Sunday, May 10, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 85)

The Superlative Artistry of Japan

The Japan Foundation adalah badan pemerintah khusus yang didirikan pada tahun 1972 dengan tujuan mempromosikan pemahaman internasional melalui pertukaran budaya. Badan ini menyelenggarakan berbagai proyek di tiga bidang utama kegiatan: pertukaran seni dan budaya, pendidikan bahasa Jepang di luar negeri, serta studi Jepang dan pertukaran intelektual. Di bidang seni rupa, yang merupakan bagian dari program pertukaran seni dan budaya kami, kami berupaya memperkenalkan seni Jepang melalui pertukaran timbal balik antara Jepang dan negara-negara lain.

Sebagai bagian dari kegiatan ini, kami secara rutin menyelenggarakan pameran keliling yang berkunjung ke berbagai penjuru dunia. Pameran ini menampilkan karya-karya dari koleksi Japan Foundation sendiri dan mencakup beragam tema, termasuk kerajinan tangan, lukisan, fotografi, arsitektur, dan desain. Sekitar 20 pameran sedang berlangsung secara bersamaan dan diselenggarakan di sekitar 100 kota setiap tahunnya. 

Pada kesempatan ini, kami dengan bangga mempersembahkan "The Superlative Artistry of Japan", sebuah pameran keliling yang menampilkan koleksi terpadu berupa karya dari berbagai jenis bahan yang sangat menekankan pada teknik yang sangat mahir, ekspresi dan konsep yang terampil, serta tingkat kesempurnaan tinggi yang memukau pengunjung. Dimulai dengan memperkenalkan karya-karya kogei era Meiji (1868-1912) yang memiliki peran penting dalam memicu tren Japonisme di Eropa abad ke-19, pameran ini tidak hanya menampilkan berbagai karya seni kontemporer tingkat tinggi, tetapi juga mencakup figur mainan kapsul dan sampel makanan yang menggambarkan komitmen yang kuat terhadap keahlian kerajinan. 

Melalui pameran ini, kami bermaksud memperkenalkan teknik-teknik tingkat tinggi dari setiap karya serta berbagai bentuk ekspresi yang bahkan melampaui keterampilan dan keahlian tersebut, dengan harapan para pengunjung dapat menghargai bagian khusus dari budaya kreatif Jepang yang menghormati keahlian kerajinan dan secara konsisten menunjukkan ketelitian serta dedikasi yang mendalam terhadap proses produksi. 

Kami juga ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada Bapak Yuji Yamashita yang berperan sebagai supervisor pameran, para seniman yang dengan baik hati bersedia memamerkan karya-karya mereka, serta kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, bantuan, dan kontribusi yang begitu besar. Pameran ini berlangsung pada tanggal 05 - 25 Mei 2026 di Sakura Hall, The Japan Foundation, Jakarta.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 08 Mei 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, May 09, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 84)

Incidental States, Their Remains

Daya cipta jarang terbentuk oleh peristiwa besar semata. Lebih sering, ia tersusun dari situasi-kondisi kecil yang datang tiba-tiba: ritme yang berulang, jeda yang nyaris tak terasa suasana yang bergeser pelan, atau perjumpaan singkat dengan material, ruang, dan ingatan. Hal-hal semacam ini sering luput dari perhatian ketika terjadi, tetapi justru di sanalah kekaryaan meninggalkan bekasnya. 

Pameran Incidental States, Their Remains berangkat dari perhatian pada bekas-bekas tersebut. Bukan pada peristiwa sebagai pusat makna, melainkan pada sisa yang tertinggal setelahnya--residu pengalaman, fragmen visual, atau jejak material yang mengendap dalam karya. Dalam konteks ini karya seni menjadi wadah, di mana keadaan-keadaan yang pernah lewat dapat dibaca kembali bukan sebagai cerita lengkap, tetapi sebagai bentuk yang menyimpan ingatan akan sesuatu yang pernah terjadi. 

Dalam praktik Cecil Mariani, keadaan tersebut sering muncul sebagai gambar yang berada di antara realitas dan imajinasi, menghadirkan fragmen pengalaman batin yang mendasar pada simbol maupun mitologi. Erik Rifky Prayudhi bekerja melalui transformasi visual yang mempertemukan idiom naturalistik dengan yang sintetik, memperlihatkan bagaimana garis dan bentuk dapat terus berubah melalui proses translasi material. Pada Taufiq HT, ruang dihadirkan melalui flora, fauna, dekorasi warna, dan perkakas; permainan perspektif dalam karyanya menunjukkan bahwa kenyamanan ruang bersifat relatif. 

Dalam karya Chakra Narasangga, drawing menjadi medium rekaman batin dan perubahan kondisi gelap terang, guratannya intens dan atmosferik. Hilman Hendarsyah melihat patahan sebagai metafora manusia dan lingkungannya--seperti kayu yang masih bertahan namun perlahan tergerus tekanan dan pelapukan. Sementara Reggie Aquara menangkap spontanitas melalui impasto yang padat dan taktil, di mana tumpukan cat meninggalkan gumpalan piksel yang emosional di permukaan lukisan. 

Melalui pendekatan yang masing-masing berbeda, keenam seniman ini memperlihatkan bahwa yang tertinggal dari kehidupan sering bukan peristiwanya melainkan keadaan-keadaan kecil yang melintas dan meninggalkan kesadaran estetik. Dari lintasan itulah kita mulai merasakan kembali keseharian kekaryaan--bukan sebagai rutinitas yang datar, tetapi sebagai bentuk kehidupan: elusif, bergerak, dan selalu mengajukan untuk dimaknai ulang. Pameran ini berlangsung pada tanggal 11 April 2026 - Mei 2026 di Ranuza Building, 2nd Floor, Jl. Timor No 10 Menteng, Jakarta.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 08 Mei 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 83)

She Lit My Mouth Without a Word

Pameran tunggal pertama dari Sasi Organ ini menampilkan rangkaian lukisan cat minyak, instalasi kinetik, patung, dan karya berbasis teks. Pameran ini menjadi penanda tiga tahun sejak sang seniman kembali ke Thailand, tanah kelahiran ibunya. Melalui tema tentang hasrat dan kehilangan yang terus berulang, pameran ini menghadirkan pengalaman yang kuat secara inderawi dan psikologis, yang dibentuk oleh ingatan, ritual, dan tubuh.

Dalam seluruh pameran, yang dipengaruhi oleh latar belakang Thai-British miliknya, Sasi Organ menggunakan berbagai benda dan material dari kedua budaya tersebut. Ia mengolah dan menempatkannya kembali sebagai pembawa sejarah pribadi maupun sejarah bersama. Salah satu unsur yang terus dieksplorasi adalah buah pinang (betel nut), yang bagi Sasi Organ memiliki makna kuat karena menggambarkan perubahan tubuh sekaligus perubahan nilai budaya dari waktu ke waktu. 

Berbagai elemen ini tidak hanya berfungsi sebagai simbol, tetapi juga sebagai wadah ingatan yang melekat pada pengalaman tubuh, tempat di mana kedekatan, kedisiplinan, dan warisan keluarga saling bertemu. Melalui pendekatan ini, Sasi Organ merefleksikan hubungan keluarga dan pewarisan budaya yang rumit, di mana kasih sayang dan batasan sering hadir secara bersamaan. Unsur api muncul sebagai elemen penting yang terus berulang dalam pameran ini, hadir dalam tindakan yang bersifat pribadi maupun ritual. Api muncul dalam bentuk perawatan, perubahan, disiplin, dan juga dalam praktik Yu Fai, yaitu tradisi perawatan ibu setelah melahirkan di Thailand. Sebagai sumber kehangatan sekaligus kekuatan yang dapat menghancurkan, api menjadi metafora yang terus berubah—bergerak antara kepedulian dan keretakan, kehidupan dan kehancuran. Karena itu, pameran ini tidak dibangun melalui cahaya yang terang dan pasti, melainkan melalui nyala api yang tidak stabil, di mana apa yang terlihat hanya sebagian dan makna terus berubah.

Pada akhirnya, “She lit my mouth without a word” membahas bagaimana ingatan disimpan, berubah, dan hidup dalam diri seseorang—tentang apa yang tetap dipertahankan, apa yang perlahan memudar, dan apa yang terus membentuk jati diri seseorang. Pameran ini berlangsung pada tanggal 11 April 2026 - 10 Mei 2026 di Ara Contemporary, Jl. Tulodong Bawah I No.16, RT.3, Senayan, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 06 Mei 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.