Beyond the Frame
Seni kontemporer telah lama menantang anggapan bahwa lukisan hanyalah sebuah citra yang hadir di dalam bidang persegi. Kini, para seniman tidak lagi hanya mempertanyakan apa yang direpresentasikan, tetapi juga bagaimana sebuah karya terbentuk melalui material, struktur, dan kehadiran fisiknya. Dalam Beyond the Frame, permukaan lukisan tidak lagi diperlakukan sebagai sekadar media penopang, melainkan menjadi bagian yang aktif dalam membentuk makna. Di sinilah batas antara citra, objek, dan medium mulai menjadi semakin cair.
Menghadirkan karya-karya Gandari Irianti, Rafli Piu, dan Wira Liandy, pameran ini memperlihatkan bagaimana masing-masing seniman menegosiasikan kembali konvensi medium yang mereka pilih. Meski berangkat dari pendekatan yang berbeda, ketiganya sama-sama melihat bentuk yang diwariskan bukan sebagai sesuatu yang baku. Kanvas, papan, maupun berbagai permukaan yang mereka bangun kembali diregangkan, ditumpuk, dipahat, disusun, dan dibentuk ulang hingga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gagasan yang mereka bawa.
Bagi Wira Liandy, transformasi kanvas menjadi cerminan lanskap psikologis yang hadir dalam karyanya. Siluet-siluet yang keluar dari bentuk persegi konvensional merefleksikan identitas yang terus dibentuk oleh mekanisme pertahanan diri, ekspektasi, dan pengalaman hidup. Bentuk akhirnya menjadi perpanjangan tubuh—sesuatu yang dikenakan, dihuni, dan perlahan terus berubah.
Dalam praktik Gandari Irianti, lukisan berkembang menjadi ruang-ruang arsitektural yang sunyi. Melalui susunan papan PVC berlapis yang dikerjakan dengan cermat, ia membangun ruang-ruang kecil yang berada di antara ingatan dan imajinasi. Kedalaman fisik setiap karya menjadi metafora bagi lapisan emosional tentang rumah, mengajak pengunjung menyusuri ruang tempat sejarah personal dan lanskap batin saling beririsan.
Sementara itu, Rafli Piu memulai praktiknya dari bentuk persegi sebagai arketipe medium lukis, lalu mengintervensinya melalui potongan, perpanjangan, dan penyusunan ulang bentuk. Mengadopsi logika perancangan karakter, ia mengubah kanvas menjadi objek yang memiliki identitasnya sendiri tanpa sepenuhnya melepaskan jejak bentuk asalnya. Dengan memperlakukan cat, kanvas, dan rangka sebagai elemen-elemen yang memiliki perannya masing-masing, Rafli mengaburkan batas antara lukisan, objek, dan komoditas. Melalui pendekatan ini, ia merefleksikan bagaimana karya seni beredar, memperoleh nilai, dan dikonsumsi dalam budaya visual kontemporer.
Yang mempertemukan ketiga praktik ini bukan sekadar semangat bereksperimen, melainkan keyakinan bahwa setiap pilihan material selalu membawa makna. Setiap tepian yang diubah, permukaan yang dilapisi, hingga bentuk yang direkonstruksi menjadi bagian dari bahasa visual yang mereka bangun. Di sini, inovasi bukan hanya persoalan estetika, tetapi juga cara berpikir yang membuka ruang bagi narasi personal, ruang, maupun budaya untuk hadir melalui transformasi material yang kita kenal sehari-hari.
Alih-alih hanya mengajak pengunjung melihat gambar di permukaan, Beyond the Frame mengundang kita untuk memperhatikan lukisan sebagai sebuah objek—kontur, konstruksi, dan keberaniannya melampaui batas-batas yang selama ini kita anggap lazim. Pada akhirnya, pameran ini mengingatkan bahwa makna tidak selalu berada pada apa yang direpresentasikan. Terkadang, medium itu sendirilah yang bercerita. Pameran ini berlangsung pada tanggal 11 Juli 2026 sampai 11 Agustus 2026 di Art WeMe Contemporary, Wisma Geha 3rd Floor.
Saya menghadiri pameran pada tanggal 17 Juli 2026.
Note :
Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

No comments:
Post a Comment