dan identitas terus terbentuk melalui pengalaman berpindah dan hidup di ruang-ruang di antara berbagai tempat maupun identitas. Pada akhirnya, pameran ini mengajak kita melihat bahwa rasa memiliki tidak selalu berarti kembali ke tempat asal. Sebaliknya, rasa memiliki dipahami sebagai proses yang terus berlangsung untuk menemukan kesinambungan dan makna baru, bahkan ketika berada dalam kondisi terpisah dari tempat yang dianggap sebagai rumah. 

Dalam kehidupan sehari-hari, ungkapan"I will tell you when I am home" ("Aku akan memberi kabar saat sudah sampai di rumah") merupakan bentuk sederhana untuk menenangkan orang lain, sebagai tanda bahwa seseorang telah kembali dengan selamat ke tempat yang memberikan rasa aman, nyaman, dan akrab. Berangkat dari ungkapan sederhana tersebut, pameran ini mengajukan pertanyaan tentang pencarian yang terus berlangsung akan sebuah tempat yang benar-benar dapat disebut sebagai rumah, sekaligus menjadi ruang di mana seseorang akhirnya merasakan dirinya benar-benar memiliki tempat. Pameran ini berlangsung pada tanggal 11 Juli 2026 sampai 09 Agustus 2026 di Ara Contemporary.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 15 Juli 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 89)

Oxygen

Makna 'oksigen' yang dimaksud Agus Budiyanto ini mungkin dianggap sebaga ungkapan metaforik meskipun, sebenarnya, juga bisa ditemukan artikulasi maksudnya secara fisikal dan konkrit. Ide dasar mengangkat soal 'oksigen' ini adalah untuk menyatakan ekspresi seni sebagai ibarat entitas penting untuk bernapas, yang terutama dibutuhkan manusia sibuk di kota besar. Dinamika kota telah menghasilkan ruang hidup yang kian pengap, didorong percepatan rutinitas tindakan, serta himpitan kebutuhan untuk menjadikan sang diri hidup semakin nyaman dan memuaskan-terpisahkan dari ajaran semesta alam. Karya-karya Agus Budiyanto ini adalah ekspresi seni rupa abstrak, meski ia sendiri pernah mengatakan, bahwa 'sebenarnya saya tak bermaksud membuat (ekspresi) abstrak, selain hanya mengikuti aliran energi alam yang hidup dalam diri saya.' 

Ekspresi imaji yang dikerjakannya nampak jelas sama sekali tidak merepresentasikan bentuk sebagaimana biasa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Imaji abstrak yang diciptakan ini terhubung pada proses internalisasi hasil pencerapan inderawi yang terkait dengan keadaan wujud tersebut untuk bisa diperluas atau dibeda-bedakan. Karya-karya ini mengundang setiap orang untuk bisa terlibat menikmati pengalaman dalam struktur pembentukannya. Ekspresi karya semacam ini, rupanya, hanya diterima melalui pengalaman jiwa yang sensitif serta kekuatan sensasi. Hanya jiwa yang mampu menampung dan menghidupkan sensasi yang bisa menjadi sasaran ekspresi karya-karya semacam ini. Tumpukkan lapisan-lapisan, dinamika aliran dan alur warna, efek gerakan atau hentakan, serta 'drama' kontras dan nuansa peralihan warna dalam karya-karya ini hanya bisa hidup dan 'bernapas' dalam ruang-waktu pengalaman setiap jiwa yang sensitif. Seseorang yang mampu menemukan, menyusuri, atau bahkan menjelajahi lapisan-lapisan warna dan sensitivitas garis maupun ruang kedalaman lah yang bisa menemukan kekuatan oksigen sebagaimana dibayangkan Agus Budiyanto. Pameran karya Aquarelle Agus Budiyanto ini berlangsung pada tanggal 11 Juli 2026 - 11 Agustus 2026 di Galeri ZEN1, Jl. Purworejo No. 24, Dukuh Atas, Menteng Jakarta Pusat 10310.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 13 Juli 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Tuesday, July 07, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 88)

Once, Twice, ..

Pameran karya Luqi Lukman tidak pernah benar-benar melepaskan material yang pernah digunakan. Gambar-gambar yang dibuat bertahun-tahun lalu disimpan, dilipat, lalu dibuka kembali untuk diubah menjadi sesuatu yang baru. Ia memotong gambar buatannya sendiri, menggunakan kembali kertas lama, dan menggabungkannya dengan kayu, kaca, cat, daun, serta benda-benda temuan. Jejak keausan, jamur, retakan, dan sekrup yang dibiarkan terlihat tetap dipertahankan, meninggalkan jejak dari apa yang telah terjadi sebelumnya. 

Karya Luqi tumbuh bukan dengan memulai dari awal, melainkan dengan terus kembali. Seperti seseorang yang terus menata ulang ruangan yang sama, Luqi mengunjungi kembali elemen-elemen yang sudah akrab dan memberinya peran baru. Kertas menjadi struktur, gambar menjadi fragmen, benda yang semula terabaikan menjadi bagian dari sesuatu yang lain. Alih-alih menyimpan material sebagai rekaman masa lalu, ia menjaganya tetap bergerak, sehingga setiap pertemuan kembali membuka kemungkinan baru dari apa yang sudah ada. Pameran ini berlangsung pada tanggal 27 Juni 2026 sampai 26 Juli 2026 di DGallerie, JI. Barito I No. 3, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 02 Juli 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, July 04, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 87)

Tanadiri: I am Forest

Pameran Tanadiri: I am Forest merupakan pameran tunggal karya Han Chandra yang berlangsung di Artsphere Gallery. Pameran ini menghadirkan ruang refleksi yang mengajak pengunjung melihat kembali hubungan manusia dengan bumi. Melalui karya-karyanya, Han menghadirkan suasana yang tenang sekaligus mengundang rasa ingin tahu tentang keterikatan manusia dengan alam yang selama ini sering terlupakan.

Karya-karyanya menampilkan figur-figur dengan tubuh yang diselimuti lumut, mata terpejam, serta mulut yang terkunci. Meski tampak sunyi, setiap elemen menyimpan pesan tentang kedamaian yang lahir dari keheningan. Han Chandra mengajak pengunjung memahami bahwa manusia dan tanah memiliki hubungan yang tidak terpisahkan. Dalam narasi yang dibangunnya, manusia adalah tanah dan tanah adalah manusia, sebuah siklus kehidupan yang terus berputar tanpa akhir. Pameran ini berlangsung pada tanggal 23 Mei 2026 sampai 18 Juli 2026 di Artsphere Gallery, Dharmawangsa Square 2nd Floor Unit 66.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 29 Juni 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, June 07, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 86)

Hypnagogia | Tracing Time

Ara Contemporary mempersembahkan Hypnagogia | Tracing Time, sebuah pameran tunggal karya Albert Yonathan Setyawan, seorang seniman asal Bandung, Indonesia yang berbasis di Tokyo, Jepang. Pameran yang berlangsung pada tanggal 23 Mei - 27 Juni 2026 ini mengeksplorasi pertanyaan tentang eksistensi dalam ruang dan waktu melalui karya-karya terakota, gambar, dan video yang dibentuk oleh pengulangan, proses material, dan gestur meditatif. 

Kualitas meditatif meresap dalam praktik Albert, yang terlihat tidak hanya pada karya fisiknya sendiri, tetapi juga pada proses berulang dan padat karya yang dilaluinya. Sejak 2018, Albert secara eksklusif bekerja dengan terakota, material yang menurutnya terkait erat dengan akar budaya dan geografisnya. Telah lama dikaitkan dengan benda-benda rumah tangga dalam tradisi tembikar Indonesia, terakota membawa resonansi fisik dan historis dalam praktiknya. 

Melalui tanah liat, Albert merenungkan pertanyaan filosofis seputar waktu, keberadaan, dan eksistensi. Inti dari pameran ini adalah keterlibatan Albert yang berkelanjutan dengan pengulangan melalui teknik pengecoran slip, sebuah teknik yang secara luas dikaitkan dengan produksi dan replikasi industri. 

Eksplorasi ini diwujudkan dalam Annica, sebuah karya yang terdiri dari 310 keping terakota yang direplikasi melalui teknik pengecoran slip menggunakan satu cetakan. Karena setiap hasil coran secara bertahap kehilangan detail dan definisi melalui penggunaan berulang, karya ini merefleksikan transformasi, dan pada saat yang sama, menampilkan catatan waktu melalui kehadiran material. Annica menjadi pengamatan terhadap segala sesuatu yang berubah di sekitar kita. Untuk menyelesaikan Anicca diperlukan waktu 3 sampai 4 bulan.

Melalui karya Hypnagogia, Albert lebih jauh mengeksplorasi tema perubahan melalui komposisi modular yang berasal dari ruang arsitektur dan interior. Bentuk geometris yang berulang disusun menjadi susunan spasial yang terfragmentasi, terinspirasi oleh perkembangan pesat lanskap kota dari waktu ke waktu, yang akhirnya kehilangan koherensi.  

Pameran ini juga menampilkan Squaring the Circle - Circling the Square, sebuah karya video tiga saluran yang mendokumentasikan upaya berulang Albert untuk mengubah kubus menjadi bola dan sebaliknya, dari bola menjadi kubus. Kegagalan yang berulang tersebut menyoroti runtuhnya sistem ideal ketika mengalami pengulangan, perluasan, dan waktu. Melalui karya-karya ini, Hypnagogia | Tracing Time pada akhirnya merefleksikan hakikat eksistensi dalam menghadapi ketidakmungkinan untuk lepas dari waktu dan ruang.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 02 Juni 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, May 10, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 85)

The Superlative Artistry of Japan

The Japan Foundation adalah badan pemerintah khusus yang didirikan pada tahun 1972 dengan tujuan mempromosikan pemahaman internasional melalui pertukaran budaya. Badan ini menyelenggarakan berbagai proyek di tiga bidang utama kegiatan: pertukaran seni dan budaya, pendidikan bahasa Jepang di luar negeri, serta studi Jepang dan pertukaran intelektual. Di bidang seni rupa, yang merupakan bagian dari program pertukaran seni dan budaya kami, kami berupaya memperkenalkan seni Jepang melalui pertukaran timbal balik antara Jepang dan negara-negara lain.

Sebagai bagian dari kegiatan ini, kami secara rutin menyelenggarakan pameran keliling yang berkunjung ke berbagai penjuru dunia. Pameran ini menampilkan karya-karya dari koleksi Japan Foundation sendiri dan mencakup beragam tema, termasuk kerajinan tangan, lukisan, fotografi, arsitektur, dan desain. Sekitar 20 pameran sedang berlangsung secara bersamaan dan diselenggarakan di sekitar 100 kota setiap tahunnya. 

Pada kesempatan ini, kami dengan bangga mempersembahkan "The Superlative Artistry of Japan", sebuah pameran keliling yang menampilkan koleksi terpadu berupa karya dari berbagai jenis bahan yang sangat menekankan pada teknik yang sangat mahir, ekspresi dan konsep yang terampil, serta tingkat kesempurnaan tinggi yang memukau pengunjung. Dimulai dengan memperkenalkan karya-karya kogei era Meiji (1868-1912) yang memiliki peran penting dalam memicu tren Japonisme di Eropa abad ke-19, pameran ini tidak hanya menampilkan berbagai karya seni kontemporer tingkat tinggi, tetapi juga mencakup figur mainan kapsul dan sampel makanan yang menggambarkan komitmen yang kuat terhadap keahlian kerajinan. 

Melalui pameran ini, kami bermaksud memperkenalkan teknik-teknik tingkat tinggi dari setiap karya serta berbagai bentuk ekspresi yang bahkan melampaui keterampilan dan keahlian tersebut, dengan harapan para pengunjung dapat menghargai bagian khusus dari budaya kreatif Jepang yang menghormati keahlian kerajinan dan secara konsisten menunjukkan ketelitian serta dedikasi yang mendalam terhadap proses produksi. 

Kami juga ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada Bapak Yuji Yamashita yang berperan sebagai supervisor pameran, para seniman yang dengan baik hati bersedia memamerkan karya-karya mereka, serta kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, bantuan, dan kontribusi yang begitu besar. Pameran ini berlangsung pada tanggal 05 - 25 Mei 2026 di Sakura Hall, The Japan Foundation, Jakarta.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 08 Mei 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, May 09, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 84)

Incidental States, Their Remains

Daya cipta jarang terbentuk oleh peristiwa besar semata. Lebih sering, ia tersusun dari situasi-kondisi kecil yang datang tiba-tiba: ritme yang berulang, jeda yang nyaris tak terasa suasana yang bergeser pelan, atau perjumpaan singkat dengan material, ruang, dan ingatan. Hal-hal semacam ini sering luput dari perhatian ketika terjadi, tetapi justru di sanalah kekaryaan meninggalkan bekasnya. 

Pameran Incidental States, Their Remains berangkat dari perhatian pada bekas-bekas tersebut. Bukan pada peristiwa sebagai pusat makna, melainkan pada sisa yang tertinggal setelahnya--residu pengalaman, fragmen visual, atau jejak material yang mengendap dalam karya. Dalam konteks ini karya seni menjadi wadah, di mana keadaan-keadaan yang pernah lewat dapat dibaca kembali bukan sebagai cerita lengkap, tetapi sebagai bentuk yang menyimpan ingatan akan sesuatu yang pernah terjadi. 

Dalam praktik Cecil Mariani, keadaan tersebut sering muncul sebagai gambar yang berada di antara realitas dan imajinasi, menghadirkan fragmen pengalaman batin yang mendasar pada simbol maupun mitologi. Erik Rifky Prayudhi bekerja melalui transformasi visual yang mempertemukan idiom naturalistik dengan yang sintetik, memperlihatkan bagaimana garis dan bentuk dapat terus berubah melalui proses translasi material. Pada Taufiq HT, ruang dihadirkan melalui flora, fauna, dekorasi warna, dan perkakas; permainan perspektif dalam karyanya menunjukkan bahwa kenyamanan ruang bersifat relatif. 

Dalam karya Chakra Narasangga, drawing menjadi medium rekaman batin dan perubahan kondisi gelap terang, guratannya intens dan atmosferik. Hilman Hendarsyah melihat patahan sebagai metafora manusia dan lingkungannya--seperti kayu yang masih bertahan namun perlahan tergerus tekanan dan pelapukan. Sementara Reggie Aquara menangkap spontanitas melalui impasto yang padat dan taktil, di mana tumpukan cat meninggalkan gumpalan piksel yang emosional di permukaan lukisan. 

Melalui pendekatan yang masing-masing berbeda, keenam seniman ini memperlihatkan bahwa yang tertinggal dari kehidupan sering bukan peristiwanya melainkan keadaan-keadaan kecil yang melintas dan meninggalkan kesadaran estetik. Dari lintasan itulah kita mulai merasakan kembali keseharian kekaryaan--bukan sebagai rutinitas yang datar, tetapi sebagai bentuk kehidupan: elusif, bergerak, dan selalu mengajukan untuk dimaknai ulang. Pameran ini berlangsung pada tanggal 11 April 2026 - Mei 2026 di Ranuza Building, 2nd Floor, Jl. Timor No 10 Menteng, Jakarta.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 08 Mei 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 83)

She Lit My Mouth Without a Word

Pameran tunggal pertama dari Sasi Organ ini menampilkan rangkaian lukisan cat minyak, instalasi kinetik, patung, dan karya berbasis teks. Pameran ini menjadi penanda tiga tahun sejak sang seniman kembali ke Thailand, tanah kelahiran ibunya. Melalui tema tentang hasrat dan kehilangan yang terus berulang, pameran ini menghadirkan pengalaman yang kuat secara inderawi dan psikologis, yang dibentuk oleh ingatan, ritual, dan tubuh.

Dalam seluruh pameran, yang dipengaruhi oleh latar belakang Thai-British miliknya, Sasi Organ menggunakan berbagai benda dan material dari kedua budaya tersebut. Ia mengolah dan menempatkannya kembali sebagai pembawa sejarah pribadi maupun sejarah bersama. Salah satu unsur yang terus dieksplorasi adalah buah pinang (betel nut), yang bagi Sasi Organ memiliki makna kuat karena menggambarkan perubahan tubuh sekaligus perubahan nilai budaya dari waktu ke waktu. 

Berbagai elemen ini tidak hanya berfungsi sebagai simbol, tetapi juga sebagai wadah ingatan yang melekat pada pengalaman tubuh, tempat di mana kedekatan, kedisiplinan, dan warisan keluarga saling bertemu. Melalui pendekatan ini, Sasi Organ merefleksikan hubungan keluarga dan pewarisan budaya yang rumit, di mana kasih sayang dan batasan sering hadir secara bersamaan. Unsur api muncul sebagai elemen penting yang terus berulang dalam pameran ini, hadir dalam tindakan yang bersifat pribadi maupun ritual. Api muncul dalam bentuk perawatan, perubahan, disiplin, dan juga dalam praktik Yu Fai, yaitu tradisi perawatan ibu setelah melahirkan di Thailand. Sebagai sumber kehangatan sekaligus kekuatan yang dapat menghancurkan, api menjadi metafora yang terus berubah—bergerak antara kepedulian dan keretakan, kehidupan dan kehancuran. Karena itu, pameran ini tidak dibangun melalui cahaya yang terang dan pasti, melainkan melalui nyala api yang tidak stabil, di mana apa yang terlihat hanya sebagian dan makna terus berubah.

Pada akhirnya, “She lit my mouth without a word” membahas bagaimana ingatan disimpan, berubah, dan hidup dalam diri seseorang—tentang apa yang tetap dipertahankan, apa yang perlahan memudar, dan apa yang terus membentuk jati diri seseorang. Pameran ini berlangsung pada tanggal 11 April 2026 - 10 Mei 2026 di Ara Contemporary, Jl. Tulodong Bawah I No.16, RT.3, Senayan, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 06 Mei 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, April 12, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 82)

Food for Thought

Ada sesuatu yang selalu kita konsumsi tanpa benar-benar kita sadari: prosesnya. Makanan hadir sebagai hasil akhir, sementara kerja di baliknya kerap luput dari perhatian. Hal yang sama terjadi dalam seni rupa: yang terlihat adalah karya, bukan bagaimana ia dipilih, diolah, diuji, dan diberi nilai. 

Food for Thought bekerja pada dua ranah sekaligus. Pertama, ia membaca praktik seni rupa sebagai proses transformasi dari bahan menjadi bentuk. Kedua, ia menempatkan konsumsi sebagai lensa untuk melihat bagaimana makna dan nilai diproduksi serta diterima. 

Struktur pameran ini mengikuti alur pengolahan tersebut: Ingredient, Appetizer, Main Course, Dessert, Plating, dan Aftertaste. Pembagian ini bukan sekadar permainan istilah kuliner, melainkan pendekatan kuratorial untuk membaca tahapan transformasi dalam praktik artistik. Pameran ini berlangsung pada tanggal 07 Maret 2026 - 30 April 2026 di D Gallerie, Jl. Barito I No.3, Jakarta Selatan.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 10 April 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 81)

Biophilia: Exquisite Corpse

ISA Art Gallery membagikan dokumentasi instlasi pameran “Biophilia: Exquisite Corpse”. Pameran ini terinspirasi dari permainan seni surealis bernama Exquisite Corpse, yaitu permainan yang berkembang secara spontan dan tidak terduga. Karya-karyanya tersusun sedikit demi sedikit, seperti riak air yang menyebar atau lingkaran pohon yang terus bertambah seiring waktu. Melalui pameran ini, para seniman mengajak kita melihat siklus pertumbuhan dan kerusakan di alam. Tubuh, sistem, dan lingkungan digambarkan sebagai sesuatu yang selalu berubah. Pameran ini juga mengingatkan kita bahwa kehidupan bergantung pada keseimbangan yang rapuh, sehingga kita perlu lebih peduli terhadap hubungan kita dengan alam dan ekosistem tempat kita hidup. 

Seri pameran yang diadakan setiap dua tahun ini berfokus pada isu lingkungan. Tahun ini, Exquisite Corpse menghadirkan karya dari Arahmaiani, Dabi Arnasa, Anang Saptoto, CynthIa Delaney Suwito, Fitri DK, Kynan Tegar x Studio Birthplace x Novo Amor, Mater Design Lab, Reza Kutih, dan Teguh Ostenrik. Mereka bersama-sama mengeksplorasi bagaimana manusia dan alam saling terhubung dan saling bergantung. Pameran berlangsung pada tanggal 14 Februari 2026 sampai 16 April 2026 di ISA Art Gallery, Wisma 46, Jakarta Pusat.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 27 Februari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, March 01, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 80)

Inner Sight

RB. Mamet Swalle, yang lebih dikenal dengan nama sapaan RB Ali, adalah pelukis yang juga gemar menulis puisi. Ekspresi lukisan-lukisan Ali, terutama yang dipamerkan kini, pun banyak mengandung ungkapan tulisan atau huruf. Karya-karya yang ditunjukkan ini merujuk pada renungan perjalanan hidup RB Ali dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Ada rentetan peristiwa penting dan menentukan alur hidup Ali pada masa-masa itu. 

Banyak orang mafhum bahwa 'kehidupan manusia adalah panggung sandiwara', dan bagi Ali, panggung itu juga mementaskan narasi getir dalam hidup yang justru memicunya menjadi sumber penciptaan karya. Lukisan Ali mengandung narasi dengan ungkapan yang puitik. Ada banyak gambaran tentang sosok manusia, selain benda-benda atau bentuk-bentuk 'asing' yang ia ciptakan secara kreatif. 

Proses deformasi bentuk yang dikerjakan Ali ditempatkan dalam susunan komposisi bidang kanvas yang dipertimbangkan menjadi harmonis. Ekspresi lukisan Ali, nampaknya, menyerap namun memantulkan secara unik pengaruh kecenderungan bebas gerakan seni surealisme (khususnya karya Joan Miro), serta pertimbangan struktural abstrakisme Georges Braque (namun dengan karakter komposisi warna yang tidak sama). Menghubungkan dua pendekatan proses penciptaan seni yang berkarakter berbeda itu akhirnya menghasilkan karakter ekspresi yang unik dan khas pada lukisan Ali. 

Ada soal kontras di situ, tentang memadukan dua hal yang umumnya dianggap bertentangan dan tak bisa dihubungkan. Inner Sight RB Ali justru menciptakan caranya sendiri. Ali percaya bahwa tiap tragedi hidup seseorang tak hanya menambat jeruji eligi duka, tetapi juga memendam energi cita yang bersifat membebaskan, memberikan daya pertumbuhan hidup yang mengubah dan memperbarui diri. Ekspresi lukisan-lukisan Ali mencari dan menggali dimensi keindahan dalam harmoni perjumpaan antara bentuk-bentuk yang literal (tulisan, huruf, angka) dengan yang visual (deformasi bentuk), antara ekspresi naratif dengan aspek puitis, serta memadukan masalah kontras antara bidang-bidang terang dan gelap. 

Ekspresi Inner Sight RB Ali, pada akhirnya, bukan soal refleksi mengenai narasi pengalaman dirinya sendiri, melainkan justru soal pengalaman pergulatan menjadi manusia agar mampu bertahan selaras dalam aliran hidup. Energi hidup, secara misterius dan tersembunyi, justru 'memandu' kreativitas manusia agar mampu melampaui babak-babak perubahan dan pembaruan diri dalam siklus kehidupan. Pameran ini berlangsung di Galeri ZEN1, JI. Purworejo No. 24, Dukuh Atas, Menteng Jakarta Pusat 10310 pada tanggal 13 Februari 2026 sampai 10 Maret 2026.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 24 Februari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, February 22, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 79)

View/Preview '26

View/Preview '26 menjadi tonggak penting bagi ArtSociates. Pameran ini merupakan presentasi perdana yang diselenggarakan di ruang terbaru kami di Jakarta. Setelah 19 tahun berkiprah di dunia seni Bandung, pada tahun 2026 ArtSociates melakukan ekspansi strategis ke ibu kota, tepatnya berlokasi di Jakarta Art Hub 2, Gedung Ranuza Thamrin, Jakarta Pusat. 

Sebagai judul, View/Preview 26 dirancang untuk menjadi jendela sekaligus gambaran arah perjalanan artistik yang akan kami tempuh sepanjang tahun ini. Pameran ini menampilkan pilihan karya dari para seniman yang akan bekerja sama dengan kami dalam berbagai proyek mendatang. Kami menghadirkan karya Gregorius Sidharta, Umi Dachlan, Lian Sahar, dan Mujahidin Nurrahman — sebagai kelanjutan narasi dari pameran “Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme” yang saat ini berlangsung di Salihara Community. Selain itu, kami juga menampilkan karya Dzikra Afifah dan Louise Henryette sebagai pengantar menuju pameran mereka di ArtSociates Bandung pada akhir Januari 2026. 

Spektrum pameran ini juga mencakup karya Fadjar Sidik, Aming Prayitno, Maharani Mancanagara, Meliantha Muliawan, dan Rendy Raka Pramudya, yang dipersiapkan untuk partisipasi kami dalam Art Jakarta Papers. Lebih jauh lagi, kami juga menghadirkan pratinjau pameran tunggal yang akan datang di ArtSociates Bandung dari sejumlah seniman dengan karakter beragam: Daniel Kho, Alessio Ceruti, Ugo Untoro, Agnes Hansella, Dwipuspita Pangastuti, dan Endang Lestari. Khusus untuk ruang Jakarta, kami memamerkan karya Nesar Eesar dan Eddy Susanto, yang dijadwalkan akan menggelar pameran tunggal di galeri ini pada tahun ini. 

Kami juga secara khusus menampilkan karya video dari Hoo Fan Chon, yang akan menjadi bagian dari pameran mendatang di ArtSociates Bandung, dikurasi oleh Gunalan Nadarajan (salah satu juri BaCAA 8) dan dikuratori bersama oleh Roopesh Sitharan. Sebagai pelengkap visi tahun ini, kami menampilkan eksplorasi estetika para seniman Bali dalam proyek pameran “Post-Tradisi” di ArtSociates Bandung, yang diwakili oleh Darmika Solar, Made Chandra, Kadek Dwi Darmawan, dan Kuncir Sathya Viku. Kami berharap View/Preview 26 dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai visi dan agenda artistik ArtSociates sepanjang tahun 2026. Pameran ini berlangsung pada tanggal 17 Januari 2026 - April 2026 di Artsociates, JKT ART HUB Ranuza, 2nd floor Jl. Timor No.10, Menteng, Jakarta Pusat.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 13 Februari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, February 21, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 78)

Yearbook

Yearbook menampilkan potret-potret karya Seong Gwang Yun sebagai rekaman emosi — wajah-wajah yang terbentuk dari kata-kata yang tak terucap, dorongan yang ditahan, dan perasaan yang lama dipendam. Digambarkan dengan warna-warna ceria dan bentuk yang dilebih-lebihkan, sosok-sosok ini menyimpan jejak kecemasan, pengekangan, sekaligus humor di balik permukaannya. Secara bersama-sama, karya-karya ini membentuk semacam peta emosi kolektif — sebuah “album graduasi emosi” yang mengajak penonton untuk menghadapi hal-hal yang dulu pernah ditelan, disembunyikan, atau tidak pernah terucapkan. Pameran ini berlangsung pada tanggal 14 February - 4 April 2026 di Theo Gallery, Ranuza Building 2nd floor, JI. Timor No. 10, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat 10350.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 13 Februari 2026 (sebelum pameran dimulai).


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 77)

Liminality

Liminality adalah keadaan ketika seseorang berada di antara dua kondisi bukan lagi seperti sebelumnya, tetapi juga belum sepenuhnya menjadi sesuatu yang baru. la hadir sebagai jeda yang sering kali tidak disadari, namun terasa. Dalam fase ini, arah belum jelas, identitas terasa cair, dan kepastian seolah ditangguhkan. Kita tetap bergerak, tetapi belum sepenuhnya tahu ke mana. Liminality bukan ruang kosong, melainkan ruang yang sedang menunggu bentuk. Pameran ini berlangsung pada tanggal 12 Februari - 21 Februari 2026 di Galeri Hang Nadim, Anjungan Kampar - Komplek Purna MTQ, Kota Pekanbaru.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 18 Februari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, February 08, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 76)

Closed

Selama ribuan tahun, kertas selalu menjadi simbol dari dua hal yang bertolak belakang: sesuatu yang sementara sekaligus abadi. Naskah, surat, dan dokumen menyimpan sejarah dalam selembar kertas yang mengandung banyak makna tersembunyi. Di era sekarang, ketika budaya berbasis kertas dan bahan cetak semakin ditinggalkan, Irfan Hendrian justru terus menggunakan kertas sebagai medium utamanya, baik secara intens maupun luas. Namun, Irfan tidak sekadar bekerja di atas atau dengan kertas. Ia justru menyelami kertas itu sendiri sebagai medium. Proses berkarya—mulai dari membuat, merancang, hingga menyusun—selalu berangkat dari unit paling dasar: satu lembar kertas. Melalui karya-karya dalam pameran "Closed", Irfan berusaha membuka kembali ruang ingatan, melihat “sisi lain” dari bentuk, yang mengajak munculnya dialog alternatif dan mengungkap dimensi yang melampaui sekadar keindahan visual. 

Beberapa bentuk yang sering muncul dalam karya Irfan, seperti teralis jendela, pagar seng bergelombang, gembok, dan kunci, oleh sang seniman disebut sebagai arsitektur ketakutan. Bentuk-bentuk ini memiliki beban sejarah dan konteks tertentu, yang berangkat dari ingatan serta pengalaman Irfan terhadap kecemasan yang dialami komunitas Tionghoa di Indonesia. Secara keseluruhan, karya-karya tersebut berfungsi sebagai objek yang membangun konteks yang lebih luas, memperlihatkan makna di luar apa yang langsung terlihat secara visual. Pada akhirnya, "Closed" mengajak kita untuk melihat lebih dekat, serta berani menghadapi bayangan-bayangan dalam “luka” yang terus bertahan di dalam ingatan. Pameran ini berlangsung pada tanggal 31 Januari 2026 sampai 17 Maret di 2026 di Ara Contemporary, Jl. Tulodong Bawah I No.16, Senayan, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12190.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 05 Februari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, February 07, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 75)

New Paintings

ROH dengan bangga mempersembahkan pameran kelompok pertama tahun ini, New Paintings, yang berfokus pada karya terbaru dari Nadya Jiwa, Naotaka Hiro, Ser Serpas, Wei Jia, dan Tith Kanitha. Pameran ini menampilkan karya-karya yang lahir dari kondisi zaman saat ini, yaitu masa ketika isu tentang kebebasan individu, batas-batas tubuh, serta semakin kaburnya realitas banyak dirasakan dan diekspresikan oleh para seniman melalui material dan medium lukisan. Untuk pertama kalinya ditampilkan bersama, pameran ini menghadirkan dialog antar seniman yang terus mengeksplorasi dan mengembangkan medium lukisan, sekaligus menanggapi sejarahnya dan relevansinya dalam konteks seni kontemporer saat ini. Pameran ini berlangsung mulai tanggal 25 Januari 2026 sampai 22 Februari 2026 di ROH Projects, berlokasi di Jl. Surabaya No. 66, Jakarta Pusat.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 28 Januari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, January 31, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 74)

Small Talks For Serious Times

Lukisan-lukisan Nyoman Suarnata tidak lagi bekerja sebagai representasi langsung atas peristiwa sosial tertentu, juga tidak secara tegas mengklaim diri sebagai cermin realitas faktual yang dialami bersama pada satu ruang dan waktu yang spesifik. Pengalaman keseharian, gejolak politik, maupun tragedi kemanusiaan tidak dihadirkan sebagai laporan visual tentang "saat kini dan di sini", melainkan sebagai fragmen imaji yang dipintal ulang melalui bahasa sarkasme, humor getir, dan ironi. Dalam konteks ini, realisme yang digunakan Suarnata tidak berfungsi sebagai penjelasan, tetapi sebagai strategi visual yang justru menjaga jarak dari pengalaman hidup yang wajar dan linear. Pendekatan tersebut memperlihatkan cara kerja yang menyerupai montase: mengumpulkan, menyilangkan, dan mempertemukan berbagai simbol kekuasaan, figur prajurit, ikon budaya populer, serta imaji pahlawan dalam situasi yang ganjil dan absurd. Dunia yang dihadirkan Suarnata adalah dunia percakapan -- tempat kritik, kemarahan, dan harapan hadir tanpa tuntutan penyelesaian. Pameran ini berlangsung pada tanggal 18 Januari 2026 - 10 Februari 2026 di Galeri ZEN1, JI. Purworejo No. 24, Dukuh Atas, Menteng, Jakarta Pusat 10310.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 26 Januari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.


Sunday, January 25, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 73)

Pinata

PINATA - Herzven's Solo Exhibition

Pada 16 Juni 2025, api menghanguskan dua rumah di Depok - rumah orang tua saya dan rumah saya sendiri.Yang tersisa hanyalah keheningan, abu, dan rasa kehilangan yang sulit saya beri nama. Namun dalam sunyi setelah kehancuran itu, sesuatu bergeser. Saya mulai memahami bahwa kebakaran tersebut bukan hanya sebuah akhir, melainkan sebuah hentakan yang membelah segalanya - retakan yang membuka apa yang selama ini saya pendam. Seperti sebuah PINATA, tidak ada yang terungkap sebelum cangkangnya pecah.

Momen itu mendorong saya untuk merespons. Ia menuntut saya untuk berdiri kembali - bukan sebagai seseorang yang hancur oleh keputusasaan, tetapi sebagai seseorang yang telah melewatinya dan bangkit dengan kesadaran baru. PINATA menandai titik balik itu. Ia menyimpan pecahan-pecahan, pergeseran-pergeseran, dan awal-awal baru yang tumbuh dari kehancuran.

Pameran tunggal Herzven ini tidak hanya menghadirkan karya-karya akhirnya, tetapi juga perjalanan yang membentuknya: mural yang lahir dari kehancuran, karya yang dibentuk dari apa yang tersisa setelah api, serta dokumentasi yang mengikuti proses pemulihan perlahan. Melalui ini, saya berharap para pengunjung dapat melihat bahwa ketika hidup terbelah terbuka, ia dapat mengungkapkan sesuatu yang selama ini menunggu untuk muncul. Pameran ini berlangsung di Nirmana Falatehan Lt. 2, Blok M pada tanggal 11 Januari - 8 Februari 2026. 

Saya menghadiri pameran pada tanggal 21 Januari 2026.


--‐--‐-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Mengenai Judul Pameran "PINATA"

PINATA adalah cerminan dari perjalanan saya sendiri. Sebuah PINATA tidak mengungkapkan maknanya dengan lembut. Ia harus dipukul, dibuka, dan dipecahkan sebelum apa pun di dalamnya dapat muncul. Apa yang tersimpan di dalamnya baru terlihat setelah hantaman itu.

Hal ini selaras dengan bahasa visual dalam karya saya:rumah vang melambanakan asal-usul dan identitas saya, serta bunga dan tanaman yang tumbuh sebagai simbol pembaruan yang menerobos lewat celah-celah. Bersama, semuanya mengingatkan kita bahwa ketika sesuatu pecah, awal dari sesuatu yang baru sebenarnya sudah mulai terbentuk.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.