Deus ex Machina
Deus ex machina adalah istilah dalam bahasa Latin yang berarti "dewa yang muncul dari mesin." Istilah ini berasal dari konvensi teater Yunani Kuno dan merujuk pada sebuah teknik penceritaan, yaitu ketika persoalan yang tampaknya mustahil diselesaikan dalam sebuah kisah tiba-tiba memperoleh jalan keluar melalui kemunculan tokoh atau peristiwa yang tak terduga. Pada masa itu, para aktor yang memerankan dewa atau sosok ilahi dihadirkan ke atas panggung dengan menggunakan sebuah alat mekanis, biasanya berupa derek atau panggung pengangkat. Kemunculan mereka memberikan efek dramatis sekaligus menjadi penutup cerita atau penyelesaian konflik.
Pameran ini menggunakan istilah tersebut sebagai judul untuk mempertemukan karya-karya dari dua individu yang berasal dari sudut pandang yang sangat berbeda: seorang dokter dan seorang pasien, Andre Setiawan Suryadi dan Anfield Wibowo. Melalui seni, keduanya dipertemukan dalam satu pengalaman ruang yang sama, meskipun memiliki peran yang bertolak belakang. Dunia yang mereka bagikan adalah dunia kedokteran modern, kesehatan mental dan fisik, serta perjalanan menuju pemulihan dan penerimaan diri.
Andre Setiawan Suryadi adalah seorang dokter bedah umum yang berpraktik di Jakarta, Indonesia. Praktik artistiknya lahir dari intensitas, ketelitian, dan beban emosional yang ia alami di ruang operasi. Kecintaannya terhadap seni telah tumbuh sejak usia dini, lalu kembali menguat ketika menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, saat ia mulai mendalami ilmu bedah. Baginya, ilmu bedah merupakan bidang yang sangat menarik karena sangat mengandalkan keterampilan tangan, sebagaimana seorang seniman visual yang menggunakan ketangkasan tangannya dalam menciptakan sebuah karya.
Di sisi lain ruang galeri, dipamerkan karya-karya Anfield Wibowo, seorang seniman muda yang juga berbasis di Jakarta. Sejak kecil, Anfield didiagnosis memiliki kebutuhan khusus, yaitu gangguan pendengaran dan sindrom Asperger. Meski demikian, kondisi tersebut tidak pernah mengurangi semangatnya untuk terus berkarya dan menyampaikan kisah-kisahnya melalui lukisan. Karya-karyanya seolah menjadi sebuah jendela yang membuka dunia yang ia miliki kepada kita. Lukisan-lukisan itu menghadirkan bahasa baru yang mampu menyingkirkan berbagai batasan dalam berkomunikasi.
Dunia kedokteran dan proses pengobatan dalam masyarakat modern sering kali dipandang sebagai sesuatu yang dingin dan sangat teknis. Namun, di balik ketepatan prosedur, berbagai perhitungan, diagnosis, harapan akan kesembuhan, hingga kekecewaan ketika pengobatan tidak berjalan sesuai harapan, terdapat pengalaman yang mempertemukan kedua seniman dalam pameran ini. Pengalaman tersebut adalah pengalaman yang bersifat spiritual sekaligus menghadirkan sudut pandang baru, yang mengaburkan batas-batas antara seni rupa, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan itu sendiri.
Melalui penyajian karya-karya kedua seniman ini, pameran mengajak pengunjung untuk merayakan luluhnya berbagai batas yang selama ini mungkin membatasi atau mengikat kita. Batas-batas yang terbentuk oleh pemahaman dan pengalaman hidup di masa lalu, maupun oleh norma-norma yang kita terima begitu saja tanpa banyak dipertanyakan, sehingga menghalangi kita untuk melihat, memahami, dan menyambut berbagai kemungkinan yang terbentang di hadapan kita. Pameran ini berlangsung pada tanggal 11 Juli 2026 sampai 11 Agustus 2026 di Kendys Gallery.
Saya menghadiri pameran pada tanggal 17 Juli 2026.
Note :
Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

No comments:
Post a Comment