Saturday, May 09, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 84)

Incidental States, Their Remains

Daya cipta jarang terbentuk oleh peristiwa besar semata. Lebih sering, ia tersusun dari situasi-kondisi kecil yang datang tiba-tiba: ritme yang berulang, jeda yang nyaris tak terasa suasana yang bergeser pelan, atau perjumpaan singkat dengan material, ruang, dan ingatan. Hal-hal semacam ini sering luput dari perhatian ketika terjadi, tetapi justru di sanalah kekaryaan meninggalkan bekasnya. 

Pameran Incidental States, Their Remains berangkat dari perhatian pada bekas-bekas tersebut. Bukan pada peristiwa sebagai pusat makna, melainkan pada sisa yang tertinggal setelahnya--residu pengalaman, fragmen visual, atau jejak material yang mengendap dalam karya. Dalam konteks ini karya seni menjadi wadah, di mana keadaan-keadaan yang pernah lewat dapat dibaca kembali bukan sebagai cerita lengkap, tetapi sebagai bentuk yang menyimpan ingatan akan sesuatu yang pernah terjadi. 

Dalam praktik Cecil Mariani, keadaan tersebut sering muncul sebagai gambar yang berada di antara realitas dan imajinasi, menghadirkan fragmen pengalaman batin yang mendasar pada simbol maupun mitologi. Erik Rifky Prayudhi bekerja melalui transformasi visual yang mempertemukan idiom naturalistik dengan yang sintetik, memperlihatkan bagaimana garis dan bentuk dapat terus berubah melalui proses translasi material. Pada Taufiq HT, ruang dihadirkan melalui flora, fauna, dekorasi warna, dan perkakas; permainan perspektif dalam karyanya menunjukkan bahwa kenyamanan ruang bersifat relatif. 

Dalam karya Chakra Narasangga, drawing menjadi medium rekaman batin dan perubahan kondisi gelap terang, guratannya intens dan atmosferik. Hilman Hendarsyah melihat patahan sebagai metafora manusia dan lingkungannya--seperti kayu yang masih bertahan namun perlahan tergerus tekanan dan pelapukan. Sementara Reggie Aquara menangkap spontanitas melalui impasto yang padat dan taktil, di mana tumpukan cat meninggalkan gumpalan piksel yang emosional di permukaan lukisan. 

Melalui pendekatan yang masing-masing berbeda, keenam seniman ini memperlihatkan bahwa yang tertinggal dari kehidupan sering bukan peristiwanya melainkan keadaan-keadaan kecil yang melintas dan meninggalkan kesadaran estetik. Dari lintasan itulah kita mulai merasakan kembali keseharian kekaryaan--bukan sebagai rutinitas yang datar, tetapi sebagai bentuk kehidupan: elusif, bergerak, dan selalu mengajukan untuk dimaknai ulang. Pameran ini berlangsung pada tanggal 11 April 2026 - Mei 2026 di Ranuza Building, 2nd Floor, Jl. Timor No 10 Menteng, Jakarta.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 08 Mei 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 83)

She Lit My Mouth Without a Word

Pameran tunggal pertama dari Sasi Organ ini menampilkan rangkaian lukisan cat minyak, instalasi kinetik, patung, dan karya berbasis teks. Pameran ini menjadi penanda tiga tahun sejak sang seniman kembali ke Thailand, tanah kelahiran ibunya. Melalui tema tentang hasrat dan kehilangan yang terus berulang, pameran ini menghadirkan pengalaman yang kuat secara inderawi dan psikologis, yang dibentuk oleh ingatan, ritual, dan tubuh.

Dalam seluruh pameran, yang dipengaruhi oleh latar belakang Thai-British miliknya, Sasi Organ menggunakan berbagai benda dan material dari kedua budaya tersebut. Ia mengolah dan menempatkannya kembali sebagai pembawa sejarah pribadi maupun sejarah bersama. Salah satu unsur yang terus dieksplorasi adalah buah pinang (betel nut), yang bagi Sasi Organ memiliki makna kuat karena menggambarkan perubahan tubuh sekaligus perubahan nilai budaya dari waktu ke waktu. 

Berbagai elemen ini tidak hanya berfungsi sebagai simbol, tetapi juga sebagai wadah ingatan yang melekat pada pengalaman tubuh, tempat di mana kedekatan, kedisiplinan, dan warisan keluarga saling bertemu. Melalui pendekatan ini, Sasi Organ merefleksikan hubungan keluarga dan pewarisan budaya yang rumit, di mana kasih sayang dan batasan sering hadir secara bersamaan. Unsur api muncul sebagai elemen penting yang terus berulang dalam pameran ini, hadir dalam tindakan yang bersifat pribadi maupun ritual. Api muncul dalam bentuk perawatan, perubahan, disiplin, dan juga dalam praktik Yu Fai, yaitu tradisi perawatan ibu setelah melahirkan di Thailand. Sebagai sumber kehangatan sekaligus kekuatan yang dapat menghancurkan, api menjadi metafora yang terus berubah—bergerak antara kepedulian dan keretakan, kehidupan dan kehancuran. Karena itu, pameran ini tidak dibangun melalui cahaya yang terang dan pasti, melainkan melalui nyala api yang tidak stabil, di mana apa yang terlihat hanya sebagian dan makna terus berubah.

Pada akhirnya, “She lit my mouth without a word” membahas bagaimana ingatan disimpan, berubah, dan hidup dalam diri seseorang—tentang apa yang tetap dipertahankan, apa yang perlahan memudar, dan apa yang terus membentuk jati diri seseorang. Pameran ini berlangsung pada tanggal 11 April 2026 - 10 Mei 2026 di Ara Contemporary, Jl. Tulodong Bawah I No.16, RT.3, Senayan, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 06 Mei 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, April 12, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 82)

Food for Thought

Ada sesuatu yang selalu kita konsumsi tanpa benar-benar kita sadari: prosesnya. Makanan hadir sebagai hasil akhir, sementara kerja di baliknya kerap luput dari perhatian. Hal yang sama terjadi dalam seni rupa: yang terlihat adalah karya, bukan bagaimana ia dipilih, diolah, diuji, dan diberi nilai. 

Food for Thought bekerja pada dua ranah sekaligus. Pertama, ia membaca praktik seni rupa sebagai proses transformasi dari bahan menjadi bentuk. Kedua, ia menempatkan konsumsi sebagai lensa untuk melihat bagaimana makna dan nilai diproduksi serta diterima. 

Struktur pameran ini mengikuti alur pengolahan tersebut: Ingredient, Appetizer, Main Course, Dessert, Plating, dan Aftertaste. Pembagian ini bukan sekadar permainan istilah kuliner, melainkan pendekatan kuratorial untuk membaca tahapan transformasi dalam praktik artistik. Pameran ini berlangsung pada tanggal 07 Maret 2026 - 30 April 2026 di D Gallerie, Jl. Barito I No.3, Jakarta Selatan.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 10 April 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 81)

Biophilia: Exquisite Corpse

ISA Art Gallery membagikan dokumentasi instlasi pameran “Biophilia: Exquisite Corpse”. Pameran ini terinspirasi dari permainan seni surealis bernama Exquisite Corpse, yaitu permainan yang berkembang secara spontan dan tidak terduga. Karya-karyanya tersusun sedikit demi sedikit, seperti riak air yang menyebar atau lingkaran pohon yang terus bertambah seiring waktu. Melalui pameran ini, para seniman mengajak kita melihat siklus pertumbuhan dan kerusakan di alam. Tubuh, sistem, dan lingkungan digambarkan sebagai sesuatu yang selalu berubah. Pameran ini juga mengingatkan kita bahwa kehidupan bergantung pada keseimbangan yang rapuh, sehingga kita perlu lebih peduli terhadap hubungan kita dengan alam dan ekosistem tempat kita hidup. 

Seri pameran yang diadakan setiap dua tahun ini berfokus pada isu lingkungan. Tahun ini, Exquisite Corpse menghadirkan karya dari Arahmaiani, Dabi Arnasa, Anang Saptoto, CynthIa Delaney Suwito, Fitri DK, Kynan Tegar x Studio Birthplace x Novo Amor, Mater Design Lab, Reza Kutih, dan Teguh Ostenrik. Mereka bersama-sama mengeksplorasi bagaimana manusia dan alam saling terhubung dan saling bergantung. Pameran berlangsung pada tanggal 14 Februari 2026 sampai 16 April 2026 di ISA Art Gallery, Wisma 46, Jakarta Pusat.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 27 Februari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, March 01, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 80)

Inner Sight

RB. Mamet Swalle, yang lebih dikenal dengan nama sapaan RB Ali, adalah pelukis yang juga gemar menulis puisi. Ekspresi lukisan-lukisan Ali, terutama yang dipamerkan kini, pun banyak mengandung ungkapan tulisan atau huruf. Karya-karya yang ditunjukkan ini merujuk pada renungan perjalanan hidup RB Ali dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Ada rentetan peristiwa penting dan menentukan alur hidup Ali pada masa-masa itu. 

Banyak orang mafhum bahwa 'kehidupan manusia adalah panggung sandiwara', dan bagi Ali, panggung itu juga mementaskan narasi getir dalam hidup yang justru memicunya menjadi sumber penciptaan karya. Lukisan Ali mengandung narasi dengan ungkapan yang puitik. Ada banyak gambaran tentang sosok manusia, selain benda-benda atau bentuk-bentuk 'asing' yang ia ciptakan secara kreatif. 

Proses deformasi bentuk yang dikerjakan Ali ditempatkan dalam susunan komposisi bidang kanvas yang dipertimbangkan menjadi harmonis. Ekspresi lukisan Ali, nampaknya, menyerap namun memantulkan secara unik pengaruh kecenderungan bebas gerakan seni surealisme (khususnya karya Joan Miro), serta pertimbangan struktural abstrakisme Georges Braque (namun dengan karakter komposisi warna yang tidak sama). Menghubungkan dua pendekatan proses penciptaan seni yang berkarakter berbeda itu akhirnya menghasilkan karakter ekspresi yang unik dan khas pada lukisan Ali. 

Ada soal kontras di situ, tentang memadukan dua hal yang umumnya dianggap bertentangan dan tak bisa dihubungkan. Inner Sight RB Ali justru menciptakan caranya sendiri. Ali percaya bahwa tiap tragedi hidup seseorang tak hanya menambat jeruji eligi duka, tetapi juga memendam energi cita yang bersifat membebaskan, memberikan daya pertumbuhan hidup yang mengubah dan memperbarui diri. Ekspresi lukisan-lukisan Ali mencari dan menggali dimensi keindahan dalam harmoni perjumpaan antara bentuk-bentuk yang literal (tulisan, huruf, angka) dengan yang visual (deformasi bentuk), antara ekspresi naratif dengan aspek puitis, serta memadukan masalah kontras antara bidang-bidang terang dan gelap. 

Ekspresi Inner Sight RB Ali, pada akhirnya, bukan soal refleksi mengenai narasi pengalaman dirinya sendiri, melainkan justru soal pengalaman pergulatan menjadi manusia agar mampu bertahan selaras dalam aliran hidup. Energi hidup, secara misterius dan tersembunyi, justru 'memandu' kreativitas manusia agar mampu melampaui babak-babak perubahan dan pembaruan diri dalam siklus kehidupan. Pameran ini berlangsung di Galeri ZEN1, JI. Purworejo No. 24, Dukuh Atas, Menteng Jakarta Pusat 10310 pada tanggal 13 Februari 2026 sampai 10 Maret 2026.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 24 Februari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, February 22, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 79)

View/Preview '26

View/Preview '26 menjadi tonggak penting bagi ArtSociates. Pameran ini merupakan presentasi perdana yang diselenggarakan di ruang terbaru kami di Jakarta. Setelah 19 tahun berkiprah di dunia seni Bandung, pada tahun 2026 ArtSociates melakukan ekspansi strategis ke ibu kota, tepatnya berlokasi di Jakarta Art Hub 2, Gedung Ranuza Thamrin, Jakarta Pusat. 

Sebagai judul, View/Preview 26 dirancang untuk menjadi jendela sekaligus gambaran arah perjalanan artistik yang akan kami tempuh sepanjang tahun ini. Pameran ini menampilkan pilihan karya dari para seniman yang akan bekerja sama dengan kami dalam berbagai proyek mendatang. Kami menghadirkan karya Gregorius Sidharta, Umi Dachlan, Lian Sahar, dan Mujahidin Nurrahman — sebagai kelanjutan narasi dari pameran “Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme” yang saat ini berlangsung di Salihara Community. Selain itu, kami juga menampilkan karya Dzikra Afifah dan Louise Henryette sebagai pengantar menuju pameran mereka di ArtSociates Bandung pada akhir Januari 2026. 

Spektrum pameran ini juga mencakup karya Fadjar Sidik, Aming Prayitno, Maharani Mancanagara, Meliantha Muliawan, dan Rendy Raka Pramudya, yang dipersiapkan untuk partisipasi kami dalam Art Jakarta Papers. Lebih jauh lagi, kami juga menghadirkan pratinjau pameran tunggal yang akan datang di ArtSociates Bandung dari sejumlah seniman dengan karakter beragam: Daniel Kho, Alessio Ceruti, Ugo Untoro, Agnes Hansella, Dwipuspita Pangastuti, dan Endang Lestari. Khusus untuk ruang Jakarta, kami memamerkan karya Nesar Eesar dan Eddy Susanto, yang dijadwalkan akan menggelar pameran tunggal di galeri ini pada tahun ini. 

Kami juga secara khusus menampilkan karya video dari Hoo Fan Chon, yang akan menjadi bagian dari pameran mendatang di ArtSociates Bandung, dikurasi oleh Gunalan Nadarajan (salah satu juri BaCAA 8) dan dikuratori bersama oleh Roopesh Sitharan. Sebagai pelengkap visi tahun ini, kami menampilkan eksplorasi estetika para seniman Bali dalam proyek pameran “Post-Tradisi” di ArtSociates Bandung, yang diwakili oleh Darmika Solar, Made Chandra, Kadek Dwi Darmawan, dan Kuncir Sathya Viku. Kami berharap View/Preview 26 dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai visi dan agenda artistik ArtSociates sepanjang tahun 2026. Pameran ini berlangsung pada tanggal 17 Januari 2026 - April 2026 di Artsociates, JKT ART HUB Ranuza, 2nd floor Jl. Timor No.10, Menteng, Jakarta Pusat.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 13 Februari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, February 21, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 78)

Yearbook

Yearbook menampilkan potret-potret karya Seong Gwang Yun sebagai rekaman emosi — wajah-wajah yang terbentuk dari kata-kata yang tak terucap, dorongan yang ditahan, dan perasaan yang lama dipendam. Digambarkan dengan warna-warna ceria dan bentuk yang dilebih-lebihkan, sosok-sosok ini menyimpan jejak kecemasan, pengekangan, sekaligus humor di balik permukaannya. Secara bersama-sama, karya-karya ini membentuk semacam peta emosi kolektif — sebuah “album graduasi emosi” yang mengajak penonton untuk menghadapi hal-hal yang dulu pernah ditelan, disembunyikan, atau tidak pernah terucapkan. Pameran ini berlangsung pada tanggal 14 February - 4 April 2026 di Theo Gallery, Ranuza Building 2nd floor, JI. Timor No. 10, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat 10350.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 13 Februari 2026 (sebelum pameran dimulai).


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 77)

Liminality

Liminality adalah keadaan ketika seseorang berada di antara dua kondisi bukan lagi seperti sebelumnya, tetapi juga belum sepenuhnya menjadi sesuatu yang baru. la hadir sebagai jeda yang sering kali tidak disadari, namun terasa. Dalam fase ini, arah belum jelas, identitas terasa cair, dan kepastian seolah ditangguhkan. Kita tetap bergerak, tetapi belum sepenuhnya tahu ke mana. Liminality bukan ruang kosong, melainkan ruang yang sedang menunggu bentuk. Pameran ini berlangsung pada tanggal 12 Februari - 21 Februari 2026 di Galeri Hang Nadim, Anjungan Kampar - Komplek Purna MTQ, Kota Pekanbaru.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 18 Februari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, February 08, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 76)

Closed

Selama ribuan tahun, kertas selalu menjadi simbol dari dua hal yang bertolak belakang: sesuatu yang sementara sekaligus abadi. Naskah, surat, dan dokumen menyimpan sejarah dalam selembar kertas yang mengandung banyak makna tersembunyi. Di era sekarang, ketika budaya berbasis kertas dan bahan cetak semakin ditinggalkan, Irfan Hendrian justru terus menggunakan kertas sebagai medium utamanya, baik secara intens maupun luas. Namun, Irfan tidak sekadar bekerja di atas atau dengan kertas. Ia justru menyelami kertas itu sendiri sebagai medium. Proses berkarya—mulai dari membuat, merancang, hingga menyusun—selalu berangkat dari unit paling dasar: satu lembar kertas. Melalui karya-karya dalam pameran "Closed", Irfan berusaha membuka kembali ruang ingatan, melihat “sisi lain” dari bentuk, yang mengajak munculnya dialog alternatif dan mengungkap dimensi yang melampaui sekadar keindahan visual. 

Beberapa bentuk yang sering muncul dalam karya Irfan, seperti teralis jendela, pagar seng bergelombang, gembok, dan kunci, oleh sang seniman disebut sebagai arsitektur ketakutan. Bentuk-bentuk ini memiliki beban sejarah dan konteks tertentu, yang berangkat dari ingatan serta pengalaman Irfan terhadap kecemasan yang dialami komunitas Tionghoa di Indonesia. Secara keseluruhan, karya-karya tersebut berfungsi sebagai objek yang membangun konteks yang lebih luas, memperlihatkan makna di luar apa yang langsung terlihat secara visual. Pada akhirnya, "Closed" mengajak kita untuk melihat lebih dekat, serta berani menghadapi bayangan-bayangan dalam “luka” yang terus bertahan di dalam ingatan. Pameran ini berlangsung pada tanggal 31 Januari 2026 sampai 17 Maret di 2026 di Ara Contemporary, Jl. Tulodong Bawah I No.16, Senayan, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12190.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 05 Februari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, February 07, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 75)

New Paintings

ROH dengan bangga mempersembahkan pameran kelompok pertama tahun ini, New Paintings, yang berfokus pada karya terbaru dari Nadya Jiwa, Naotaka Hiro, Ser Serpas, Wei Jia, dan Tith Kanitha. Pameran ini menampilkan karya-karya yang lahir dari kondisi zaman saat ini, yaitu masa ketika isu tentang kebebasan individu, batas-batas tubuh, serta semakin kaburnya realitas banyak dirasakan dan diekspresikan oleh para seniman melalui material dan medium lukisan. Untuk pertama kalinya ditampilkan bersama, pameran ini menghadirkan dialog antar seniman yang terus mengeksplorasi dan mengembangkan medium lukisan, sekaligus menanggapi sejarahnya dan relevansinya dalam konteks seni kontemporer saat ini. Pameran ini berlangsung mulai tanggal 25 Januari 2026 sampai 22 Februari 2026 di ROH Projects, berlokasi di Jl. Surabaya No. 66, Jakarta Pusat.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 28 Januari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.