Sunday, July 19, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 90)

I Will Tell You When I am Home

"I will tell you when I am home" mengambil judul dari memoar karya Hala Alyan, yang mengisahkan pengalaman pribadi tentang pengasingan dan pencarian rasa memiliki. Lahir di Amerika Serikat dari ayah berkebangsaan Palestina dan ibu berkebangsaan Kuwait, Alyan merefleksikan bagaimana identitas seseorang dapat terasa terpecah. Ia menulis, "Kamu hidup di dalam dua identitas seperti hantu, tetapi tidak benar-benar menjadi bagian dari keduanya." 

Pameran kelompok ini menghadirkan enam seniman yang melalui praktik dan karya mereka mengangkat persoalan tentang tempat, perpindahan, dan pengalaman tercerabut dari akar. Karya-karya mereka menjelajahi ruang yang tidak pasti, di antara keinginan untuk memiliki tempat berpijak dan kenyataan bahwa hidup selalu dipenuhi perpindahan. 

Melalui karya-karya tersebut, para seniman memetakan berbagai pengalaman seperti proses melepaskan dan menjadi, kehilangan dan pemulihan, serta pencarian akan rasa memiliki. Mereka menunjukkan bagaimana diri, ingatan, dan identitas terus terbentuk melalui pengalaman berpindah dan hidup di ruang-ruang di antara berbagai tempat maupun identitas. Pada akhirnya, pameran ini mengajak kita melihat bahwa rasa memiliki tidak selalu berarti kembali ke tempat asal. Sebaliknya, rasa memiliki dipahami sebagai proses yang terus berlangsung untuk menemukan kesinambungan dan makna baru, bahkan ketika berada dalam kondisi terpisah dari tempat yang dianggap sebagai rumah. 

Dalam kehidupan sehari-hari, ungkapan"I will tell you when I am home" ("Aku akan memberi kabar saat sudah sampai di rumah") merupakan bentuk sederhana untuk menenangkan orang lain, sebagai tanda bahwa seseorang telah kembali dengan selamat ke tempat yang memberikan rasa aman, nyaman, dan akrab. Berangkat dari ungkapan sederhana tersebut, pameran ini mengajukan pertanyaan tentang pencarian yang terus berlangsung akan sebuah tempat yang benar-benar dapat disebut sebagai rumah, sekaligus menjadi ruang di mana seseorang akhirnya merasakan dirinya benar-benar memiliki tempat. Pameran ini berlangsung pada tanggal 11 Juli 2026 sampai 09 Agustus 2026 di Ara Contemporary.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 15 Juli 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 89)

Oxygen

Makna 'oksigen' yang dimaksud Agus Budiyanto ini mungkin dianggap sebaga ungkapan metaforik meskipun, sebenarnya, juga bisa ditemukan artikulasi maksudnya secara fisikal dan konkrit. Ide dasar mengangkat soal 'oksigen' ini adalah untuk menyatakan ekspresi seni sebagai ibarat entitas penting untuk bernapas, yang terutama dibutuhkan manusia sibuk di kota besar. Dinamika kota telah menghasilkan ruang hidup yang kian pengap, didorong percepatan rutinitas tindakan, serta himpitan kebutuhan untuk menjadikan sang diri hidup semakin nyaman dan memuaskan-terpisahkan dari ajaran semesta alam. Karya-karya Agus Budiyanto ini adalah ekspresi seni rupa abstrak, meski ia sendiri pernah mengatakan, bahwa 'sebenarnya saya tak bermaksud membuat (ekspresi) abstrak, selain hanya mengikuti aliran energi alam yang hidup dalam diri saya.' 

Ekspresi imaji yang dikerjakannya nampak jelas sama sekali tidak merepresentasikan bentuk sebagaimana biasa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Imaji abstrak yang diciptakan ini terhubung pada proses internalisasi hasil pencerapan inderawi yang terkait dengan keadaan wujud tersebut untuk bisa diperluas atau dibeda-bedakan. Karya-karya ini mengundang setiap orang untuk bisa terlibat menikmati pengalaman dalam struktur pembentukannya. Ekspresi karya semacam ini, rupanya, hanya diterima melalui pengalaman jiwa yang sensitif serta kekuatan sensasi. Hanya jiwa yang mampu menampung dan menghidupkan sensasi yang bisa menjadi sasaran ekspresi karya-karya semacam ini. Tumpukkan lapisan-lapisan, dinamika aliran dan alur warna, efek gerakan atau hentakan, serta 'drama' kontras dan nuansa peralihan warna dalam karya-karya ini hanya bisa hidup dan 'bernapas' dalam ruang-waktu pengalaman setiap jiwa yang sensitif. Seseorang yang mampu menemukan, menyusuri, atau bahkan menjelajahi lapisan-lapisan warna dan sensitivitas garis maupun ruang kedalaman lah yang bisa menemukan kekuatan oksigen sebagaimana dibayangkan Agus Budiyanto. Pameran karya Aquarelle Agus Budiyanto ini berlangsung pada tanggal 11 Juli 2026 - 11 Agustus 2026 di Galeri ZEN1, Jl. Purworejo No. 24, Dukuh Atas, Menteng Jakarta Pusat 10310.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 13 Juli 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Tuesday, July 07, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 88)

Once, Twice, ..

Pameran karya Luqi Lukman tidak pernah benar-benar melepaskan material yang pernah digunakan. Gambar-gambar yang dibuat bertahun-tahun lalu disimpan, dilipat, lalu dibuka kembali untuk diubah menjadi sesuatu yang baru. Ia memotong gambar buatannya sendiri, menggunakan kembali kertas lama, dan menggabungkannya dengan kayu, kaca, cat, daun, serta benda-benda temuan. Jejak keausan, jamur, retakan, dan sekrup yang dibiarkan terlihat tetap dipertahankan, meninggalkan jejak dari apa yang telah terjadi sebelumnya. 

Karya Luqi tumbuh bukan dengan memulai dari awal, melainkan dengan terus kembali. Seperti seseorang yang terus menata ulang ruangan yang sama, Luqi mengunjungi kembali elemen-elemen yang sudah akrab dan memberinya peran baru. Kertas menjadi struktur, gambar menjadi fragmen, benda yang semula terabaikan menjadi bagian dari sesuatu yang lain. Alih-alih menyimpan material sebagai rekaman masa lalu, ia menjaganya tetap bergerak, sehingga setiap pertemuan kembali membuka kemungkinan baru dari apa yang sudah ada. Pameran ini berlangsung pada tanggal 27 Juni 2026 sampai 26 Juli 2026 di DGallerie, JI. Barito I No. 3, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 02 Juli 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, July 04, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 87)

Tanadiri: I am Forest

Pameran Tanadiri: I am Forest merupakan pameran tunggal karya Han Chandra yang berlangsung di Artsphere Gallery. Pameran ini menghadirkan ruang refleksi yang mengajak pengunjung melihat kembali hubungan manusia dengan bumi. Melalui karya-karyanya, Han menghadirkan suasana yang tenang sekaligus mengundang rasa ingin tahu tentang keterikatan manusia dengan alam yang selama ini sering terlupakan.

Karya-karyanya menampilkan figur-figur dengan tubuh yang diselimuti lumut, mata terpejam, serta mulut yang terkunci. Meski tampak sunyi, setiap elemen menyimpan pesan tentang kedamaian yang lahir dari keheningan. Han Chandra mengajak pengunjung memahami bahwa manusia dan tanah memiliki hubungan yang tidak terpisahkan. Dalam narasi yang dibangunnya, manusia adalah tanah dan tanah adalah manusia, sebuah siklus kehidupan yang terus berputar tanpa akhir. Pameran ini berlangsung pada tanggal 23 Mei 2026 sampai 18 Juli 2026 di Artsphere Gallery, Dharmawangsa Square 2nd Floor Unit 66.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 29 Juni 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, June 07, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 86)

Hypnagogia | Tracing Time

Ara Contemporary mempersembahkan Hypnagogia | Tracing Time, sebuah pameran tunggal karya Albert Yonathan Setyawan, seorang seniman asal Bandung, Indonesia yang berbasis di Tokyo, Jepang. Pameran yang berlangsung pada tanggal 23 Mei - 27 Juni 2026 ini mengeksplorasi pertanyaan tentang eksistensi dalam ruang dan waktu melalui karya-karya terakota, gambar, dan video yang dibentuk oleh pengulangan, proses material, dan gestur meditatif. 

Kualitas meditatif meresap dalam praktik Albert, yang terlihat tidak hanya pada karya fisiknya sendiri, tetapi juga pada proses berulang dan padat karya yang dilaluinya. Sejak 2018, Albert secara eksklusif bekerja dengan terakota, material yang menurutnya terkait erat dengan akar budaya dan geografisnya. Telah lama dikaitkan dengan benda-benda rumah tangga dalam tradisi tembikar Indonesia, terakota membawa resonansi fisik dan historis dalam praktiknya. 

Melalui tanah liat, Albert merenungkan pertanyaan filosofis seputar waktu, keberadaan, dan eksistensi. Inti dari pameran ini adalah keterlibatan Albert yang berkelanjutan dengan pengulangan melalui teknik pengecoran slip, sebuah teknik yang secara luas dikaitkan dengan produksi dan replikasi industri. 

Eksplorasi ini diwujudkan dalam Annica, sebuah karya yang terdiri dari 310 keping terakota yang direplikasi melalui teknik pengecoran slip menggunakan satu cetakan. Karena setiap hasil coran secara bertahap kehilangan detail dan definisi melalui penggunaan berulang, karya ini merefleksikan transformasi, dan pada saat yang sama, menampilkan catatan waktu melalui kehadiran material. Annica menjadi pengamatan terhadap segala sesuatu yang berubah di sekitar kita. Untuk menyelesaikan Anicca diperlukan waktu 3 sampai 4 bulan.

Melalui karya Hypnagogia, Albert lebih jauh mengeksplorasi tema perubahan melalui komposisi modular yang berasal dari ruang arsitektur dan interior. Bentuk geometris yang berulang disusun menjadi susunan spasial yang terfragmentasi, terinspirasi oleh perkembangan pesat lanskap kota dari waktu ke waktu, yang akhirnya kehilangan koherensi.  

Pameran ini juga menampilkan Squaring the Circle - Circling the Square, sebuah karya video tiga saluran yang mendokumentasikan upaya berulang Albert untuk mengubah kubus menjadi bola dan sebaliknya, dari bola menjadi kubus. Kegagalan yang berulang tersebut menyoroti runtuhnya sistem ideal ketika mengalami pengulangan, perluasan, dan waktu. Melalui karya-karya ini, Hypnagogia | Tracing Time pada akhirnya merefleksikan hakikat eksistensi dalam menghadapi ketidakmungkinan untuk lepas dari waktu dan ruang.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 02 Juni 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, May 10, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 85)

The Superlative Artistry of Japan

The Japan Foundation adalah badan pemerintah khusus yang didirikan pada tahun 1972 dengan tujuan mempromosikan pemahaman internasional melalui pertukaran budaya. Badan ini menyelenggarakan berbagai proyek di tiga bidang utama kegiatan: pertukaran seni dan budaya, pendidikan bahasa Jepang di luar negeri, serta studi Jepang dan pertukaran intelektual. Di bidang seni rupa, yang merupakan bagian dari program pertukaran seni dan budaya kami, kami berupaya memperkenalkan seni Jepang melalui pertukaran timbal balik antara Jepang dan negara-negara lain.

Sebagai bagian dari kegiatan ini, kami secara rutin menyelenggarakan pameran keliling yang berkunjung ke berbagai penjuru dunia. Pameran ini menampilkan karya-karya dari koleksi Japan Foundation sendiri dan mencakup beragam tema, termasuk kerajinan tangan, lukisan, fotografi, arsitektur, dan desain. Sekitar 20 pameran sedang berlangsung secara bersamaan dan diselenggarakan di sekitar 100 kota setiap tahunnya. 

Pada kesempatan ini, kami dengan bangga mempersembahkan "The Superlative Artistry of Japan", sebuah pameran keliling yang menampilkan koleksi terpadu berupa karya dari berbagai jenis bahan yang sangat menekankan pada teknik yang sangat mahir, ekspresi dan konsep yang terampil, serta tingkat kesempurnaan tinggi yang memukau pengunjung. Dimulai dengan memperkenalkan karya-karya kogei era Meiji (1868-1912) yang memiliki peran penting dalam memicu tren Japonisme di Eropa abad ke-19, pameran ini tidak hanya menampilkan berbagai karya seni kontemporer tingkat tinggi, tetapi juga mencakup figur mainan kapsul dan sampel makanan yang menggambarkan komitmen yang kuat terhadap keahlian kerajinan. 

Melalui pameran ini, kami bermaksud memperkenalkan teknik-teknik tingkat tinggi dari setiap karya serta berbagai bentuk ekspresi yang bahkan melampaui keterampilan dan keahlian tersebut, dengan harapan para pengunjung dapat menghargai bagian khusus dari budaya kreatif Jepang yang menghormati keahlian kerajinan dan secara konsisten menunjukkan ketelitian serta dedikasi yang mendalam terhadap proses produksi. 

Kami juga ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada Bapak Yuji Yamashita yang berperan sebagai supervisor pameran, para seniman yang dengan baik hati bersedia memamerkan karya-karya mereka, serta kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, bantuan, dan kontribusi yang begitu besar. Pameran ini berlangsung pada tanggal 05 - 25 Mei 2026 di Sakura Hall, The Japan Foundation, Jakarta.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 08 Mei 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, May 09, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 84)

Incidental States, Their Remains

Daya cipta jarang terbentuk oleh peristiwa besar semata. Lebih sering, ia tersusun dari situasi-kondisi kecil yang datang tiba-tiba: ritme yang berulang, jeda yang nyaris tak terasa suasana yang bergeser pelan, atau perjumpaan singkat dengan material, ruang, dan ingatan. Hal-hal semacam ini sering luput dari perhatian ketika terjadi, tetapi justru di sanalah kekaryaan meninggalkan bekasnya. 

Pameran Incidental States, Their Remains berangkat dari perhatian pada bekas-bekas tersebut. Bukan pada peristiwa sebagai pusat makna, melainkan pada sisa yang tertinggal setelahnya--residu pengalaman, fragmen visual, atau jejak material yang mengendap dalam karya. Dalam konteks ini karya seni menjadi wadah, di mana keadaan-keadaan yang pernah lewat dapat dibaca kembali bukan sebagai cerita lengkap, tetapi sebagai bentuk yang menyimpan ingatan akan sesuatu yang pernah terjadi. 

Dalam praktik Cecil Mariani, keadaan tersebut sering muncul sebagai gambar yang berada di antara realitas dan imajinasi, menghadirkan fragmen pengalaman batin yang mendasar pada simbol maupun mitologi. Erik Rifky Prayudhi bekerja melalui transformasi visual yang mempertemukan idiom naturalistik dengan yang sintetik, memperlihatkan bagaimana garis dan bentuk dapat terus berubah melalui proses translasi material. Pada Taufiq HT, ruang dihadirkan melalui flora, fauna, dekorasi warna, dan perkakas; permainan perspektif dalam karyanya menunjukkan bahwa kenyamanan ruang bersifat relatif. 

Dalam karya Chakra Narasangga, drawing menjadi medium rekaman batin dan perubahan kondisi gelap terang, guratannya intens dan atmosferik. Hilman Hendarsyah melihat patahan sebagai metafora manusia dan lingkungannya--seperti kayu yang masih bertahan namun perlahan tergerus tekanan dan pelapukan. Sementara Reggie Aquara menangkap spontanitas melalui impasto yang padat dan taktil, di mana tumpukan cat meninggalkan gumpalan piksel yang emosional di permukaan lukisan. 

Melalui pendekatan yang masing-masing berbeda, keenam seniman ini memperlihatkan bahwa yang tertinggal dari kehidupan sering bukan peristiwanya melainkan keadaan-keadaan kecil yang melintas dan meninggalkan kesadaran estetik. Dari lintasan itulah kita mulai merasakan kembali keseharian kekaryaan--bukan sebagai rutinitas yang datar, tetapi sebagai bentuk kehidupan: elusif, bergerak, dan selalu mengajukan untuk dimaknai ulang. Pameran ini berlangsung pada tanggal 11 April 2026 - Mei 2026 di Ranuza Building, 2nd Floor, Jl. Timor No 10 Menteng, Jakarta.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 08 Mei 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 83)

She Lit My Mouth Without a Word

Pameran tunggal pertama dari Sasi Organ ini menampilkan rangkaian lukisan cat minyak, instalasi kinetik, patung, dan karya berbasis teks. Pameran ini menjadi penanda tiga tahun sejak sang seniman kembali ke Thailand, tanah kelahiran ibunya. Melalui tema tentang hasrat dan kehilangan yang terus berulang, pameran ini menghadirkan pengalaman yang kuat secara inderawi dan psikologis, yang dibentuk oleh ingatan, ritual, dan tubuh.

Dalam seluruh pameran, yang dipengaruhi oleh latar belakang Thai-British miliknya, Sasi Organ menggunakan berbagai benda dan material dari kedua budaya tersebut. Ia mengolah dan menempatkannya kembali sebagai pembawa sejarah pribadi maupun sejarah bersama. Salah satu unsur yang terus dieksplorasi adalah buah pinang (betel nut), yang bagi Sasi Organ memiliki makna kuat karena menggambarkan perubahan tubuh sekaligus perubahan nilai budaya dari waktu ke waktu. 

Berbagai elemen ini tidak hanya berfungsi sebagai simbol, tetapi juga sebagai wadah ingatan yang melekat pada pengalaman tubuh, tempat di mana kedekatan, kedisiplinan, dan warisan keluarga saling bertemu. Melalui pendekatan ini, Sasi Organ merefleksikan hubungan keluarga dan pewarisan budaya yang rumit, di mana kasih sayang dan batasan sering hadir secara bersamaan. Unsur api muncul sebagai elemen penting yang terus berulang dalam pameran ini, hadir dalam tindakan yang bersifat pribadi maupun ritual. Api muncul dalam bentuk perawatan, perubahan, disiplin, dan juga dalam praktik Yu Fai, yaitu tradisi perawatan ibu setelah melahirkan di Thailand. Sebagai sumber kehangatan sekaligus kekuatan yang dapat menghancurkan, api menjadi metafora yang terus berubah—bergerak antara kepedulian dan keretakan, kehidupan dan kehancuran. Karena itu, pameran ini tidak dibangun melalui cahaya yang terang dan pasti, melainkan melalui nyala api yang tidak stabil, di mana apa yang terlihat hanya sebagian dan makna terus berubah.

Pada akhirnya, “She lit my mouth without a word” membahas bagaimana ingatan disimpan, berubah, dan hidup dalam diri seseorang—tentang apa yang tetap dipertahankan, apa yang perlahan memudar, dan apa yang terus membentuk jati diri seseorang. Pameran ini berlangsung pada tanggal 11 April 2026 - 10 Mei 2026 di Ara Contemporary, Jl. Tulodong Bawah I No.16, RT.3, Senayan, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 06 Mei 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, April 12, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 82)

Food for Thought

Ada sesuatu yang selalu kita konsumsi tanpa benar-benar kita sadari: prosesnya. Makanan hadir sebagai hasil akhir, sementara kerja di baliknya kerap luput dari perhatian. Hal yang sama terjadi dalam seni rupa: yang terlihat adalah karya, bukan bagaimana ia dipilih, diolah, diuji, dan diberi nilai. 

Food for Thought bekerja pada dua ranah sekaligus. Pertama, ia membaca praktik seni rupa sebagai proses transformasi dari bahan menjadi bentuk. Kedua, ia menempatkan konsumsi sebagai lensa untuk melihat bagaimana makna dan nilai diproduksi serta diterima. 

Struktur pameran ini mengikuti alur pengolahan tersebut: Ingredient, Appetizer, Main Course, Dessert, Plating, dan Aftertaste. Pembagian ini bukan sekadar permainan istilah kuliner, melainkan pendekatan kuratorial untuk membaca tahapan transformasi dalam praktik artistik. Pameran ini berlangsung pada tanggal 07 Maret 2026 - 30 April 2026 di D Gallerie, Jl. Barito I No.3, Jakarta Selatan.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 10 April 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 81)

Biophilia: Exquisite Corpse

ISA Art Gallery membagikan dokumentasi instlasi pameran “Biophilia: Exquisite Corpse”. Pameran ini terinspirasi dari permainan seni surealis bernama Exquisite Corpse, yaitu permainan yang berkembang secara spontan dan tidak terduga. Karya-karyanya tersusun sedikit demi sedikit, seperti riak air yang menyebar atau lingkaran pohon yang terus bertambah seiring waktu. Melalui pameran ini, para seniman mengajak kita melihat siklus pertumbuhan dan kerusakan di alam. Tubuh, sistem, dan lingkungan digambarkan sebagai sesuatu yang selalu berubah. Pameran ini juga mengingatkan kita bahwa kehidupan bergantung pada keseimbangan yang rapuh, sehingga kita perlu lebih peduli terhadap hubungan kita dengan alam dan ekosistem tempat kita hidup. 

Seri pameran yang diadakan setiap dua tahun ini berfokus pada isu lingkungan. Tahun ini, Exquisite Corpse menghadirkan karya dari Arahmaiani, Dabi Arnasa, Anang Saptoto, CynthIa Delaney Suwito, Fitri DK, Kynan Tegar x Studio Birthplace x Novo Amor, Mater Design Lab, Reza Kutih, dan Teguh Ostenrik. Mereka bersama-sama mengeksplorasi bagaimana manusia dan alam saling terhubung dan saling bergantung. Pameran berlangsung pada tanggal 14 Februari 2026 sampai 16 April 2026 di ISA Art Gallery, Wisma 46, Jakarta Pusat.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 27 Februari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.