Saturday, July 25, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 93)

Deus ex Machina

Deus ex machina adalah istilah dalam bahasa Latin yang berarti "dewa yang muncul dari mesin." Istilah ini berasal dari konvensi teater Yunani Kuno dan merujuk pada sebuah teknik penceritaan, yaitu ketika persoalan yang tampaknya mustahil diselesaikan dalam sebuah kisah tiba-tiba memperoleh jalan keluar melalui kemunculan tokoh atau peristiwa yang tak terduga. Pada masa itu, para aktor yang memerankan dewa atau sosok ilahi dihadirkan ke atas panggung dengan menggunakan sebuah alat mekanis, biasanya berupa derek atau panggung pengangkat. Kemunculan mereka memberikan efek dramatis sekaligus menjadi penutup cerita atau penyelesaian konflik.

Pameran ini menggunakan istilah tersebut sebagai judul untuk mempertemukan karya-karya dari dua individu yang berasal dari sudut pandang yang sangat berbeda: seorang dokter dan seorang pasien, Andre Setiawan Suryadi dan Anfield Wibowo. Melalui seni, keduanya dipertemukan dalam satu pengalaman ruang yang sama, meskipun memiliki peran yang bertolak belakang. Dunia yang mereka bagikan adalah dunia kedokteran modern, kesehatan mental dan fisik, serta perjalanan menuju pemulihan dan penerimaan diri.

Andre Setiawan Suryadi adalah seorang dokter bedah umum yang berpraktik di Jakarta, Indonesia. Praktik artistiknya lahir dari intensitas, ketelitian, dan beban emosional yang ia alami di ruang operasi. Kecintaannya terhadap seni telah tumbuh sejak usia dini, lalu kembali menguat ketika menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, saat ia mulai mendalami ilmu bedah. Baginya, ilmu bedah merupakan bidang yang sangat menarik karena sangat mengandalkan keterampilan tangan, sebagaimana seorang seniman visual yang menggunakan ketangkasan tangannya dalam menciptakan sebuah karya.

Di sisi lain ruang galeri, dipamerkan karya-karya Anfield Wibowo, seorang seniman muda yang juga berbasis di Jakarta. Sejak kecil, Anfield didiagnosis memiliki kebutuhan khusus, yaitu gangguan pendengaran dan sindrom Asperger. Meski demikian, kondisi tersebut tidak pernah mengurangi semangatnya untuk terus berkarya dan menyampaikan kisah-kisahnya melalui lukisan. Karya-karyanya seolah menjadi sebuah jendela yang membuka dunia yang ia miliki kepada kita. Lukisan-lukisan itu menghadirkan bahasa baru yang mampu menyingkirkan berbagai batasan dalam berkomunikasi.

Dunia kedokteran dan proses pengobatan dalam masyarakat modern sering kali dipandang sebagai sesuatu yang dingin dan sangat teknis. Namun, di balik ketepatan prosedur, berbagai perhitungan, diagnosis, harapan akan kesembuhan, hingga kekecewaan ketika pengobatan tidak berjalan sesuai harapan, terdapat pengalaman yang mempertemukan kedua seniman dalam pameran ini. Pengalaman tersebut adalah pengalaman yang bersifat spiritual sekaligus menghadirkan sudut pandang baru, yang mengaburkan batas-batas antara seni rupa, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan itu sendiri.

Melalui penyajian karya-karya kedua seniman ini, pameran mengajak pengunjung untuk merayakan luluhnya berbagai batas yang selama ini mungkin membatasi atau mengikat kita. Batas-batas yang terbentuk oleh pemahaman dan pengalaman hidup di masa lalu, maupun oleh norma-norma yang kita terima begitu saja tanpa banyak dipertanyakan, sehingga menghalangi kita untuk melihat, memahami, dan menyambut berbagai kemungkinan yang terbentang di hadapan kita. Pameran ini berlangsung pada tanggal 11 Juli 2026 sampai 11 Agustus 2026 di Kendys Gallery.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 17 Juli 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Wednesday, July 22, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 92)

Beyond the Frame

Seni kontemporer telah lama menantang anggapan bahwa lukisan hanyalah sebuah citra yang hadir di dalam bidang persegi. Kini, para seniman tidak lagi hanya mempertanyakan apa yang direpresentasikan, tetapi juga bagaimana sebuah karya terbentuk melalui material, struktur, dan kehadiran fisiknya. Dalam Beyond the Frame, permukaan lukisan tidak lagi diperlakukan sebagai sekadar media penopang, melainkan menjadi bagian yang aktif dalam membentuk makna. Di sinilah batas antara citra, objek, dan medium mulai menjadi semakin cair.

Menghadirkan karya-karya Gandari Irianti, Rafli Piu, dan Wira Liandy, pameran ini memperlihatkan bagaimana masing-masing seniman menegosiasikan kembali konvensi medium yang mereka pilih. Meski berangkat dari pendekatan yang berbeda, ketiganya sama-sama melihat bentuk yang diwariskan bukan sebagai sesuatu yang baku. Kanvas, papan, maupun berbagai permukaan yang mereka bangun kembali diregangkan, ditumpuk, dipahat, disusun, dan dibentuk ulang hingga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gagasan yang mereka bawa.

Bagi Wira Liandy, transformasi kanvas menjadi cerminan lanskap psikologis yang hadir dalam karyanya. Siluet-siluet yang keluar dari bentuk persegi konvensional merefleksikan identitas yang terus dibentuk oleh mekanisme pertahanan diri, ekspektasi, dan pengalaman hidup. Bentuk akhirnya menjadi perpanjangan tubuh—sesuatu yang dikenakan, dihuni, dan perlahan terus berubah.

Dalam praktik Gandari Irianti, lukisan berkembang menjadi ruang-ruang arsitektural yang sunyi. Melalui susunan papan PVC berlapis yang dikerjakan dengan cermat, ia membangun ruang-ruang kecil yang berada di antara ingatan dan imajinasi. Kedalaman fisik setiap karya menjadi metafora bagi lapisan emosional tentang rumah, mengajak pengunjung menyusuri ruang tempat sejarah personal dan lanskap batin saling beririsan.

Sementara itu, Rafli Piu memulai praktiknya dari bentuk persegi sebagai arketipe medium lukis, lalu mengintervensinya melalui potongan, perpanjangan, dan penyusunan ulang bentuk. Mengadopsi logika perancangan karakter, ia mengubah kanvas menjadi objek yang memiliki identitasnya sendiri tanpa sepenuhnya melepaskan jejak bentuk asalnya. Dengan memperlakukan cat, kanvas, dan rangka sebagai elemen-elemen yang memiliki perannya masing-masing, Rafli mengaburkan batas antara lukisan, objek, dan komoditas. Melalui pendekatan ini, ia merefleksikan bagaimana karya seni beredar, memperoleh nilai, dan dikonsumsi dalam budaya visual kontemporer.

Yang mempertemukan ketiga praktik ini bukan sekadar semangat bereksperimen, melainkan keyakinan bahwa setiap pilihan material selalu membawa makna. Setiap tepian yang diubah, permukaan yang dilapisi, hingga bentuk yang direkonstruksi menjadi bagian dari bahasa visual yang mereka bangun. Di sini, inovasi bukan hanya persoalan estetika, tetapi juga cara berpikir yang membuka ruang bagi narasi personal, ruang, maupun budaya untuk hadir melalui transformasi material yang kita kenal sehari-hari.

Alih-alih hanya mengajak pengunjung melihat gambar di permukaan, Beyond the Frame mengundang kita untuk memperhatikan lukisan sebagai sebuah objek—kontur, konstruksi, dan keberaniannya melampaui batas-batas yang selama ini kita anggap lazim. Pada akhirnya, pameran ini mengingatkan bahwa makna tidak selalu berada pada apa yang direpresentasikan. Terkadang, medium itu sendirilah yang bercerita. Pameran ini berlangsung pada tanggal 11 Juli 2026 sampai 11 Agustus 2026 di Art WeMe Contemporary, Wisma Geha 3rd Floor.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 17 Juli 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Monday, July 20, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 91)

Senang Bertemu Kembali

Dalam rangka memperingati satu tahun berdirinya YIRI ARTS Jakarta, pameran Senang Bertemu Kembali (Good to See You Again) menghadirkan karya lima seniman asal Taiwan, yaitu Chen Sung-Chih, Chiu Huai-Hsuan, Hsieh Jung-Wei, Jiang Meng-Si, dan Keng Chieh-Sheng. Pameran ini merefleksikan satu tahun perjalanan pertukaran artistik dan dialog lintas budaya yang telah terjalin di Jakarta.

Pusat perhatian dalam pameran ini adalah Beacon, sebuah proyek instalasi spasial terbaru karya Hsieh Jung-Wei. Dengan memadukan garis-garis reflektif, patung berbasis cahaya, dan lukisan, instalasi ini mengajak pengunjung menjelajahi ruang galeri yang dibuat gelap menggunakan lampu kepala (headlamp). Pengalaman melihat karya pun berubah menjadi sebuah perjalanan yang melibatkan gerak, cahaya, dan ruang. 

Pameran ini berlangsung dalam ruang yang terang, sementara pengunjung diajak menjelajah menggunakan lampu kepala (headlamp) di antara lukisan, patung, dan elemen-elemen arsitektural. Garis-garis reflektif, patung berbasis cahaya, dan lukisan pada awalnya nyaris tidak terlihat, hingga sorotan cahaya dari lampu kepala menyingkap bentuk, warna, dan pantulannya. 

Bagi Hsieh Jung-Wei, karya seni bukanlah representasi cahaya, melainkan medium yang membuat cahaya menjadi dapat dialami dan disadari keberadaannya. Saat pengunjung bergerak membawa sumber cahayanya sendiri, hubungan antara arsitektur, lukisan, dan patung terus berubah, memperlihatkan bagaimana cahaya membentuk kembali cara kita mengalami dan memahami ruang. Pameran ini berlangsung pada tanggal 27 Juni 2026 sampai 02 Agustus 2026 di YIRI ARTS Jakarta, Ranuza Building, 2nd Floor JI. Timor No. 10, Gondangdia, Menteng, Central Jakarta.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 17 Juli 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, July 19, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 90)

I Will Tell You When I am Home

"I will tell you when I am home" mengambil judul dari memoar karya Hala Alyan, yang mengisahkan pengalaman pribadi tentang pengasingan dan pencarian rasa memiliki. Lahir di Amerika Serikat dari ayah berkebangsaan Palestina dan ibu berkebangsaan Kuwait, Alyan merefleksikan bagaimana identitas seseorang dapat terasa terpecah. Ia menulis, "Kamu hidup di dalam dua identitas seperti hantu, tetapi tidak benar-benar menjadi bagian dari keduanya." 

Pameran kelompok ini menghadirkan enam seniman yang melalui praktik dan karya mereka mengangkat persoalan tentang tempat, perpindahan, dan pengalaman tercerabut dari akar. Karya-karya mereka menjelajahi ruang yang tidak pasti, di antara keinginan untuk memiliki tempat berpijak dan kenyataan bahwa hidup selalu dipenuhi perpindahan. 

Melalui karya-karya tersebut, para seniman memetakan berbagai pengalaman seperti proses melepaskan dan menjadi, kehilangan dan pemulihan, serta pencarian akan rasa memiliki. Mereka menunjukkan bagaimana diri, ingatan, dan identitas terus terbentuk melalui pengalaman berpindah dan hidup di ruang-ruang di antara berbagai tempat maupun identitas. Pada akhirnya, pameran ini mengajak kita melihat bahwa rasa memiliki tidak selalu berarti kembali ke tempat asal. Sebaliknya, rasa memiliki dipahami sebagai proses yang terus berlangsung untuk menemukan kesinambungan dan makna baru, bahkan ketika berada dalam kondisi terpisah dari tempat yang dianggap sebagai rumah. 

Dalam kehidupan sehari-hari, ungkapan"I will tell you when I am home" ("Aku akan memberi kabar saat sudah sampai di rumah") merupakan bentuk sederhana untuk menenangkan orang lain, sebagai tanda bahwa seseorang telah kembali dengan selamat ke tempat yang memberikan rasa aman, nyaman, dan akrab. Berangkat dari ungkapan sederhana tersebut, pameran ini mengajukan pertanyaan tentang pencarian yang terus berlangsung akan sebuah tempat yang benar-benar dapat disebut sebagai rumah, sekaligus menjadi ruang di mana seseorang akhirnya merasakan dirinya benar-benar memiliki tempat. Pameran ini berlangsung pada tanggal 11 Juli 2026 sampai 09 Agustus 2026 di Ara Contemporary.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 15 Juli 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 89)

Oxygen

Makna 'oksigen' yang dimaksud Agus Budiyanto ini mungkin dianggap sebaga ungkapan metaforik meskipun, sebenarnya, juga bisa ditemukan artikulasi maksudnya secara fisikal dan konkrit. Ide dasar mengangkat soal 'oksigen' ini adalah untuk menyatakan ekspresi seni sebagai ibarat entitas penting untuk bernapas, yang terutama dibutuhkan manusia sibuk di kota besar. Dinamika kota telah menghasilkan ruang hidup yang kian pengap, didorong percepatan rutinitas tindakan, serta himpitan kebutuhan untuk menjadikan sang diri hidup semakin nyaman dan memuaskan-terpisahkan dari ajaran semesta alam. Karya-karya Agus Budiyanto ini adalah ekspresi seni rupa abstrak, meski ia sendiri pernah mengatakan, bahwa 'sebenarnya saya tak bermaksud membuat (ekspresi) abstrak, selain hanya mengikuti aliran energi alam yang hidup dalam diri saya.' 

Ekspresi imaji yang dikerjakannya nampak jelas sama sekali tidak merepresentasikan bentuk sebagaimana biasa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Imaji abstrak yang diciptakan ini terhubung pada proses internalisasi hasil pencerapan inderawi yang terkait dengan keadaan wujud tersebut untuk bisa diperluas atau dibeda-bedakan. Karya-karya ini mengundang setiap orang untuk bisa terlibat menikmati pengalaman dalam struktur pembentukannya. Ekspresi karya semacam ini, rupanya, hanya diterima melalui pengalaman jiwa yang sensitif serta kekuatan sensasi. Hanya jiwa yang mampu menampung dan menghidupkan sensasi yang bisa menjadi sasaran ekspresi karya-karya semacam ini. Tumpukkan lapisan-lapisan, dinamika aliran dan alur warna, efek gerakan atau hentakan, serta 'drama' kontras dan nuansa peralihan warna dalam karya-karya ini hanya bisa hidup dan 'bernapas' dalam ruang-waktu pengalaman setiap jiwa yang sensitif. Seseorang yang mampu menemukan, menyusuri, atau bahkan menjelajahi lapisan-lapisan warna dan sensitivitas garis maupun ruang kedalaman lah yang bisa menemukan kekuatan oksigen sebagaimana dibayangkan Agus Budiyanto. Pameran karya Aquarelle Agus Budiyanto ini berlangsung pada tanggal 11 Juli 2026 - 11 Agustus 2026 di Galeri ZEN1, Jl. Purworejo No. 24, Dukuh Atas, Menteng Jakarta Pusat 10310.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 13 Juli 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Tuesday, July 07, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 88)

Once, Twice, ..

Pameran karya Luqi Lukman tidak pernah benar-benar melepaskan material yang pernah digunakan. Gambar-gambar yang dibuat bertahun-tahun lalu disimpan, dilipat, lalu dibuka kembali untuk diubah menjadi sesuatu yang baru. Ia memotong gambar buatannya sendiri, menggunakan kembali kertas lama, dan menggabungkannya dengan kayu, kaca, cat, daun, serta benda-benda temuan. Jejak keausan, jamur, retakan, dan sekrup yang dibiarkan terlihat tetap dipertahankan, meninggalkan jejak dari apa yang telah terjadi sebelumnya. 

Karya Luqi tumbuh bukan dengan memulai dari awal, melainkan dengan terus kembali. Seperti seseorang yang terus menata ulang ruangan yang sama, Luqi mengunjungi kembali elemen-elemen yang sudah akrab dan memberinya peran baru. Kertas menjadi struktur, gambar menjadi fragmen, benda yang semula terabaikan menjadi bagian dari sesuatu yang lain. Alih-alih menyimpan material sebagai rekaman masa lalu, ia menjaganya tetap bergerak, sehingga setiap pertemuan kembali membuka kemungkinan baru dari apa yang sudah ada. Pameran ini berlangsung pada tanggal 27 Juni 2026 sampai 26 Juli 2026 di DGallerie, JI. Barito I No. 3, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 02 Juli 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, July 04, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 87)

Tanadiri: I am Forest

Pameran Tanadiri: I am Forest merupakan pameran tunggal karya Han Chandra yang berlangsung di Artsphere Gallery. Pameran ini menghadirkan ruang refleksi yang mengajak pengunjung melihat kembali hubungan manusia dengan bumi. Melalui karya-karyanya, Han menghadirkan suasana yang tenang sekaligus mengundang rasa ingin tahu tentang keterikatan manusia dengan alam yang selama ini sering terlupakan.

Karya-karyanya menampilkan figur-figur dengan tubuh yang diselimuti lumut, mata terpejam, serta mulut yang terkunci. Meski tampak sunyi, setiap elemen menyimpan pesan tentang kedamaian yang lahir dari keheningan. Han Chandra mengajak pengunjung memahami bahwa manusia dan tanah memiliki hubungan yang tidak terpisahkan. Dalam narasi yang dibangunnya, manusia adalah tanah dan tanah adalah manusia, sebuah siklus kehidupan yang terus berputar tanpa akhir. Pameran ini berlangsung pada tanggal 23 Mei 2026 sampai 18 Juli 2026 di Artsphere Gallery, Dharmawangsa Square 2nd Floor Unit 66.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 29 Juni 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.