Sunday, June 07, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 86)

Hypnagogia | Tracing Time

Ara Contemporary mempersembahkan Hypnagogia | Tracing Time, sebuah pameran tunggal karya Albert Yonathan Setyawan, seorang seniman asal Bandung, Indonesia yang berbasis di Tokyo, Jepang. Pameran yang berlangsung pada tanggal 23 Mei - 27 Juni 2026 ini mengeksplorasi pertanyaan tentang eksistensi dalam ruang dan waktu melalui karya-karya terakota, gambar, dan video yang dibentuk oleh pengulangan, proses material, dan gestur meditatif. 

Kualitas meditatif meresap dalam praktik Albert, yang terlihat tidak hanya pada karya fisiknya sendiri, tetapi juga pada proses berulang dan padat karya yang dilaluinya. Sejak 2018, Albert secara eksklusif bekerja dengan terakota, material yang menurutnya terkait erat dengan akar budaya dan geografisnya. Telah lama dikaitkan dengan benda-benda rumah tangga dalam tradisi tembikar Indonesia, terakota membawa resonansi fisik dan historis dalam praktiknya. 

Melalui tanah liat, Albert merenungkan pertanyaan filosofis seputar waktu, keberadaan, dan eksistensi. Inti dari pameran ini adalah keterlibatan Albert yang berkelanjutan dengan pengulangan melalui teknik pengecoran slip, sebuah teknik yang secara luas dikaitkan dengan produksi dan replikasi industri. 

Eksplorasi ini diwujudkan dalam Annica, sebuah karya yang terdiri dari 310 keping terakota yang direplikasi melalui teknik pengecoran slip menggunakan satu cetakan. Karena setiap hasil coran secara bertahap kehilangan detail dan definisi melalui penggunaan berulang, karya ini merefleksikan transformasi, dan pada saat yang sama, menampilkan catatan waktu melalui kehadiran material. Annica menjadi pengamatan terhadap segala sesuatu yang berubah di sekitar kita. Untuk menyelesaikan Anicca diperlukan waktu 3 sampai 4 bulan.

Melalui karya Hypnagogia, Albert lebih jauh mengeksplorasi tema perubahan melalui komposisi modular yang berasal dari ruang arsitektur dan interior. Bentuk geometris yang berulang disusun menjadi susunan spasial yang terfragmentasi, terinspirasi oleh perkembangan pesat lanskap kota dari waktu ke waktu, yang akhirnya kehilangan koherensi.  

Pameran ini juga menampilkan Squaring the Circle - Circling the Square, sebuah karya video tiga saluran yang mendokumentasikan upaya berulang Albert untuk mengubah kubus menjadi bola dan sebaliknya, dari bola menjadi kubus. Kegagalan yang berulang tersebut menyoroti runtuhnya sistem ideal ketika mengalami pengulangan, perluasan, dan waktu. Melalui karya-karya ini, Hypnagogia | Tracing Time pada akhirnya merefleksikan hakikat eksistensi dalam menghadapi ketidakmungkinan untuk lepas dari waktu dan ruang.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 02 Juni 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, May 10, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 85)

The Superlative Artistry of Japan

The Japan Foundation adalah badan pemerintah khusus yang didirikan pada tahun 1972 dengan tujuan mempromosikan pemahaman internasional melalui pertukaran budaya. Badan ini menyelenggarakan berbagai proyek di tiga bidang utama kegiatan: pertukaran seni dan budaya, pendidikan bahasa Jepang di luar negeri, serta studi Jepang dan pertukaran intelektual. Di bidang seni rupa, yang merupakan bagian dari program pertukaran seni dan budaya kami, kami berupaya memperkenalkan seni Jepang melalui pertukaran timbal balik antara Jepang dan negara-negara lain.

Sebagai bagian dari kegiatan ini, kami secara rutin menyelenggarakan pameran keliling yang berkunjung ke berbagai penjuru dunia. Pameran ini menampilkan karya-karya dari koleksi Japan Foundation sendiri dan mencakup beragam tema, termasuk kerajinan tangan, lukisan, fotografi, arsitektur, dan desain. Sekitar 20 pameran sedang berlangsung secara bersamaan dan diselenggarakan di sekitar 100 kota setiap tahunnya. 

Pada kesempatan ini, kami dengan bangga mempersembahkan "The Superlative Artistry of Japan", sebuah pameran keliling yang menampilkan koleksi terpadu berupa karya dari berbagai jenis bahan yang sangat menekankan pada teknik yang sangat mahir, ekspresi dan konsep yang terampil, serta tingkat kesempurnaan tinggi yang memukau pengunjung. Dimulai dengan memperkenalkan karya-karya kogei era Meiji (1868-1912) yang memiliki peran penting dalam memicu tren Japonisme di Eropa abad ke-19, pameran ini tidak hanya menampilkan berbagai karya seni kontemporer tingkat tinggi, tetapi juga mencakup figur mainan kapsul dan sampel makanan yang menggambarkan komitmen yang kuat terhadap keahlian kerajinan. 

Melalui pameran ini, kami bermaksud memperkenalkan teknik-teknik tingkat tinggi dari setiap karya serta berbagai bentuk ekspresi yang bahkan melampaui keterampilan dan keahlian tersebut, dengan harapan para pengunjung dapat menghargai bagian khusus dari budaya kreatif Jepang yang menghormati keahlian kerajinan dan secara konsisten menunjukkan ketelitian serta dedikasi yang mendalam terhadap proses produksi. 

Kami juga ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada Bapak Yuji Yamashita yang berperan sebagai supervisor pameran, para seniman yang dengan baik hati bersedia memamerkan karya-karya mereka, serta kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, bantuan, dan kontribusi yang begitu besar. Pameran ini berlangsung pada tanggal 05 - 25 Mei 2026 di Sakura Hall, The Japan Foundation, Jakarta.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 08 Mei 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, May 09, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 84)

Incidental States, Their Remains

Daya cipta jarang terbentuk oleh peristiwa besar semata. Lebih sering, ia tersusun dari situasi-kondisi kecil yang datang tiba-tiba: ritme yang berulang, jeda yang nyaris tak terasa suasana yang bergeser pelan, atau perjumpaan singkat dengan material, ruang, dan ingatan. Hal-hal semacam ini sering luput dari perhatian ketika terjadi, tetapi justru di sanalah kekaryaan meninggalkan bekasnya. 

Pameran Incidental States, Their Remains berangkat dari perhatian pada bekas-bekas tersebut. Bukan pada peristiwa sebagai pusat makna, melainkan pada sisa yang tertinggal setelahnya--residu pengalaman, fragmen visual, atau jejak material yang mengendap dalam karya. Dalam konteks ini karya seni menjadi wadah, di mana keadaan-keadaan yang pernah lewat dapat dibaca kembali bukan sebagai cerita lengkap, tetapi sebagai bentuk yang menyimpan ingatan akan sesuatu yang pernah terjadi. 

Dalam praktik Cecil Mariani, keadaan tersebut sering muncul sebagai gambar yang berada di antara realitas dan imajinasi, menghadirkan fragmen pengalaman batin yang mendasar pada simbol maupun mitologi. Erik Rifky Prayudhi bekerja melalui transformasi visual yang mempertemukan idiom naturalistik dengan yang sintetik, memperlihatkan bagaimana garis dan bentuk dapat terus berubah melalui proses translasi material. Pada Taufiq HT, ruang dihadirkan melalui flora, fauna, dekorasi warna, dan perkakas; permainan perspektif dalam karyanya menunjukkan bahwa kenyamanan ruang bersifat relatif. 

Dalam karya Chakra Narasangga, drawing menjadi medium rekaman batin dan perubahan kondisi gelap terang, guratannya intens dan atmosferik. Hilman Hendarsyah melihat patahan sebagai metafora manusia dan lingkungannya--seperti kayu yang masih bertahan namun perlahan tergerus tekanan dan pelapukan. Sementara Reggie Aquara menangkap spontanitas melalui impasto yang padat dan taktil, di mana tumpukan cat meninggalkan gumpalan piksel yang emosional di permukaan lukisan. 

Melalui pendekatan yang masing-masing berbeda, keenam seniman ini memperlihatkan bahwa yang tertinggal dari kehidupan sering bukan peristiwanya melainkan keadaan-keadaan kecil yang melintas dan meninggalkan kesadaran estetik. Dari lintasan itulah kita mulai merasakan kembali keseharian kekaryaan--bukan sebagai rutinitas yang datar, tetapi sebagai bentuk kehidupan: elusif, bergerak, dan selalu mengajukan untuk dimaknai ulang. Pameran ini berlangsung pada tanggal 11 April 2026 - Mei 2026 di Ranuza Building, 2nd Floor, Jl. Timor No 10 Menteng, Jakarta.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 08 Mei 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 83)

She Lit My Mouth Without a Word

Pameran tunggal pertama dari Sasi Organ ini menampilkan rangkaian lukisan cat minyak, instalasi kinetik, patung, dan karya berbasis teks. Pameran ini menjadi penanda tiga tahun sejak sang seniman kembali ke Thailand, tanah kelahiran ibunya. Melalui tema tentang hasrat dan kehilangan yang terus berulang, pameran ini menghadirkan pengalaman yang kuat secara inderawi dan psikologis, yang dibentuk oleh ingatan, ritual, dan tubuh.

Dalam seluruh pameran, yang dipengaruhi oleh latar belakang Thai-British miliknya, Sasi Organ menggunakan berbagai benda dan material dari kedua budaya tersebut. Ia mengolah dan menempatkannya kembali sebagai pembawa sejarah pribadi maupun sejarah bersama. Salah satu unsur yang terus dieksplorasi adalah buah pinang (betel nut), yang bagi Sasi Organ memiliki makna kuat karena menggambarkan perubahan tubuh sekaligus perubahan nilai budaya dari waktu ke waktu. 

Berbagai elemen ini tidak hanya berfungsi sebagai simbol, tetapi juga sebagai wadah ingatan yang melekat pada pengalaman tubuh, tempat di mana kedekatan, kedisiplinan, dan warisan keluarga saling bertemu. Melalui pendekatan ini, Sasi Organ merefleksikan hubungan keluarga dan pewarisan budaya yang rumit, di mana kasih sayang dan batasan sering hadir secara bersamaan. Unsur api muncul sebagai elemen penting yang terus berulang dalam pameran ini, hadir dalam tindakan yang bersifat pribadi maupun ritual. Api muncul dalam bentuk perawatan, perubahan, disiplin, dan juga dalam praktik Yu Fai, yaitu tradisi perawatan ibu setelah melahirkan di Thailand. Sebagai sumber kehangatan sekaligus kekuatan yang dapat menghancurkan, api menjadi metafora yang terus berubah—bergerak antara kepedulian dan keretakan, kehidupan dan kehancuran. Karena itu, pameran ini tidak dibangun melalui cahaya yang terang dan pasti, melainkan melalui nyala api yang tidak stabil, di mana apa yang terlihat hanya sebagian dan makna terus berubah.

Pada akhirnya, “She lit my mouth without a word” membahas bagaimana ingatan disimpan, berubah, dan hidup dalam diri seseorang—tentang apa yang tetap dipertahankan, apa yang perlahan memudar, dan apa yang terus membentuk jati diri seseorang. Pameran ini berlangsung pada tanggal 11 April 2026 - 10 Mei 2026 di Ara Contemporary, Jl. Tulodong Bawah I No.16, RT.3, Senayan, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 06 Mei 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, April 12, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 82)

Food for Thought

Ada sesuatu yang selalu kita konsumsi tanpa benar-benar kita sadari: prosesnya. Makanan hadir sebagai hasil akhir, sementara kerja di baliknya kerap luput dari perhatian. Hal yang sama terjadi dalam seni rupa: yang terlihat adalah karya, bukan bagaimana ia dipilih, diolah, diuji, dan diberi nilai. 

Food for Thought bekerja pada dua ranah sekaligus. Pertama, ia membaca praktik seni rupa sebagai proses transformasi dari bahan menjadi bentuk. Kedua, ia menempatkan konsumsi sebagai lensa untuk melihat bagaimana makna dan nilai diproduksi serta diterima. 

Struktur pameran ini mengikuti alur pengolahan tersebut: Ingredient, Appetizer, Main Course, Dessert, Plating, dan Aftertaste. Pembagian ini bukan sekadar permainan istilah kuliner, melainkan pendekatan kuratorial untuk membaca tahapan transformasi dalam praktik artistik. Pameran ini berlangsung pada tanggal 07 Maret 2026 - 30 April 2026 di D Gallerie, Jl. Barito I No.3, Jakarta Selatan.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 10 April 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 81)

Biophilia: Exquisite Corpse

ISA Art Gallery membagikan dokumentasi instlasi pameran “Biophilia: Exquisite Corpse”. Pameran ini terinspirasi dari permainan seni surealis bernama Exquisite Corpse, yaitu permainan yang berkembang secara spontan dan tidak terduga. Karya-karyanya tersusun sedikit demi sedikit, seperti riak air yang menyebar atau lingkaran pohon yang terus bertambah seiring waktu. Melalui pameran ini, para seniman mengajak kita melihat siklus pertumbuhan dan kerusakan di alam. Tubuh, sistem, dan lingkungan digambarkan sebagai sesuatu yang selalu berubah. Pameran ini juga mengingatkan kita bahwa kehidupan bergantung pada keseimbangan yang rapuh, sehingga kita perlu lebih peduli terhadap hubungan kita dengan alam dan ekosistem tempat kita hidup. 

Seri pameran yang diadakan setiap dua tahun ini berfokus pada isu lingkungan. Tahun ini, Exquisite Corpse menghadirkan karya dari Arahmaiani, Dabi Arnasa, Anang Saptoto, CynthIa Delaney Suwito, Fitri DK, Kynan Tegar x Studio Birthplace x Novo Amor, Mater Design Lab, Reza Kutih, dan Teguh Ostenrik. Mereka bersama-sama mengeksplorasi bagaimana manusia dan alam saling terhubung dan saling bergantung. Pameran berlangsung pada tanggal 14 Februari 2026 sampai 16 April 2026 di ISA Art Gallery, Wisma 46, Jakarta Pusat.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 27 Februari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, March 01, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 80)

Inner Sight

RB. Mamet Swalle, yang lebih dikenal dengan nama sapaan RB Ali, adalah pelukis yang juga gemar menulis puisi. Ekspresi lukisan-lukisan Ali, terutama yang dipamerkan kini, pun banyak mengandung ungkapan tulisan atau huruf. Karya-karya yang ditunjukkan ini merujuk pada renungan perjalanan hidup RB Ali dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Ada rentetan peristiwa penting dan menentukan alur hidup Ali pada masa-masa itu. 

Banyak orang mafhum bahwa 'kehidupan manusia adalah panggung sandiwara', dan bagi Ali, panggung itu juga mementaskan narasi getir dalam hidup yang justru memicunya menjadi sumber penciptaan karya. Lukisan Ali mengandung narasi dengan ungkapan yang puitik. Ada banyak gambaran tentang sosok manusia, selain benda-benda atau bentuk-bentuk 'asing' yang ia ciptakan secara kreatif. 

Proses deformasi bentuk yang dikerjakan Ali ditempatkan dalam susunan komposisi bidang kanvas yang dipertimbangkan menjadi harmonis. Ekspresi lukisan Ali, nampaknya, menyerap namun memantulkan secara unik pengaruh kecenderungan bebas gerakan seni surealisme (khususnya karya Joan Miro), serta pertimbangan struktural abstrakisme Georges Braque (namun dengan karakter komposisi warna yang tidak sama). Menghubungkan dua pendekatan proses penciptaan seni yang berkarakter berbeda itu akhirnya menghasilkan karakter ekspresi yang unik dan khas pada lukisan Ali. 

Ada soal kontras di situ, tentang memadukan dua hal yang umumnya dianggap bertentangan dan tak bisa dihubungkan. Inner Sight RB Ali justru menciptakan caranya sendiri. Ali percaya bahwa tiap tragedi hidup seseorang tak hanya menambat jeruji eligi duka, tetapi juga memendam energi cita yang bersifat membebaskan, memberikan daya pertumbuhan hidup yang mengubah dan memperbarui diri. Ekspresi lukisan-lukisan Ali mencari dan menggali dimensi keindahan dalam harmoni perjumpaan antara bentuk-bentuk yang literal (tulisan, huruf, angka) dengan yang visual (deformasi bentuk), antara ekspresi naratif dengan aspek puitis, serta memadukan masalah kontras antara bidang-bidang terang dan gelap. 

Ekspresi Inner Sight RB Ali, pada akhirnya, bukan soal refleksi mengenai narasi pengalaman dirinya sendiri, melainkan justru soal pengalaman pergulatan menjadi manusia agar mampu bertahan selaras dalam aliran hidup. Energi hidup, secara misterius dan tersembunyi, justru 'memandu' kreativitas manusia agar mampu melampaui babak-babak perubahan dan pembaruan diri dalam siklus kehidupan. Pameran ini berlangsung di Galeri ZEN1, JI. Purworejo No. 24, Dukuh Atas, Menteng Jakarta Pusat 10310 pada tanggal 13 Februari 2026 sampai 10 Maret 2026.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 24 Februari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, February 22, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 79)

View/Preview '26

View/Preview '26 menjadi tonggak penting bagi ArtSociates. Pameran ini merupakan presentasi perdana yang diselenggarakan di ruang terbaru kami di Jakarta. Setelah 19 tahun berkiprah di dunia seni Bandung, pada tahun 2026 ArtSociates melakukan ekspansi strategis ke ibu kota, tepatnya berlokasi di Jakarta Art Hub 2, Gedung Ranuza Thamrin, Jakarta Pusat. 

Sebagai judul, View/Preview 26 dirancang untuk menjadi jendela sekaligus gambaran arah perjalanan artistik yang akan kami tempuh sepanjang tahun ini. Pameran ini menampilkan pilihan karya dari para seniman yang akan bekerja sama dengan kami dalam berbagai proyek mendatang. Kami menghadirkan karya Gregorius Sidharta, Umi Dachlan, Lian Sahar, dan Mujahidin Nurrahman — sebagai kelanjutan narasi dari pameran “Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme” yang saat ini berlangsung di Salihara Community. Selain itu, kami juga menampilkan karya Dzikra Afifah dan Louise Henryette sebagai pengantar menuju pameran mereka di ArtSociates Bandung pada akhir Januari 2026. 

Spektrum pameran ini juga mencakup karya Fadjar Sidik, Aming Prayitno, Maharani Mancanagara, Meliantha Muliawan, dan Rendy Raka Pramudya, yang dipersiapkan untuk partisipasi kami dalam Art Jakarta Papers. Lebih jauh lagi, kami juga menghadirkan pratinjau pameran tunggal yang akan datang di ArtSociates Bandung dari sejumlah seniman dengan karakter beragam: Daniel Kho, Alessio Ceruti, Ugo Untoro, Agnes Hansella, Dwipuspita Pangastuti, dan Endang Lestari. Khusus untuk ruang Jakarta, kami memamerkan karya Nesar Eesar dan Eddy Susanto, yang dijadwalkan akan menggelar pameran tunggal di galeri ini pada tahun ini. 

Kami juga secara khusus menampilkan karya video dari Hoo Fan Chon, yang akan menjadi bagian dari pameran mendatang di ArtSociates Bandung, dikurasi oleh Gunalan Nadarajan (salah satu juri BaCAA 8) dan dikuratori bersama oleh Roopesh Sitharan. Sebagai pelengkap visi tahun ini, kami menampilkan eksplorasi estetika para seniman Bali dalam proyek pameran “Post-Tradisi” di ArtSociates Bandung, yang diwakili oleh Darmika Solar, Made Chandra, Kadek Dwi Darmawan, dan Kuncir Sathya Viku. Kami berharap View/Preview 26 dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai visi dan agenda artistik ArtSociates sepanjang tahun 2026. Pameran ini berlangsung pada tanggal 17 Januari 2026 - April 2026 di Artsociates, JKT ART HUB Ranuza, 2nd floor Jl. Timor No.10, Menteng, Jakarta Pusat.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 13 Februari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, February 21, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 78)

Yearbook

Yearbook menampilkan potret-potret karya Seong Gwang Yun sebagai rekaman emosi — wajah-wajah yang terbentuk dari kata-kata yang tak terucap, dorongan yang ditahan, dan perasaan yang lama dipendam. Digambarkan dengan warna-warna ceria dan bentuk yang dilebih-lebihkan, sosok-sosok ini menyimpan jejak kecemasan, pengekangan, sekaligus humor di balik permukaannya. Secara bersama-sama, karya-karya ini membentuk semacam peta emosi kolektif — sebuah “album graduasi emosi” yang mengajak penonton untuk menghadapi hal-hal yang dulu pernah ditelan, disembunyikan, atau tidak pernah terucapkan. Pameran ini berlangsung pada tanggal 14 February - 4 April 2026 di Theo Gallery, Ranuza Building 2nd floor, JI. Timor No. 10, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat 10350.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 13 Februari 2026 (sebelum pameran dimulai).


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 77)

Liminality

Liminality adalah keadaan ketika seseorang berada di antara dua kondisi bukan lagi seperti sebelumnya, tetapi juga belum sepenuhnya menjadi sesuatu yang baru. la hadir sebagai jeda yang sering kali tidak disadari, namun terasa. Dalam fase ini, arah belum jelas, identitas terasa cair, dan kepastian seolah ditangguhkan. Kita tetap bergerak, tetapi belum sepenuhnya tahu ke mana. Liminality bukan ruang kosong, melainkan ruang yang sedang menunggu bentuk. Pameran ini berlangsung pada tanggal 12 Februari - 21 Februari 2026 di Galeri Hang Nadim, Anjungan Kampar - Komplek Purna MTQ, Kota Pekanbaru.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 18 Februari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.