Sunday, February 08, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 76)

Closed

Selama ribuan tahun, kertas selalu menjadi simbol dari dua hal yang bertolak belakang: sesuatu yang sementara sekaligus abadi. Naskah, surat, dan dokumen menyimpan sejarah dalam selembar kertas yang mengandung banyak makna tersembunyi. Di era sekarang, ketika budaya berbasis kertas dan bahan cetak semakin ditinggalkan, Irfan Hendrian justru terus menggunakan kertas sebagai medium utamanya, baik secara intens maupun luas. Namun, Irfan tidak sekadar bekerja di atas atau dengan kertas. Ia justru menyelami kertas itu sendiri sebagai medium. Proses berkarya—mulai dari membuat, merancang, hingga menyusun—selalu berangkat dari unit paling dasar: satu lembar kertas. Melalui karya-karya dalam pameran "Closed", Irfan berusaha membuka kembali ruang ingatan, melihat “sisi lain” dari bentuk, yang mengajak munculnya dialog alternatif dan mengungkap dimensi yang melampaui sekadar keindahan visual. 

Beberapa bentuk yang sering muncul dalam karya Irfan, seperti teralis jendela, pagar seng bergelombang, gembok, dan kunci, oleh sang seniman disebut sebagai arsitektur ketakutan. Bentuk-bentuk ini memiliki beban sejarah dan konteks tertentu, yang berangkat dari ingatan serta pengalaman Irfan terhadap kecemasan yang dialami komunitas Tionghoa di Indonesia. Secara keseluruhan, karya-karya tersebut berfungsi sebagai objek yang membangun konteks yang lebih luas, memperlihatkan makna di luar apa yang langsung terlihat secara visual. Pada akhirnya, "Closed" mengajak kita untuk melihat lebih dekat, serta berani menghadapi bayangan-bayangan dalam “luka” yang terus bertahan di dalam ingatan. Pameran ini berlangsung pada tanggal 31 Januari 2026 sampai 17 Maret di 2026 di Ara Contemporary, Jl. Tulodong Bawah I No.16, Senayan, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12190.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 05 Februari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, February 07, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 75)

New Paintings

ROH dengan bangga mempersembahkan pameran kelompok pertama tahun ini, New Paintings, yang berfokus pada karya terbaru dari Nadya Jiwa, Naotaka Hiro, Ser Serpas, Wei Jia, dan Tith Kanitha. Pameran ini menampilkan karya-karya yang lahir dari kondisi zaman saat ini, yaitu masa ketika isu tentang kebebasan individu, batas-batas tubuh, serta semakin kaburnya realitas banyak dirasakan dan diekspresikan oleh para seniman melalui material dan medium lukisan. Untuk pertama kalinya ditampilkan bersama, pameran ini menghadirkan dialog antar seniman yang terus mengeksplorasi dan mengembangkan medium lukisan, sekaligus menanggapi sejarahnya dan relevansinya dalam konteks seni kontemporer saat ini. Pameran ini berlangsung mulai tanggal 25 Januari 2026 sampai 22 Februari 2026 di ROH Projects, berlokasi di Jl. Surabaya No. 66, Jakarta Pusat.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 28 Januari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, January 31, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 74)

Small Talks For Serious Times

Lukisan-lukisan Nyoman Suarnata tidak lagi bekerja sebagai representasi langsung atas peristiwa sosial tertentu, juga tidak secara tegas mengklaim diri sebagai cermin realitas faktual yang dialami bersama pada satu ruang dan waktu yang spesifik. Pengalaman keseharian, gejolak politik, maupun tragedi kemanusiaan tidak dihadirkan sebagai laporan visual tentang "saat kini dan di sini", melainkan sebagai fragmen imaji yang dipintal ulang melalui bahasa sarkasme, humor getir, dan ironi. Dalam konteks ini, realisme yang digunakan Suarnata tidak berfungsi sebagai penjelasan, tetapi sebagai strategi visual yang justru menjaga jarak dari pengalaman hidup yang wajar dan linear. Pendekatan tersebut memperlihatkan cara kerja yang menyerupai montase: mengumpulkan, menyilangkan, dan mempertemukan berbagai simbol kekuasaan, figur prajurit, ikon budaya populer, serta imaji pahlawan dalam situasi yang ganjil dan absurd. Dunia yang dihadirkan Suarnata adalah dunia percakapan -- tempat kritik, kemarahan, dan harapan hadir tanpa tuntutan penyelesaian. Pameran ini berlangsung pada tanggal 18 Januari 2026 - 10 Februari 2026 di Galeri ZEN1, JI. Purworejo No. 24, Dukuh Atas, Menteng, Jakarta Pusat 10310.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 26 Januari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.


Sunday, January 25, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 73)

Pinata

PINATA - Herzven's Solo Exhibition

Pada 16 Juni 2025, api menghanguskan dua rumah di Depok - rumah orang tua saya dan rumah saya sendiri.Yang tersisa hanyalah keheningan, abu, dan rasa kehilangan yang sulit saya beri nama. Namun dalam sunyi setelah kehancuran itu, sesuatu bergeser. Saya mulai memahami bahwa kebakaran tersebut bukan hanya sebuah akhir, melainkan sebuah hentakan yang membelah segalanya - retakan yang membuka apa yang selama ini saya pendam. Seperti sebuah PINATA, tidak ada yang terungkap sebelum cangkangnya pecah.

Momen itu mendorong saya untuk merespons. Ia menuntut saya untuk berdiri kembali - bukan sebagai seseorang yang hancur oleh keputusasaan, tetapi sebagai seseorang yang telah melewatinya dan bangkit dengan kesadaran baru. PINATA menandai titik balik itu. Ia menyimpan pecahan-pecahan, pergeseran-pergeseran, dan awal-awal baru yang tumbuh dari kehancuran.

Pameran tunggal Herzven ini tidak hanya menghadirkan karya-karya akhirnya, tetapi juga perjalanan yang membentuknya: mural yang lahir dari kehancuran, karya yang dibentuk dari apa yang tersisa setelah api, serta dokumentasi yang mengikuti proses pemulihan perlahan. Melalui ini, saya berharap para pengunjung dapat melihat bahwa ketika hidup terbelah terbuka, ia dapat mengungkapkan sesuatu yang selama ini menunggu untuk muncul. Pameran ini berlangsung di Nirmana Falatehan Lt. 2, Blok M pada tanggal 11 Januari - 8 Februari 2026. 

Saya menghadiri pameran pada tanggal 21 Januari 2026.


--‐--‐-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Mengenai Judul Pameran "PINATA"

PINATA adalah cerminan dari perjalanan saya sendiri. Sebuah PINATA tidak mengungkapkan maknanya dengan lembut. Ia harus dipukul, dibuka, dan dipecahkan sebelum apa pun di dalamnya dapat muncul. Apa yang tersimpan di dalamnya baru terlihat setelah hantaman itu.

Hal ini selaras dengan bahasa visual dalam karya saya:rumah vang melambanakan asal-usul dan identitas saya, serta bunga dan tanaman yang tumbuh sebagai simbol pembaruan yang menerobos lewat celah-celah. Bersama, semuanya mengingatkan kita bahwa ketika sesuatu pecah, awal dari sesuatu yang baru sebenarnya sudah mulai terbentuk.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Friday, December 19, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 72)

Articulating Otherwise

Gambar-dalam-gambar; layar yang terbagi dua; atau jendela di atas jendela—Anda dapat menampilkannya di depan atau di belakang, sepenuhnya terserah Anda. Kita menjalani hidup yang dipenuhi teks dengan warna berbeda dan garis bawah, membawa kita ke berbagai tempat; ikon kecil berbentuk panah atau pesawat kertas yang membantu kita tetap terhubung; gerakan swipe ke atas tanpa henti, seolah mengganti waktu yang hilang selama perjalanan. Tapi sebelum lanjut, tonton dulu video 5 menit ini. Tahan napas untuk mode 2x speed. Serap sebanyak mungkin—kamu mengendalikan waktumu sendiri, tanpa gangguan.

Di era teknologi yang saling terhubung, realitas kita sering dibentuk oleh derasnya informasi yang berlebihan. Arusnya begitu cepat hingga meluap dan menghantam—datang bergelombang sebelum pikiran dan perasaan kita sempat tenang. Manusia terjebak dalam pusaran antara pengalaman batin sebagai manusia dan kenyataan luar yang dibentuk oleh “kebenaran” institusional yang digerakkan oleh kapitalisme dan sistem yang lahir darinya. Kita lelah dan bingung, seolah terus berperang melawan sesuatu yang tidak terlihat (paranoia muncul dalam banyak bentuk), sehingga cara hidup alternatif terasa samar dan jauh.

Melalui pameran ini, para perupa Galeri Ruang Dini menghadapi kompleksitas realitas masa kini dengan melihat dari sudut pandang berbeda dan menantang pandangan normatif. Delapan seniman ini menciptakan karya mereka secara independen, pada waktu dan tempat yang berbeda-beda, dengan gaya, teknik, dan media yang beragam. Karya-karya yang kini ditampilkan bersama awalnya dikembangkan untuk pameran tunggal masing-masing. Namun, semuanya memiliki benang merah: mencoba menggambarkan cara lain dalam melihat dan menjalani hidup di dunia yang bias dan terpecah. Dalam Articulating Otherwise, Ariadne Maraya, Aulia Yeru, Carla Agustian, Krishnamurti Suparka, Siwi Andika, Sumastania Widyandari, Tamara Alamsyah, dan Tisa Granicia mewujudkan gagasan ini melalui penghayatan batin yang mendalam, penjelmaan pengalaman, menggugat kepastian dan kejelasan yang mutlak, sambil merefleksikan lanskap sosial-lingkungan dan realitas yang kita hadapi.

Melalui Articulating Otherwise, para seniman memperkenalkan cara berpikir dan kondisi ruang yang baru, yang menumbuhkan bentuk-bentuk kehidupan yang berbeda dari biasanya. Yang penting, “otherwise” bukan berarti pilihan yang bersifat dua sisi (hitam-putih), melainkan keberagaman yang luas—sebuah arah pandang yang menolak keputusan yang tertutup dan membuka kemungkinan banyak jalur yang bisa berjalan bersamaan. Ariadne Maraya, Aulie Yeru, Carla Agustian, Krishnamurti Suparka, Siwi Andika, Sumastania Widyandari, Tamara Alamsyah, dan Tisa Granicia mengajak para pengunjung untuk melihat dengan cara yang melepaskan diri dari hal-hal yang dianggap jelas, sehingga dunia dapat dirasakan—dan dihuni—dengan cara yang berbeda. Pameran ini berlangsung mulai tanggal 29 November 2025 di V&V Art Gallery, Jakarta Art Hub 3rd Floor, JI. Timor 25, Menteng, Jakarta Pusat.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 05 Desember 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, December 14, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 71)

The Lazy Dog Jumps Over The Quick Brown Fox

Edisi ketiga The Lazy Dog Jumps Over The Quick Brown Fox menghadirkan sebuah pendekatan baru terhadap tipografi, sebuah eksplorasi yang menempatkan huruf dan angka sebagai ruang kontemplatif untuk memahami IDENTITY. Dalam pameran ini, tipografi tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi visual, tetapi juga sebagai medium emosional yang membuka percakapan tentang ingatan, pengalaman, dan jati diri.

Tema IDENTITY dipilih untuk menanggapi cara generasi muda masa kini yang berhubungan dengan budaya visual. Di tengah derasnya arus informasi dan visual, huruf-huruf sederhana yang sehari-hari kita lihat ternyata menyimpan kemampuan untuk memicu refleksi personal. Melalui bentuk, warna, dan interpretasi yang dibangun para seniman, huruf menjadi simbol yang kaya makna: lembut atau kuat, rapuh atau tegas, akrab atau asing.

Pameran ini mengajak pengunjung membangun hubungan emosional antara bentuk tipografi dengan pengalaman hidup yang mereka bawa. Setiap karya menawarkan jembatan: antara visual dan perasaan, antara simbol dan memori, antara bentuk huruf dan perjalanan identitas yang terus berkembang. Dalam ruang ini, tipografi menjadi wadah tempat pertemuan antara diri dan cerita yang melekat di dalamnya.

IDENTITY juga ditempatkan sebagai ruang kecil yang intim, seperti ruang pribadi, imajinasi, dan refleksi sebuah pertemuan. Huruf dan angka yang biasanya dianggap biasa menjelma menjadi objek yang diharapkan dapat mengundang pengunjung untuk berhenti sejenak, meresapi, dan mungkin menemukan kembali sisi diri yang selama ini tersembunyi. Melalui pendekatan ni, kami membuka kesempatan bagi pengunjung untuk "mengeja ulang" siapa mereka. Membaca ulang bentuk-bentuk yang selama ini dianggap sederhana, dan menemukan lapisan-lapisan baru yang muncul ketika simbol-simbol itu ditempatkan dalam konteks personal dan emosional.

The Lazy Dog Jumps Over The Quick Brown Fox- Part IIl hadir sebagai ajakan untuk melihat tipografi bukan sekadar sebagai desain, tetapi sebagai bahasa batin yang terus berkembang bersama perjalanan hidup masing-masing individu. Pameran ini berlangsung pada tanggal 29 November - 28 Desember 2025 di C-Project by MOT, Wisma Geha, 2nd Floor Jalan Timor No. 25 Jakarta 10350.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 05 Desember 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, December 07, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 70)

Pretty Ugly

Unicorn Gallery Surabaya menggelar pameran duo Pretty Ugly. Acara ini merupakan kolaborasi antara dua seniman kontemporer Indonesia, Talitha Maranila dan Dedy Sufriadi, yang mengusung tema utama mengenai ketidaksempurnaan serta refleksi diri. Bertempat di Hotel UNIC, dari 4 Agustus 2025 hingga 31 Januari 2026, pameran ini secara berani menantang persepsi umum tentang keindahan dalam seni rupa.

Kurator Aldridge Tjiptarahardja dan para seniman mengajak pengunjung untuk merenungkan kembali apa yang membuat sebuah karya seni berharga. Bukan hanya dari segi visual yang menyenangkan, melainkan juga dari gagasan dan kejujuran yang disampaikannya. Pameran ini tidak hanya menampilkan karya duo seniman utama. Melainkan juga karya dari Desy Gitary, Diana Puspita P., Gadogadogue (Aziz), Rudy Mardijanto, Sastia Naresvari, dan Sogik Prima Yoga.

Menurut kurator Aldridge Tjiptarahardja, pameran Pretty Ugly sengaja disajikan sebagai pertentangan dari seni yang terlalu sempurna dan komersial. Ia menjelaskan bahwa "jelek" dalam konteks ini justru memiliki potensi besar dalam dunia seni rupa, terutama di pasar internasional. "Kalau terlalu cakep itu terlalu komersial, dalam arti ada hasrat ingin menjual banget, enggak kelihatan jelek," ujarnya. Aldridge menambahkan, beberapa galeri dan kurator global kini justru lebih menyukai karya yang berani tampil apa adanya. "Yang jelek kok bisa jadi bagus, sedangkan yang dibuat dengan rapi dan super bagus itu kurang bisa diterima di pasar Internasional," imbuh Aldridge, menyoroti pergeseran tren yang lebih menghargai kejujuran dan esensi daripada sekadar polesan estetika.

Pameran Pretty Ugly dan karya-karya di dalamnya mengajak Anda untuk berhenti sejenak dan melihat lebih dalam. Bukan tentang menyukai atau tidak menyukai, melainkan tentang kesediaan Anda untuk merenung dan mencari makna di balik apa yang mungkin dianggap "jelek" atau tidak sempurna. Ini adalah ruang di mana kejujuran, kontradiksi, dan ketegangan justru menjadi sumber inspirasi. Mengajak Anda untuk berpikir kritis tentang nilai seni, diri Anda sendiri, dan dunia di sekitar Anda. 

Saya menghadiri pameran pada tanggal 18 November 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, November 22, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 69)

Interbeing

Duo Exhibition: Hilal Najmi | Kemala Hayati

Keberadaan manusia selalu terjalin dalam hubungan dengan segala yang hidup di sekitarnya. Kita tidak pernah berdiri di luar alam, melainkan tumbuh bersamanya, bernapas dalam ritme yang sama, menyentuh tanah yang sama, dan mengalir bersama air yang sama. Dalam kesadaran ini, Interbeing menjadi pengingat bahwa kehidupan adalah jaringan yang saling terkait, tempat setiap bentuk keberadaan, baik manusia, hewan, tumbuhan, tanah, air, maupun udara, saling memengaruhi, menopang, dan membentuk satu sama lain.

Konsep Interbeing yang berakar dari gagasan keterhubungan universal mengajak kita untuk melihat dunia bukan sebagai kumpulan entitas yang terpisah, melainkan sebagai sistem yang hidup dan bernafas bersama. Di dalamnya, tindakan sekecil apa pun memiliki resonansi yang luas. Setiap tarikan napas mengingatkan kita bahwa oksigen yang kita hirup berasal dari dedaunan, dan setiap langkah yang kita ambil bersinggungan dengan lapisan tanah yang juga menumbuhkan kehidupan lain.

Pameran Interbeing menjadi ruang kontemplatif di mana para seniman menanggapi denyut kehidupan yang saling berjalin melalui berbagai pendekatan visual dan material. Ada yang menyoroti hubungan spiritual manusia dengan alam, ada yang menggambarkan luka ekologis dan ketegangan yang timbul dari eksploitasi, sementara yang lain mengungkap bentuk- bentuk harmoni dan keberlanjutan yang lahir dari kesadaran ekologis. Karya-karya ini tidak hanya menjadi representasi visual tetapi juga menjadi perantara untuk merasakan, mendengar, dan memahami kembali cara kita berelasi dengan dunia.

Dalam menghadapi realitas kontemporer yang ditandai oleh keterputusan dan percepatan, Interbeing menghadirkan ruang jeda. la mengajak kita untuk memperlambat pandangan, mendengarkan ritme alam yang kerap terlupakan, dan menyadari bahwa batas antara manusia dan non-manusia bukanlah garis pemisah, melainkan jembatan yang menghubungkan. Melalui perenungan ini, kita diajak untuk mengenali keberlanjutan sebagai bentuk empati, dan keberadaan sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang lebih luas.

Pada akhirnya, Interbeing bukan sekadar konsep, melainkan kesadaran yang mengalir melalui setiap karya, setiap napas, dan setia setiap detak kehídupan. la mengingatkan bahwa Bumi hidup di dalam diri kita sebagaimana kita hidup bahwa hanya dengan memahami keterjalinan itu, kita dapat menemukan kembali keseimbangan antara keberadaan dan keberlanjutan. Pameran ini berlangsung pada tanggal 01 - 30 November 2025 di Yuan Gallery, Jakarta Art Hub Ranuza.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 14 November 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Wednesday, November 19, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 68)

Echoes of Home

"Echoes of Home” lahir dari kesadaran bahwa rumah, seperti halnya kenangan, selalu bergerak dan berubah. Rumah bukan sekadar titik geografis, tetapi hidup dalam tubuh, dalam bahasa, serta dalam cara kita melihat dan berkarya. Pameran ini menjadi ruang di mana gema-gema tersebut kembali terdengar—bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai getaran yang membuka kemungkinan baru dalam penciptaan.

Para seniman dalam pameran ini masing-masing menelusuri makna rumah dengan caranya sendiri. Beberapa merangkai potongan kenangan masa kecil ke dalam bentuk-bentuk kontemporer, sementara yang lain menegosiasikan identitas di tengah arus modernitas global yang terus berubah. Di antara mereka juga hadir para seniman art toy Indonesia—pencipta yang selama ini berkarya di batas antara seni rupa, desain, dan budaya populer. Dalam pameran ini, disebut "rumah": untuk menunjukkan bahwa art toy bukan sekadar objek permainan, tetapi wadah ekspresi artistik yang berakar pada imajinasi, memori, dan denyut pengalaman kolektif Indonesia. Pameran ini berlangsung pada tanggal 01 - 30 November 2025 di Meiro Gallery, Ranuza Art Hub. Lt 2, Jalan Timor No 10, Menteng, Jakarta.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 14 November 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Tuesday, November 18, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 67)

Whispers of the Inner World

Dalam Whispers of the Inner World, tiga seniman Indonesia: Muhiqballs, Susiyo, dan Kimoz bertemu melalui imajinasi yang hidup, simbolisme personal, dan pencarian akan kebenaran batin. Karya-karya mereka, meskipun tampak berbeda secara visual, disatukan oleh dialog intim antara ingatan, emosi, dan kesadaran diri.

Muhiqballs mengubah nostalgia menjadi mitologi pop yang penuh warna. Terinspirasi oleh kenangan masa kecil dan citra leluhur Tau-Tau dari Tana Toraja, ia membayangkan kembali masa lalu melalui bahasa visual kontemporer yang sarat humor, warna, dan perpaduan budaya.

Susiyo, dengan latar belakang animasi dan desain visual, menyalurkan disiplin gerak dan penceritaan ke dalam gambar. Lukisannya mengungkapkan momen-momen kontemplasi yang tenang dan kedalaman narasi. Setiap komposisi berkembang seperti satu bingkai emosi yang terperangkap antara fantasi dan realitas.

Kimoz mengeksplorasi resonansi spiritual melalui warna dan ketenangan. Karyanya memancarkan energi meditatif. Setiap semprotan cat atau sapuan emas menjadi tindakan sekaligus doa. Di antara keheningan dan ekspresi, ia menemukan keseimbangan sakral tempat penciptaan menjadi bentuk pengabdian batin.

Bersama-sama, para seniman ini mengajak kita memasuki yang tak terlihat untuk mendengarkan suara-suara lembut dari dalam: kenangan yang tertawa, doa yang berkilau, dan keheningan yang berbicara. Pameran ini berlangsung pada tanggal 25 Oktober - 23 November 2025 di Art WeMe Contemporary, Wisma Geha, 3rd Floor JI. Timor 25, Menteng, Jakarta.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 07 November 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, November 16, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 66)

Sambung Lakon

"Sambung-Lakon" adalah istilah dalam dunia wayang yang merujuk pada keberlanjutan cerita-baik dari satu babak ke babak berikutnya, maupun dari satu tokoh ke tokoh pengganti. Namun dalam konteks pameran ini, Sambung-Lakon menjadi simbol bagi perjalanan artistik yang tidak berdiri sendiri, melainkan tersambung oleh jejak, ingatan, dan nilai yang terus diwariskan.

Pameran ini menghadirkan tiga seniman: Andi Acho Mallaena (Acho), Elang Sutajaya (Elang), dan Yula Setyowidi (Yula)--tiga individu yang datang dari latar belakang berbeda, namun berbagi benang merah: menjadikan seni rupa sebagai ruang untuk menyambung narasi personal, sosial, dan kultural. Acho menghadirkan figur-figur dari dunia shio sebagai metafora sifat manusia dan keberanian. Warna-warna cerah dan pola tekstil seperti quilt menjadi simbol bagaimana pengalaman hidup-termasuk luka dan harapan-bisa dijahit ulang menjadi identitas baru. Elang, lewat pendekatan yang jujur dan penuh nostalgia, menghidupkan kembali imajinasi masa kecil dan nilai-nilai keluarga yang membentuknya. Sementara Yula membawa kita ke dunia yang bermain di antara realitas dan absurditas--melalui komposisi ruang dan bentuk yang membuka refleksi tentang keberadaan, pikiran, dan spiritualitas.

Melalui 23 karya dua dimensi berupa lukisan, sketsa, dan drawing, pameran ini tidak hanya menyajikan visual yang menggugah tetapi juga membuka ruang untuk bertanya: sejauh mana kita mengenali cerita hidup kita sendiri? Dan kepada siapa kita menyambung lakon. Dalam dunia yang terus berubah, Sambung-Lakon adalah ajakan untuk melihat bahwa tidak ada yang benar-benar dimulal dari nol. Setiap langkah adalah lanjutan dari cerita yang lebih panjang--yang ingin terus dirawat, diruwat, dan dibagikan. Pameran ini berlangsung di C Project, Wisma Geha - 2nd Floor tanggal 25 Oktober - 25 November 2025. 

Saya menghadiri pameran pada tanggal 07 November 2025.



Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, October 11, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 65)

Fabulous Daymare

Seri lukisan-lukisan mutakhir Andry Boy Kurniawan bergerak terus dan coba menggali kemungkinan-kemungkinan baru dari karya yang telah dikerjakan sebelumnya. Banyak bagian dari lukisan itu berubah tetapi juga masih ada garis sambung yang menghubungkannya dengan gagasan karya sebelumnya. Boy sepertinya mengambil inspirasi tradisi seni lukis Romantik yang punya kecenderungan pada tema-tema yang eksotik, tapi ia kerjakan dengan caranya sendiri. Sebagaimana lukisan-lukisan Romatik, karya Boy pun menekankan unsur kekuatan warna untuk menghidupkan efek dramatis dan emosi. Bagian penting lainya adalah masalah jarak yang juga berkaitan dengan prinsip eksotisme gerakan seni Romantik. Boy nampaknya coba menghadirkan lagi jarak terhadap pengalaman hidup keseharian kini sehingga menjadi wujud pengalaman lain yang dihidupkan 'semangat kenangan muda' milik setiap orang. Boy mencoba 'menantang' realitas pengalaman hidup kini yang kian jadi simulatif dan membius untuk kembali menjadi pengalaman yang eksotik. Boy menarik jarak dalam pengalaman tiap orang, setiap hari, yang telah terbiasa menikmati berbagai bentuk hiburan simulasi peperangan dan kehancuran dengan menghadirkan cara penerimaan ketika tiap orang masih sangat muda dan 'innocent.' Boy ingin memunculkan kembali ekspresi pertanyaan yang penuh rasa ingin tahu, milik masa muda, untuk menyadarkan semua keadaan yang melenakan dari pengalaman hidup kini. Pameran ini berlangsung pada tanggal 25 September - 25 Oktober 2025 di Galeri ZEN1 Jl. Purworejo No. 24, Dukuh Atas, Menteng Jakarta Pusat 10310.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 02 Oktober 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Tuesday, September 30, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 64)

The Subconscious Room

Ada ruang-ruang sunyi dalam diri manusia yang jarang tersentuh cahaya kesadaran. la tidak selalu berbicara lantang, tetapi keberadaannya menetap dalam emosi yang sulit dijelaskan, ingatan yang samar, dan intuisi yang muncul tanpa alasan yang jelas. The Subconscious Room adalah sebuah pameran yang mengajak kita masuk ke wilayah batin yang tersembunyi. Di sini, seni menjadi jendela untuk memahami sisi terdalam dari pengalaman manusia. Bukan sekadar bentuk ekspresi, tetapi juga sebagai medium refleksi. 

Pameran ini mempertemukan karya-karya dari seniman yang menyelami kesadaran bawah sadar mereka dan mewujudkannya melalui berbagai medium seperti lukisan, instalasi, objek, hingga bentuk eksperimental yang reflektif. Setiap karya menghadirkan fragmen personal yang membawa kita pada perenungan tentang ketegangan batin, kehilangan, harapan, dan bisikan emosi yang sering kali terabaikan. Tidak ada satu narasi tunggal yang mendominasi. Sebaliknya, setiap karya menjadi ruang terbuka bagi penonton untuk merespons dengan cara yang unik dan personal. Pameran ini menampilkan karya dari Anjastama, Bahaudin, Cade, Don Bosco Laskar, Dzulfahmi Abyan, Huang Zhijun, Rumondang, Ufa Faizah, Yula Setyowidi, dan Zulfa Zuppe.

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan, The Subconscious Room menjadi ajakan untuk memperlambat langkah dan mendengarkan diri sendiri. Keheningan dalam ruang ini bukanlah kekosongan, melainkan ruang yang sarat makna. la mengingatkan bahwa tidak semua hal harus djelaskan secara rasional agar bisa dipahami secara emosional. Pameran ini mengangkat keheningan sebagai nilai yang sah untuk dihadirkan dan dirayakan. 

Kesadaran bawah sadar hadir dalam bentuk yang tidak selalu logis. la muncul dalam mimpi yang aneh, dalam keputusan yang diambil tanpa alasan jelas, atau dalam dorongan untuk mencipta yang datang tiba-tiba. Para seniman dalam pameran ini menangkap momen-momen itu dengan cara yang jujur dan intuitif. Melalui proses penciptaan yang tidak selalu terencana, mereka menunjukkan bahwa dalam kerentanan manusia tersimpan kekuatan dan ketahanan yang tidak kalah besar. 

Lebih dari sekadar ruang pamer, The Subconscious Room adalah tempat untuk hadir secara utuh. Hadir dengan luka, harapan, intuisi, dan suara hati yang mungkin tidak terdengar, tetapi nyata. la adalah ruang perantara di mana batas antara luar dan dalam menjadi kabur. Tempat di mana yang tak terlihat bisa dirasakan, dan yang tak terucapkan bisa dipahami. Lewat karya-karya yang lahir dari kesunyian, pameran ini menjadi ruang yang menyentuh, mengingatkan, dan menyembuhkan. Pameran ini berlangsung pada tanggal 09 Agustus 2025 sampai 05 Oktober 2025 di Yuan Gallery, Jakarta Art Hub Ranuza.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 26 September 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, September 28, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 63)

Harum Tanah Ketika Hujan Pertama

"Harum Tanah Ketika Hujan Pertama" kerap dinamai hujan bau tanah, atau bau alam. la juga menandai perihal waktu, ada peristiwa alam - menandakan berakhirnya musim kemarau berganti musim hujan, akan menumbuhkan tetumbuhan yang sudah mengering, tetumbuhan yang sudah menyatu bersama tanah. Secara metaforik juga bisa diartikan cara alam menyapa kita, aromanya membisikkan tentang kenangan masa lalu, sekaligus membawa pesan akan datangnya hari gembira. 

Keunikan peristiwa "Harum Tanah Ketika Hujan Pertama" seperti merasakan kehadiran karya Rangga Aputra dalam pameran tunggalnya ini. Ada kesederhanaan dalam memilih diksi dan warna yang dipungut dari seputar keseharian serta lingkungan sekitar -diksi dan warna yang ekologis tumbuh pada keseluruhan karyanya. Pemilihan diksi yang sangat mudah dipahami, diksi-diksi yang lebih dekat dengan alam lingkungan, tanah, langit, dedaunan, tetumbuhan yang menyerupai sulur-sulur dengan beragam fantasi dan naluri. Ketaksadaran itu melekat bersama memorinya, pengalaman sosial, kultural, spiritual, atau keinginan merawat kenangan yang beririsan dari masa lalu dan kehidupan sehari-hari, nostalgis, sekaligus empirisme. 

Kesederhanaan lain yang bisa kita jumpai adalah gerakan artistik yang melatarbelakangi kekaryaan justru bukan dari tetumbuhan, melainkan berangkat dari "bias cahaya" yang memunculkan bercak hitam putih seperti kunang-kunang bertebaran yang jauh pada penglihatan, berkedip, ada bintik-bintik atau garis-garis cahaya menyerupai bentuk-bentuk' yang mengambang, saling berkelindan, saling-silang dan seterusnya, Disaat yang sama muncul juga abstraksi dedaunan, batang tanaman atau tetumbuhan yang berfantasi menyerupai sulur-sulur. Pergerakan garis-garisnya juga hadir tanpa struktur yang formal dan disana kita lebih menjumpai brushstroke yang ekologis sehingga semakin menguatkan ketaksadaran pada kekaryaan Rangga - ada kecenderungan subjektif, lebih mendekat pada hal-hal yang unik dan mampu dibaca oleh jiwa. Pameran ini berlangsung pada tanggal 13 September 2025 - 06 Oktober 2025 di Dgallerie Jakarta.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 24 September 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Wednesday, September 03, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 62)

Campur Series

Campur Series adalah ruang visual yang diciptakan oleh OGGZGOY, penuh dengan bentuk-bentuk bebas, warna-warna yang saling bertabrakan, dan cerita-cerita berlapis. Inti dari semuanya adalah satu karakter sederhana: sebutir telur. Tapi bukan sembarang telur. Telur ini bukan simbol kelahiran atau akhir, melainkan mewakili proses yang tak berujung, tanpa tujuan pasti. Telur ini tumbuh liar, berubah bentuk dengan bebas, dan menyerap berbagai elemen tanpa batas. Terkadang lucu, terkadang absurd, seringkali sulit dijelaskan. Setiap karya di ruang ini adalah fragmen perjalanan telur yang berkembang tanpa arah, namun entah bagaimana menemukan identitasnya di tengah kekacauan. 

Melalui karya seni ini, OGGZGOY membangun dunia yang apa adanya dan tulus. Tanpa pola yang tetap, tanpa aturan. Hanya naluri, dorongan, dan keberanian untuk memadukan semuanya menjadi satu ekspresi yang utuh. Di dunia yang senantiasa mengajarkan kita untuk "menjadi sesuatu", Campur Series merayakan proses menjadi, apa pun bentuknya. Pameran ini berlangsung pada tanggal 09 Agustus - 08 September 2025 di C'Project by MoT, JKT ART HUB Wisma Geha, 2nd floor JI. Timor No.25 Menteng, Central Jakarta.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 26 Agustus 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Monday, September 01, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 61)

Light Ignition

Pada Sabtu, 9 Agustus 2025, Yong Rae “Yong R.” Kwon, seniman asal Seoul, Korea, secara resmi menggelar pameran tunggalnya bertajuk “Light Ignition” di Kendys Gallery, Jakarta. Yong R. Kwon yang dikenal atas eksplorasinya terhadap cahaya sebagai elemen utama dalam karya seninya merupakan lulusan jurusan seni rupa di Universitas Nasional Seoul. Sampai saat ini, ia telah menggelar lebih dari 19 pameran tunggal sejak tahun 1989. Pameran tunggal Yong R. Kwon di Jakarta menjadi kolaborasi kedua antara Kendys Gallery Jakarta dan B-tree Gallery dari Seoul dan Busan dalam menghadirkan seniman Korea ke panggung seni Indonesia.

Direktur Kendys Gallery, Denny Yustana, menjelaskan bahwa Light Ignition tidak hanya merujuk pada ledakan cahaya secara harfiah, tetapi juga menyiratkan kelembutan dan permulaan. “Walaupun karya-karya ini punya kontras yang kuat, refleksi cahayanya bergradasi dan lembut di atas kanvas putih. Jadi ada perpaduan antara keberanian dan kehati-hatian. Setiap elemen ditempatkan dengan penuh kesabaran, satu per satu,” ungkapnya. Karya-karya Yong R. Kwon menampilkan ribuan keping stainless steel yang disusun di atas kanvas setelah melalui proses pemolesan, pemipihan, dan pewarnaan. Dengan pencahayaan sederhana, karya-karya tersebut memantulkan cahaya yang tampak seperti api yang tidak pernah padam. Cahaya dalam karya-karya ini bukan sekadar alat bantu visual, melainkan menjadi inti dari ekspresi artistik itu sendiri.

Dalam wawancaranya, Yong R. Kwon berbagi kisah awal mula tercetusnya ide untuk menggunakan stainless steel sebagai medium utama. Sekitar 15 tahun lalu, Kwon tengah merenungkan arah karyanya. Di tengah kebingungan itu, ia menikmati chimaek, akronim untuk hidangan ayam goreng dan bir khas Korea, lalu membuang bungkus aluminium ke tempat sampah. Di ruangan studionya yang gelap, pantulan cahaya yang tampak dari aluminium itu memantik inspirasi. Dari momen sederhana itulah, lahir gagasan untuk menciptakan karya berbasis cahaya.

Melalui pameran ini, Yong R. Kwon ingin menyampaikan bahwa setiap orang memiliki percikan cahaya di dalam diri mereka. Cahaya tersebut adalah bentuk harapan, yang muncul bahkan di saat-saat paling rapuh. Seperti lilin kecil yang menyala dalam gelap, ia membawa kekuatan dan ketenangan. Lewat pameran ini, Kwon ingin mengingatkan bahwa cahaya adalah harapan yang bisa menyala dalam diri siapa pun. Karya Yong R. Kwon yang tampak sederhana namun sarat detail dan makna, mampu membuat pengunjung belajar cara memaknai cahaya, baik sebagai objek seni maupun sebagai metafora dalam kehidupan. Pameran ini berlangsung pada tanggal 09 Agustus - 06 September 2025 di Kendys Gallery.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 26 Agustus 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, August 31, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 60)

Another World

Another World menyatukan dunia imajinatif dua seniman berbeda dalam sebuah pameran duo (Fauzan dan Joko Nastain) yang mengajak pengunjung untuk melangkah melampaui batas-batas yang familiar. Melalui bahasa visual yang kontras namun saling melengkapi, masing-masing seniman menawarkan visi personal tentang realitas alternatif—dunia yang dibentuk bukan oleh logika atau konvensi, melainkan oleh emosi, ingatan, dan kemungkinan. Dalam ruang bersama ini, imajinasi menjadi bentuk perlawanan dan keajaiban—alat untuk membayangkan kembali eksistensi di luar batasan keseharian. Dari lanskap surealis hingga interpretasi abstrak mimpi batin, karya-karya ini menantang pengunjung untuk menangguhkan ketidakpercayaan dan mengeksplorasi apa yang mungkin terjadi, alih-alih apa yang nyata.

Another World bukanlah tempat tunggal, melainkan pertemuan berbagai perspektif—titik temu dimana dua pikiran artistik mengungkap semesta paralel, mengundang kita untuk mempertimbangkan cara-cara baru dalam melihat, merasakan, dan menjadi. Pameran ini berlangsung di Vice & Virtue Gallery pada tanggal 9 - 31 Agustus 2025.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 26 Agustus 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, August 30, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 59)

Are We Ok ?

Perkembangan teknologi telah mengubah pola hidup manusia. Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Hubungan antarmanusia, yang dulu berpusat pada pertemuan langsung dan interaksi tatap muka, telah bergeser ke ranah virtual—cepat dan tanpa batas.

Konsep sosialisasi telah berubah. Melalui media, hubungan sosial mungkin menjadi dangkal; identitas dapat disembunyikan, dan ini pada akhirnya memengaruhi kesehatan mental. Situasi semakin memburuk selama pandemi Covid-19, ketika manusia sebagai makhluk sosial menjadi semakin individualistis, terisolasi, dan menarik diri.

Oleh karena itu, kesehatan mental menjadi tema Pameran OPC (One Piece Club) 2025: "ARE WE OK?". Pertanyaan ini tercermin dalam karya-karya yang dikurasi, di mana para seniman dan kolektor terhubung melalui karya-karya yang mengungkap kesepian, kebingungan, dan pencarian identitas. Diri yang tersembunyi digambarkan melalui imajinasi tanpa batas, di mana "perasaan" dan "empati" seringkali terabaikan. Ruang-ruang kosong, tatapan yang jauh, dan objek-objek yang dipenuhi ketakutan dan ketidakpastian muncul dengan jelas.

Lebih jauh lagi, komunitas terpinggirkan yang lahan produktif dan hak perumahannya terancam oleh tekanan kapitalisme, yang memaksa mereka bermigrasi ke kota-kota besar dan bertahan hidup di daerah kumuh—juga mengalami perjuangan kesehatan mental. Perjuangan kemerdekaan dan gejolak politik—mulai dari pembakaran, perusakan, pengkhianatan, hingga negosiasi tanpa akhir lintas generasi—telah meninggalkan rasa cemas yang diwariskan kepada setiap generasi.

Namun keindahan alam, persahabatan, kebersamaan, dan penyerahan diri terus memberikan dampak positif pada kesehatan mental. Beberapa karya dalam pameran ini mencerminkan kondisi tersebut. Pergeseran praktik seni kontemporer melalui media dan teknologi—dari seni video dan animasi hingga NFT—juga menjadi bagian tak terpisahkan dari pameran ini. Pameran OPC Indonesia 2025 menampilkan 56 karya individu dan 1 karya kolektif dari 51 anggota, yang mencerminkan antusiasme para pencinta seni Indonesia. Pameran ini berlangsung pada tanggal 23 - 31 Agustus 2025 di RUCI Art Space.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 27 Agustus 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, August 23, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 58)

In Between Stillness

Wedhar Riyadi menggelar pameran tunggal bertajuk In Between Stillness di Ara Contemporary, Jakarta, pada tanggal 16 Agustus hingga 14 September 2025. Pameran ini menampilkan seri terbarunya, Tabletop Diaries. Dengan semangat merayakan sisi-sisi kehidupan manusia yang terabaikan dan biasa saja, yang muncul dari pengamatannya yang tenang selama isolasi pandemi, Riyadi melukis susunan benda-benda mati, menggemakan tradisi lukisan still life, tetapi benda-benda yang ia gambarkan merupakan replika tanah liat. 

“Ini merupakan pameran pertama saya di Jakarta setelah yang terakhir 14 tahun yang lalu. Karya seni ini merupakan hasil observasi saya selama masa pandemi yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Karena itu karya patung instalasi dan lukisan saya ini berhubungan dengan apa yang saya lihat sehari-hari, benda-benda rumahan,” tutur Wedhar, mengawali penjelasannya kepada media, Jumat (15/8/2025). 

Reproduksi ini tidak dimaksudkan untuk direplikasi; melainkan direduksi menjadi monokrom tanpa label atau karakteristik apa pun, yang memungkinkan benda-benda tersebut mengungkapkan maknanya melalui penikmatnya dengan mencerminkan prinsip spiritual bahwa makna muncul dalam keheningan dan kekosongan. Tabletop Diaries melanjutkan eksplorasi Riyadi yang berkelanjutan terhadap konteks-konteks yang saling bertentangan dalam satu komposisi tunggal, yakni alam dan buatan, di mana, dalam karya-karya sebelumnya, ia melukis potret-potret yang dihiasi unsur-unsur karakter lucu. Secara tradisional, lukisan still life mengungkap kefanaan eksistensi manusia melalui kefanaan objek-objek seperti buah yang digigit, bunga yang layu, dan rangkaian bunga buatan manusia. Demikian pula, dalam karya-karya Riyadi, jejak kehadiran manusia terasa pada permukaan-permukaan tanah liat yang terjepit. 

Jejak sentuhan, keausan, noda, goresan, dan patina menjadi lapisan sejarah, penanda bahwa benda-benda ini pernah hidup. Tanah liat, atau dalam hal ini tanah, telah lama melambangkan penciptaan sekaligus akhir kehidupan. Kecemerlangan latar belakang dan pencahayaan yang menyilaukan menghadirkan kesan artifisial. Ketegangan antara alam dan sintetis, yang hidup berdampingan dalam satu komposisi, mengajak kita untuk mempertimbangkan apakah kita secara naluriah lebih mengutamakan alam daripada buatan manusia, atau mungkin sebaliknya. 

“Mengapa saya mereplikasikan benda-benda yang ada di rumah dengan tanah liat, karena merupakan medium yang mewakili manusia. Medium yang sifatnya sensitif, juga merekam lingkungan sekitar kita, ada bekasnya, ada keausannya, dia juga lunak seperti tubuh manusia, sekaligus rentan. Selain itu, cara melukis saya pakai metode still life jadi antara seniman dengan objeknya saling berhadapan, sehiingga ada koneksi,” jelasnya. Seri terbarunya, Tabletop Diaries, menggambarkan susunan benda-benda rumah tangga yang terbuat dari tanah liat, merujuk pada lukisan still-life abad ke-16, yang sering kali mengeksplorasi tema-tema kehidupan dan perjalanan waktu, serta kaitan tanah liat atau tanah dengan asal-usul dan akhir kehidupan manusia.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 19 Agustus 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, August 17, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 57)

Whoever Stays Until The End Will Tell The Story

ROH merasa terhormat mempersembahkan "Whoever Stays Until The End Will Tell The Story", pameran tunggal pertama Agung Kurniawan (lahir 1968, Jember, Indonesia) di galeri ini. Pameran ini menampilkan proyek-proyek jangka panjang yang telah digarapnya selama lebih dari satu dekade, berdialog dengan sejumlah seniman baru untuk pameran tersebut, termasuk relief dinding teralis, gambar di atas kertas, instalasi kinetik, performans, dan lukisan. Pameran ini menekankan berbagai aspek praktik Kurniawan—inovasi berkelanjutannya dalam interaksi antara gambar dan performans sebagai bentuk latihan memori, kembalinya yang sering ke alegori sakral sebagai skema untuk menguraikan ambiguitas moral yang membentuk kehidupan kolektif—dan bekerja bersama sebagai perangkat untuk memandu hafalan akan relevansi abadi dari kisah-kisah tentang iman, pengkhianatan, harapan, dan pengorbanan ini.

Agung Kurniawan mengubah ingatan menjadi tarian rekonsiliasi melawan kelupaan, di mana gambar di atas kertas, pertunjukan, relief dinding teralis, dan lukisan berperan sebagai saluran pelestarian. Karya-karya Kurniawan berfungsi seperti manuskrip beriluminasi—sebagai alat untuk mendorong diskusi dan memengaruhi kehidupan sehari-hari dalam kaitannya dengan struktur yang jauh lebih besar. "Dalam perjalanan menuju perjuangan yang gagal, Anda membutuhkan lamunan," ujarnya. Kehidupan sehari-hari terjalin dengan simbolisme sakral, memantulkan ke luar ke dalam segudang harapan, keputusasaan, dan pertanyaan eksistensial yang berkelanjutan. Membingkai lukisan-lukisannya—yang terbenam dalam nuansa merah—sebagai penyeimbang puitis terhadap praksis, ini adalah ruang untuk empati dan kekerabatan universal yang dilatarbelakangi oleh keterikatan sejarah pribadi kita dan hubungannya dengan konteks global yang lebih luas. Pameran Whoever Stays Until The End Will Tell The Story berlangsung pada tanggal 6 Agustus - 7 September 2025 di ROH, Jalan Surabaya 66, Jakarta 10310.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 15 Agustus 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.