She Lit My Mouth Without a Word
Pameran tunggal pertama dari Sasi Organ ini menampilkan rangkaian lukisan cat minyak, instalasi kinetik, patung, dan karya berbasis teks. Pameran ini menjadi penanda tiga tahun sejak sang seniman kembali ke Thailand, tanah kelahiran ibunya. Melalui tema tentang hasrat dan kehilangan yang terus berulang, pameran ini menghadirkan pengalaman yang kuat secara inderawi dan psikologis, yang dibentuk oleh ingatan, ritual, dan tubuh.
Dalam seluruh pameran, yang dipengaruhi oleh latar belakang Thai-British miliknya, Sasi Organ menggunakan berbagai benda dan material dari kedua budaya tersebut. Ia mengolah dan menempatkannya kembali sebagai pembawa sejarah pribadi maupun sejarah bersama. Salah satu unsur yang terus dieksplorasi adalah buah pinang (betel nut), yang bagi Sasi Organ memiliki makna kuat karena menggambarkan perubahan tubuh sekaligus perubahan nilai budaya dari waktu ke waktu.
Berbagai elemen ini tidak hanya berfungsi sebagai simbol, tetapi juga sebagai wadah ingatan yang melekat pada pengalaman tubuh, tempat di mana kedekatan, kedisiplinan, dan warisan keluarga saling bertemu. Melalui pendekatan ini, Sasi Organ merefleksikan hubungan keluarga dan pewarisan budaya yang rumit, di mana kasih sayang dan batasan sering hadir secara bersamaan. Unsur api muncul sebagai elemen penting yang terus berulang dalam pameran ini, hadir dalam tindakan yang bersifat pribadi maupun ritual. Api muncul dalam bentuk perawatan, perubahan, disiplin, dan juga dalam praktik Yu Fai, yaitu tradisi perawatan ibu setelah melahirkan di Thailand. Sebagai sumber kehangatan sekaligus kekuatan yang dapat menghancurkan, api menjadi metafora yang terus berubah—bergerak antara kepedulian dan keretakan, kehidupan dan kehancuran. Karena itu, pameran ini tidak dibangun melalui cahaya yang terang dan pasti, melainkan melalui nyala api yang tidak stabil, di mana apa yang terlihat hanya sebagian dan makna terus berubah.
Pada akhirnya, “She lit my mouth without a word” membahas bagaimana ingatan disimpan, berubah, dan hidup dalam diri seseorang—tentang apa yang tetap dipertahankan, apa yang perlahan memudar, dan apa yang terus membentuk jati diri seseorang. Pameran ini berlangsung pada tanggal 11 April 2026 - 10 Mei 2026 di Ara Contemporary, Jl. Tulodong Bawah I No.16, RT.3, Senayan, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan.
Saya menghadiri pameran pada tanggal 06 Mei 2026.
Note :
Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

No comments:
Post a Comment