Sunday, May 10, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 85)

The Superlative Artistry of Japan

The Japan Foundation adalah badan pemerintah khusus yang didirikan pada tahun 1972 dengan tujuan mempromosikan pemahaman internasional melalui pertukaran budaya. Badan ini menyelenggarakan berbagai proyek di tiga bidang utama kegiatan: pertukaran seni dan budaya, pendidikan bahasa Jepang di luar negeri, serta studi Jepang dan pertukaran intelektual. Di bidang seni rupa, yang merupakan bagian dari program pertukaran seni dan budaya kami, kami berupaya memperkenalkan seni Jepang melalui pertukaran timbal balik antara Jepang dan negara-negara lain.

Sebagai bagian dari kegiatan ini, kami secara rutin menyelenggarakan pameran keliling yang berkunjung ke berbagai penjuru dunia. Pameran ini menampilkan karya-karya dari koleksi Japan Foundation sendiri dan mencakup beragam tema, termasuk kerajinan tangan, lukisan, fotografi, arsitektur, dan desain. Sekitar 20 pameran sedang berlangsung secara bersamaan dan diselenggarakan di sekitar 100 kota setiap tahunnya. 

Pada kesempatan ini, kami dengan bangga mempersembahkan "The Superlative Artistry of Japan", sebuah pameran keliling yang menampilkan koleksi terpadu berupa karya dari berbagai jenis bahan yang sangat menekankan pada teknik yang sangat mahir, ekspresi dan konsep yang terampil, serta tingkat kesempurnaan tinggi yang memukau pengunjung. Dimulai dengan memperkenalkan karya-karya kogei era Meiji (1868-1912) yang memiliki peran penting dalam memicu tren Japonisme di Eropa abad ke-19, pameran ini tidak hanya menampilkan berbagai karya seni kontemporer tingkat tinggi, tetapi juga mencakup figur mainan kapsul dan sampel makanan yang menggambarkan komitmen yang kuat terhadap keahlian kerajinan. 

Melalui pameran ini, kami bermaksud memperkenalkan teknik-teknik tingkat tinggi dari setiap karya serta berbagai bentuk ekspresi yang bahkan melampaui keterampilan dan keahlian tersebut, dengan harapan para pengunjung dapat menghargai bagian khusus dari budaya kreatif Jepang yang menghormati keahlian kerajinan dan secara konsisten menunjukkan ketelitian serta dedikasi yang mendalam terhadap proses produksi. 

Kami juga ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada Bapak Yuji Yamashita yang berperan sebagai supervisor pameran, para seniman yang dengan baik hati bersedia memamerkan karya-karya mereka, serta kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, bantuan, dan kontribusi yang begitu besar. Pameran ini berlangsung pada tanggal 05 - 25 Mei 2026 di Sakura Hall, The Japan Foundation, Jakarta.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 08 Mei 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, May 09, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 84)

Incidental States, Their Remains

Daya cipta jarang terbentuk oleh peristiwa besar semata. Lebih sering, ia tersusun dari situasi-kondisi kecil yang datang tiba-tiba: ritme yang berulang, jeda yang nyaris tak terasa suasana yang bergeser pelan, atau perjumpaan singkat dengan material, ruang, dan ingatan. Hal-hal semacam ini sering luput dari perhatian ketika terjadi, tetapi justru di sanalah kekaryaan meninggalkan bekasnya. 

Pameran Incidental States, Their Remains berangkat dari perhatian pada bekas-bekas tersebut. Bukan pada peristiwa sebagai pusat makna, melainkan pada sisa yang tertinggal setelahnya--residu pengalaman, fragmen visual, atau jejak material yang mengendap dalam karya. Dalam konteks ini karya seni menjadi wadah, di mana keadaan-keadaan yang pernah lewat dapat dibaca kembali bukan sebagai cerita lengkap, tetapi sebagai bentuk yang menyimpan ingatan akan sesuatu yang pernah terjadi. 

Dalam praktik Cecil Mariani, keadaan tersebut sering muncul sebagai gambar yang berada di antara realitas dan imajinasi, menghadirkan fragmen pengalaman batin yang mendasar pada simbol maupun mitologi. Erik Rifky Prayudhi bekerja melalui transformasi visual yang mempertemukan idiom naturalistik dengan yang sintetik, memperlihatkan bagaimana garis dan bentuk dapat terus berubah melalui proses translasi material. Pada Taufiq HT, ruang dihadirkan melalui flora, fauna, dekorasi warna, dan perkakas; permainan perspektif dalam karyanya menunjukkan bahwa kenyamanan ruang bersifat relatif. 

Dalam karya Chakra Narasangga, drawing menjadi medium rekaman batin dan perubahan kondisi gelap terang, guratannya intens dan atmosferik. Hilman Hendarsyah melihat patahan sebagai metafora manusia dan lingkungannya--seperti kayu yang masih bertahan namun perlahan tergerus tekanan dan pelapukan. Sementara Reggie Aquara menangkap spontanitas melalui impasto yang padat dan taktil, di mana tumpukan cat meninggalkan gumpalan piksel yang emosional di permukaan lukisan. 

Melalui pendekatan yang masing-masing berbeda, keenam seniman ini memperlihatkan bahwa yang tertinggal dari kehidupan sering bukan peristiwanya melainkan keadaan-keadaan kecil yang melintas dan meninggalkan kesadaran estetik. Dari lintasan itulah kita mulai merasakan kembali keseharian kekaryaan--bukan sebagai rutinitas yang datar, tetapi sebagai bentuk kehidupan: elusif, bergerak, dan selalu mengajukan untuk dimaknai ulang. Pameran ini berlangsung pada tanggal 11 April 2026 - Mei 2026 di Ranuza Building, 2nd Floor, Jl. Timor No 10 Menteng, Jakarta.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 08 Mei 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 83)

She Lit My Mouth Without a Word

Pameran tunggal pertama dari Sasi Organ ini menampilkan rangkaian lukisan cat minyak, instalasi kinetik, patung, dan karya berbasis teks. Pameran ini menjadi penanda tiga tahun sejak sang seniman kembali ke Thailand, tanah kelahiran ibunya. Melalui tema tentang hasrat dan kehilangan yang terus berulang, pameran ini menghadirkan pengalaman yang kuat secara inderawi dan psikologis, yang dibentuk oleh ingatan, ritual, dan tubuh.

Dalam seluruh pameran, yang dipengaruhi oleh latar belakang Thai-British miliknya, Sasi Organ menggunakan berbagai benda dan material dari kedua budaya tersebut. Ia mengolah dan menempatkannya kembali sebagai pembawa sejarah pribadi maupun sejarah bersama. Salah satu unsur yang terus dieksplorasi adalah buah pinang (betel nut), yang bagi Sasi Organ memiliki makna kuat karena menggambarkan perubahan tubuh sekaligus perubahan nilai budaya dari waktu ke waktu. 

Berbagai elemen ini tidak hanya berfungsi sebagai simbol, tetapi juga sebagai wadah ingatan yang melekat pada pengalaman tubuh, tempat di mana kedekatan, kedisiplinan, dan warisan keluarga saling bertemu. Melalui pendekatan ini, Sasi Organ merefleksikan hubungan keluarga dan pewarisan budaya yang rumit, di mana kasih sayang dan batasan sering hadir secara bersamaan. Unsur api muncul sebagai elemen penting yang terus berulang dalam pameran ini, hadir dalam tindakan yang bersifat pribadi maupun ritual. Api muncul dalam bentuk perawatan, perubahan, disiplin, dan juga dalam praktik Yu Fai, yaitu tradisi perawatan ibu setelah melahirkan di Thailand. Sebagai sumber kehangatan sekaligus kekuatan yang dapat menghancurkan, api menjadi metafora yang terus berubah—bergerak antara kepedulian dan keretakan, kehidupan dan kehancuran. Karena itu, pameran ini tidak dibangun melalui cahaya yang terang dan pasti, melainkan melalui nyala api yang tidak stabil, di mana apa yang terlihat hanya sebagian dan makna terus berubah.

Pada akhirnya, “She lit my mouth without a word” membahas bagaimana ingatan disimpan, berubah, dan hidup dalam diri seseorang—tentang apa yang tetap dipertahankan, apa yang perlahan memudar, dan apa yang terus membentuk jati diri seseorang. Pameran ini berlangsung pada tanggal 11 April 2026 - 10 Mei 2026 di Ara Contemporary, Jl. Tulodong Bawah I No.16, RT.3, Senayan, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 06 Mei 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, April 12, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 82)

Food for Thought

Ada sesuatu yang selalu kita konsumsi tanpa benar-benar kita sadari: prosesnya. Makanan hadir sebagai hasil akhir, sementara kerja di baliknya kerap luput dari perhatian. Hal yang sama terjadi dalam seni rupa: yang terlihat adalah karya, bukan bagaimana ia dipilih, diolah, diuji, dan diberi nilai. 

Food for Thought bekerja pada dua ranah sekaligus. Pertama, ia membaca praktik seni rupa sebagai proses transformasi dari bahan menjadi bentuk. Kedua, ia menempatkan konsumsi sebagai lensa untuk melihat bagaimana makna dan nilai diproduksi serta diterima. 

Struktur pameran ini mengikuti alur pengolahan tersebut: Ingredient, Appetizer, Main Course, Dessert, Plating, dan Aftertaste. Pembagian ini bukan sekadar permainan istilah kuliner, melainkan pendekatan kuratorial untuk membaca tahapan transformasi dalam praktik artistik. Pameran ini berlangsung pada tanggal 07 Maret 2026 - 30 April 2026 di D Gallerie, Jl. Barito I No.3, Jakarta Selatan.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 10 April 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 81)

Biophilia: Exquisite Corpse

ISA Art Gallery membagikan dokumentasi instlasi pameran “Biophilia: Exquisite Corpse”. Pameran ini terinspirasi dari permainan seni surealis bernama Exquisite Corpse, yaitu permainan yang berkembang secara spontan dan tidak terduga. Karya-karyanya tersusun sedikit demi sedikit, seperti riak air yang menyebar atau lingkaran pohon yang terus bertambah seiring waktu. Melalui pameran ini, para seniman mengajak kita melihat siklus pertumbuhan dan kerusakan di alam. Tubuh, sistem, dan lingkungan digambarkan sebagai sesuatu yang selalu berubah. Pameran ini juga mengingatkan kita bahwa kehidupan bergantung pada keseimbangan yang rapuh, sehingga kita perlu lebih peduli terhadap hubungan kita dengan alam dan ekosistem tempat kita hidup. 

Seri pameran yang diadakan setiap dua tahun ini berfokus pada isu lingkungan. Tahun ini, Exquisite Corpse menghadirkan karya dari Arahmaiani, Dabi Arnasa, Anang Saptoto, CynthIa Delaney Suwito, Fitri DK, Kynan Tegar x Studio Birthplace x Novo Amor, Mater Design Lab, Reza Kutih, dan Teguh Ostenrik. Mereka bersama-sama mengeksplorasi bagaimana manusia dan alam saling terhubung dan saling bergantung. Pameran berlangsung pada tanggal 14 Februari 2026 sampai 16 April 2026 di ISA Art Gallery, Wisma 46, Jakarta Pusat.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 27 Februari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, March 01, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 80)

Inner Sight

RB. Mamet Swalle, yang lebih dikenal dengan nama sapaan RB Ali, adalah pelukis yang juga gemar menulis puisi. Ekspresi lukisan-lukisan Ali, terutama yang dipamerkan kini, pun banyak mengandung ungkapan tulisan atau huruf. Karya-karya yang ditunjukkan ini merujuk pada renungan perjalanan hidup RB Ali dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Ada rentetan peristiwa penting dan menentukan alur hidup Ali pada masa-masa itu. 

Banyak orang mafhum bahwa 'kehidupan manusia adalah panggung sandiwara', dan bagi Ali, panggung itu juga mementaskan narasi getir dalam hidup yang justru memicunya menjadi sumber penciptaan karya. Lukisan Ali mengandung narasi dengan ungkapan yang puitik. Ada banyak gambaran tentang sosok manusia, selain benda-benda atau bentuk-bentuk 'asing' yang ia ciptakan secara kreatif. 

Proses deformasi bentuk yang dikerjakan Ali ditempatkan dalam susunan komposisi bidang kanvas yang dipertimbangkan menjadi harmonis. Ekspresi lukisan Ali, nampaknya, menyerap namun memantulkan secara unik pengaruh kecenderungan bebas gerakan seni surealisme (khususnya karya Joan Miro), serta pertimbangan struktural abstrakisme Georges Braque (namun dengan karakter komposisi warna yang tidak sama). Menghubungkan dua pendekatan proses penciptaan seni yang berkarakter berbeda itu akhirnya menghasilkan karakter ekspresi yang unik dan khas pada lukisan Ali. 

Ada soal kontras di situ, tentang memadukan dua hal yang umumnya dianggap bertentangan dan tak bisa dihubungkan. Inner Sight RB Ali justru menciptakan caranya sendiri. Ali percaya bahwa tiap tragedi hidup seseorang tak hanya menambat jeruji eligi duka, tetapi juga memendam energi cita yang bersifat membebaskan, memberikan daya pertumbuhan hidup yang mengubah dan memperbarui diri. Ekspresi lukisan-lukisan Ali mencari dan menggali dimensi keindahan dalam harmoni perjumpaan antara bentuk-bentuk yang literal (tulisan, huruf, angka) dengan yang visual (deformasi bentuk), antara ekspresi naratif dengan aspek puitis, serta memadukan masalah kontras antara bidang-bidang terang dan gelap. 

Ekspresi Inner Sight RB Ali, pada akhirnya, bukan soal refleksi mengenai narasi pengalaman dirinya sendiri, melainkan justru soal pengalaman pergulatan menjadi manusia agar mampu bertahan selaras dalam aliran hidup. Energi hidup, secara misterius dan tersembunyi, justru 'memandu' kreativitas manusia agar mampu melampaui babak-babak perubahan dan pembaruan diri dalam siklus kehidupan. Pameran ini berlangsung di Galeri ZEN1, JI. Purworejo No. 24, Dukuh Atas, Menteng Jakarta Pusat 10310 pada tanggal 13 Februari 2026 sampai 10 Maret 2026.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 24 Februari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, February 22, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 79)

View/Preview '26

View/Preview '26 menjadi tonggak penting bagi ArtSociates. Pameran ini merupakan presentasi perdana yang diselenggarakan di ruang terbaru kami di Jakarta. Setelah 19 tahun berkiprah di dunia seni Bandung, pada tahun 2026 ArtSociates melakukan ekspansi strategis ke ibu kota, tepatnya berlokasi di Jakarta Art Hub 2, Gedung Ranuza Thamrin, Jakarta Pusat. 

Sebagai judul, View/Preview 26 dirancang untuk menjadi jendela sekaligus gambaran arah perjalanan artistik yang akan kami tempuh sepanjang tahun ini. Pameran ini menampilkan pilihan karya dari para seniman yang akan bekerja sama dengan kami dalam berbagai proyek mendatang. Kami menghadirkan karya Gregorius Sidharta, Umi Dachlan, Lian Sahar, dan Mujahidin Nurrahman — sebagai kelanjutan narasi dari pameran “Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme” yang saat ini berlangsung di Salihara Community. Selain itu, kami juga menampilkan karya Dzikra Afifah dan Louise Henryette sebagai pengantar menuju pameran mereka di ArtSociates Bandung pada akhir Januari 2026. 

Spektrum pameran ini juga mencakup karya Fadjar Sidik, Aming Prayitno, Maharani Mancanagara, Meliantha Muliawan, dan Rendy Raka Pramudya, yang dipersiapkan untuk partisipasi kami dalam Art Jakarta Papers. Lebih jauh lagi, kami juga menghadirkan pratinjau pameran tunggal yang akan datang di ArtSociates Bandung dari sejumlah seniman dengan karakter beragam: Daniel Kho, Alessio Ceruti, Ugo Untoro, Agnes Hansella, Dwipuspita Pangastuti, dan Endang Lestari. Khusus untuk ruang Jakarta, kami memamerkan karya Nesar Eesar dan Eddy Susanto, yang dijadwalkan akan menggelar pameran tunggal di galeri ini pada tahun ini. 

Kami juga secara khusus menampilkan karya video dari Hoo Fan Chon, yang akan menjadi bagian dari pameran mendatang di ArtSociates Bandung, dikurasi oleh Gunalan Nadarajan (salah satu juri BaCAA 8) dan dikuratori bersama oleh Roopesh Sitharan. Sebagai pelengkap visi tahun ini, kami menampilkan eksplorasi estetika para seniman Bali dalam proyek pameran “Post-Tradisi” di ArtSociates Bandung, yang diwakili oleh Darmika Solar, Made Chandra, Kadek Dwi Darmawan, dan Kuncir Sathya Viku. Kami berharap View/Preview 26 dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai visi dan agenda artistik ArtSociates sepanjang tahun 2026. Pameran ini berlangsung pada tanggal 17 Januari 2026 - April 2026 di Artsociates, JKT ART HUB Ranuza, 2nd floor Jl. Timor No.10, Menteng, Jakarta Pusat.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 13 Februari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, February 21, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 78)

Yearbook

Yearbook menampilkan potret-potret karya Seong Gwang Yun sebagai rekaman emosi — wajah-wajah yang terbentuk dari kata-kata yang tak terucap, dorongan yang ditahan, dan perasaan yang lama dipendam. Digambarkan dengan warna-warna ceria dan bentuk yang dilebih-lebihkan, sosok-sosok ini menyimpan jejak kecemasan, pengekangan, sekaligus humor di balik permukaannya. Secara bersama-sama, karya-karya ini membentuk semacam peta emosi kolektif — sebuah “album graduasi emosi” yang mengajak penonton untuk menghadapi hal-hal yang dulu pernah ditelan, disembunyikan, atau tidak pernah terucapkan. Pameran ini berlangsung pada tanggal 14 February - 4 April 2026 di Theo Gallery, Ranuza Building 2nd floor, JI. Timor No. 10, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat 10350.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 13 Februari 2026 (sebelum pameran dimulai).


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 77)

Liminality

Liminality adalah keadaan ketika seseorang berada di antara dua kondisi bukan lagi seperti sebelumnya, tetapi juga belum sepenuhnya menjadi sesuatu yang baru. la hadir sebagai jeda yang sering kali tidak disadari, namun terasa. Dalam fase ini, arah belum jelas, identitas terasa cair, dan kepastian seolah ditangguhkan. Kita tetap bergerak, tetapi belum sepenuhnya tahu ke mana. Liminality bukan ruang kosong, melainkan ruang yang sedang menunggu bentuk. Pameran ini berlangsung pada tanggal 12 Februari - 21 Februari 2026 di Galeri Hang Nadim, Anjungan Kampar - Komplek Purna MTQ, Kota Pekanbaru.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 18 Februari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, February 08, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 76)

Closed

Selama ribuan tahun, kertas selalu menjadi simbol dari dua hal yang bertolak belakang: sesuatu yang sementara sekaligus abadi. Naskah, surat, dan dokumen menyimpan sejarah dalam selembar kertas yang mengandung banyak makna tersembunyi. Di era sekarang, ketika budaya berbasis kertas dan bahan cetak semakin ditinggalkan, Irfan Hendrian justru terus menggunakan kertas sebagai medium utamanya, baik secara intens maupun luas. Namun, Irfan tidak sekadar bekerja di atas atau dengan kertas. Ia justru menyelami kertas itu sendiri sebagai medium. Proses berkarya—mulai dari membuat, merancang, hingga menyusun—selalu berangkat dari unit paling dasar: satu lembar kertas. Melalui karya-karya dalam pameran "Closed", Irfan berusaha membuka kembali ruang ingatan, melihat “sisi lain” dari bentuk, yang mengajak munculnya dialog alternatif dan mengungkap dimensi yang melampaui sekadar keindahan visual. 

Beberapa bentuk yang sering muncul dalam karya Irfan, seperti teralis jendela, pagar seng bergelombang, gembok, dan kunci, oleh sang seniman disebut sebagai arsitektur ketakutan. Bentuk-bentuk ini memiliki beban sejarah dan konteks tertentu, yang berangkat dari ingatan serta pengalaman Irfan terhadap kecemasan yang dialami komunitas Tionghoa di Indonesia. Secara keseluruhan, karya-karya tersebut berfungsi sebagai objek yang membangun konteks yang lebih luas, memperlihatkan makna di luar apa yang langsung terlihat secara visual. Pada akhirnya, "Closed" mengajak kita untuk melihat lebih dekat, serta berani menghadapi bayangan-bayangan dalam “luka” yang terus bertahan di dalam ingatan. Pameran ini berlangsung pada tanggal 31 Januari 2026 sampai 17 Maret di 2026 di Ara Contemporary, Jl. Tulodong Bawah I No.16, Senayan, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12190.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 05 Februari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, February 07, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 75)

New Paintings

ROH dengan bangga mempersembahkan pameran kelompok pertama tahun ini, New Paintings, yang berfokus pada karya terbaru dari Nadya Jiwa, Naotaka Hiro, Ser Serpas, Wei Jia, dan Tith Kanitha. Pameran ini menampilkan karya-karya yang lahir dari kondisi zaman saat ini, yaitu masa ketika isu tentang kebebasan individu, batas-batas tubuh, serta semakin kaburnya realitas banyak dirasakan dan diekspresikan oleh para seniman melalui material dan medium lukisan. Untuk pertama kalinya ditampilkan bersama, pameran ini menghadirkan dialog antar seniman yang terus mengeksplorasi dan mengembangkan medium lukisan, sekaligus menanggapi sejarahnya dan relevansinya dalam konteks seni kontemporer saat ini. Pameran ini berlangsung mulai tanggal 25 Januari 2026 sampai 22 Februari 2026 di ROH Projects, berlokasi di Jl. Surabaya No. 66, Jakarta Pusat.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 28 Januari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, January 31, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 74)

Small Talks For Serious Times

Lukisan-lukisan Nyoman Suarnata tidak lagi bekerja sebagai representasi langsung atas peristiwa sosial tertentu, juga tidak secara tegas mengklaim diri sebagai cermin realitas faktual yang dialami bersama pada satu ruang dan waktu yang spesifik. Pengalaman keseharian, gejolak politik, maupun tragedi kemanusiaan tidak dihadirkan sebagai laporan visual tentang "saat kini dan di sini", melainkan sebagai fragmen imaji yang dipintal ulang melalui bahasa sarkasme, humor getir, dan ironi. Dalam konteks ini, realisme yang digunakan Suarnata tidak berfungsi sebagai penjelasan, tetapi sebagai strategi visual yang justru menjaga jarak dari pengalaman hidup yang wajar dan linear. Pendekatan tersebut memperlihatkan cara kerja yang menyerupai montase: mengumpulkan, menyilangkan, dan mempertemukan berbagai simbol kekuasaan, figur prajurit, ikon budaya populer, serta imaji pahlawan dalam situasi yang ganjil dan absurd. Dunia yang dihadirkan Suarnata adalah dunia percakapan -- tempat kritik, kemarahan, dan harapan hadir tanpa tuntutan penyelesaian. Pameran ini berlangsung pada tanggal 18 Januari 2026 - 10 Februari 2026 di Galeri ZEN1, JI. Purworejo No. 24, Dukuh Atas, Menteng, Jakarta Pusat 10310.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 26 Januari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.


Sunday, January 25, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 73)

Pinata

PINATA - Herzven's Solo Exhibition

Pada 16 Juni 2025, api menghanguskan dua rumah di Depok - rumah orang tua saya dan rumah saya sendiri.Yang tersisa hanyalah keheningan, abu, dan rasa kehilangan yang sulit saya beri nama. Namun dalam sunyi setelah kehancuran itu, sesuatu bergeser. Saya mulai memahami bahwa kebakaran tersebut bukan hanya sebuah akhir, melainkan sebuah hentakan yang membelah segalanya - retakan yang membuka apa yang selama ini saya pendam. Seperti sebuah PINATA, tidak ada yang terungkap sebelum cangkangnya pecah.

Momen itu mendorong saya untuk merespons. Ia menuntut saya untuk berdiri kembali - bukan sebagai seseorang yang hancur oleh keputusasaan, tetapi sebagai seseorang yang telah melewatinya dan bangkit dengan kesadaran baru. PINATA menandai titik balik itu. Ia menyimpan pecahan-pecahan, pergeseran-pergeseran, dan awal-awal baru yang tumbuh dari kehancuran.

Pameran tunggal Herzven ini tidak hanya menghadirkan karya-karya akhirnya, tetapi juga perjalanan yang membentuknya: mural yang lahir dari kehancuran, karya yang dibentuk dari apa yang tersisa setelah api, serta dokumentasi yang mengikuti proses pemulihan perlahan. Melalui ini, saya berharap para pengunjung dapat melihat bahwa ketika hidup terbelah terbuka, ia dapat mengungkapkan sesuatu yang selama ini menunggu untuk muncul. Pameran ini berlangsung di Nirmana Falatehan Lt. 2, Blok M pada tanggal 11 Januari - 8 Februari 2026. 

Saya menghadiri pameran pada tanggal 21 Januari 2026.


--‐--‐-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Mengenai Judul Pameran "PINATA"

PINATA adalah cerminan dari perjalanan saya sendiri. Sebuah PINATA tidak mengungkapkan maknanya dengan lembut. Ia harus dipukul, dibuka, dan dipecahkan sebelum apa pun di dalamnya dapat muncul. Apa yang tersimpan di dalamnya baru terlihat setelah hantaman itu.

Hal ini selaras dengan bahasa visual dalam karya saya:rumah vang melambanakan asal-usul dan identitas saya, serta bunga dan tanaman yang tumbuh sebagai simbol pembaruan yang menerobos lewat celah-celah. Bersama, semuanya mengingatkan kita bahwa ketika sesuatu pecah, awal dari sesuatu yang baru sebenarnya sudah mulai terbentuk.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Friday, December 19, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 72)

Articulating Otherwise

Gambar-dalam-gambar; layar yang terbagi dua; atau jendela di atas jendela—Anda dapat menampilkannya di depan atau di belakang, sepenuhnya terserah Anda. Kita menjalani hidup yang dipenuhi teks dengan warna berbeda dan garis bawah, membawa kita ke berbagai tempat; ikon kecil berbentuk panah atau pesawat kertas yang membantu kita tetap terhubung; gerakan swipe ke atas tanpa henti, seolah mengganti waktu yang hilang selama perjalanan. Tapi sebelum lanjut, tonton dulu video 5 menit ini. Tahan napas untuk mode 2x speed. Serap sebanyak mungkin—kamu mengendalikan waktumu sendiri, tanpa gangguan.

Di era teknologi yang saling terhubung, realitas kita sering dibentuk oleh derasnya informasi yang berlebihan. Arusnya begitu cepat hingga meluap dan menghantam—datang bergelombang sebelum pikiran dan perasaan kita sempat tenang. Manusia terjebak dalam pusaran antara pengalaman batin sebagai manusia dan kenyataan luar yang dibentuk oleh “kebenaran” institusional yang digerakkan oleh kapitalisme dan sistem yang lahir darinya. Kita lelah dan bingung, seolah terus berperang melawan sesuatu yang tidak terlihat (paranoia muncul dalam banyak bentuk), sehingga cara hidup alternatif terasa samar dan jauh.

Melalui pameran ini, para perupa Galeri Ruang Dini menghadapi kompleksitas realitas masa kini dengan melihat dari sudut pandang berbeda dan menantang pandangan normatif. Delapan seniman ini menciptakan karya mereka secara independen, pada waktu dan tempat yang berbeda-beda, dengan gaya, teknik, dan media yang beragam. Karya-karya yang kini ditampilkan bersama awalnya dikembangkan untuk pameran tunggal masing-masing. Namun, semuanya memiliki benang merah: mencoba menggambarkan cara lain dalam melihat dan menjalani hidup di dunia yang bias dan terpecah. Dalam Articulating Otherwise, Ariadne Maraya, Aulia Yeru, Carla Agustian, Krishnamurti Suparka, Siwi Andika, Sumastania Widyandari, Tamara Alamsyah, dan Tisa Granicia mewujudkan gagasan ini melalui penghayatan batin yang mendalam, penjelmaan pengalaman, menggugat kepastian dan kejelasan yang mutlak, sambil merefleksikan lanskap sosial-lingkungan dan realitas yang kita hadapi.

Melalui Articulating Otherwise, para seniman memperkenalkan cara berpikir dan kondisi ruang yang baru, yang menumbuhkan bentuk-bentuk kehidupan yang berbeda dari biasanya. Yang penting, “otherwise” bukan berarti pilihan yang bersifat dua sisi (hitam-putih), melainkan keberagaman yang luas—sebuah arah pandang yang menolak keputusan yang tertutup dan membuka kemungkinan banyak jalur yang bisa berjalan bersamaan. Ariadne Maraya, Aulie Yeru, Carla Agustian, Krishnamurti Suparka, Siwi Andika, Sumastania Widyandari, Tamara Alamsyah, dan Tisa Granicia mengajak para pengunjung untuk melihat dengan cara yang melepaskan diri dari hal-hal yang dianggap jelas, sehingga dunia dapat dirasakan—dan dihuni—dengan cara yang berbeda. Pameran ini berlangsung mulai tanggal 29 November 2025 di V&V Art Gallery, Jakarta Art Hub 3rd Floor, JI. Timor 25, Menteng, Jakarta Pusat.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 05 Desember 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, December 14, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 71)

The Lazy Dog Jumps Over The Quick Brown Fox

Edisi ketiga The Lazy Dog Jumps Over The Quick Brown Fox menghadirkan sebuah pendekatan baru terhadap tipografi, sebuah eksplorasi yang menempatkan huruf dan angka sebagai ruang kontemplatif untuk memahami IDENTITY. Dalam pameran ini, tipografi tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi visual, tetapi juga sebagai medium emosional yang membuka percakapan tentang ingatan, pengalaman, dan jati diri.

Tema IDENTITY dipilih untuk menanggapi cara generasi muda masa kini yang berhubungan dengan budaya visual. Di tengah derasnya arus informasi dan visual, huruf-huruf sederhana yang sehari-hari kita lihat ternyata menyimpan kemampuan untuk memicu refleksi personal. Melalui bentuk, warna, dan interpretasi yang dibangun para seniman, huruf menjadi simbol yang kaya makna: lembut atau kuat, rapuh atau tegas, akrab atau asing.

Pameran ini mengajak pengunjung membangun hubungan emosional antara bentuk tipografi dengan pengalaman hidup yang mereka bawa. Setiap karya menawarkan jembatan: antara visual dan perasaan, antara simbol dan memori, antara bentuk huruf dan perjalanan identitas yang terus berkembang. Dalam ruang ini, tipografi menjadi wadah tempat pertemuan antara diri dan cerita yang melekat di dalamnya.

IDENTITY juga ditempatkan sebagai ruang kecil yang intim, seperti ruang pribadi, imajinasi, dan refleksi sebuah pertemuan. Huruf dan angka yang biasanya dianggap biasa menjelma menjadi objek yang diharapkan dapat mengundang pengunjung untuk berhenti sejenak, meresapi, dan mungkin menemukan kembali sisi diri yang selama ini tersembunyi. Melalui pendekatan ni, kami membuka kesempatan bagi pengunjung untuk "mengeja ulang" siapa mereka. Membaca ulang bentuk-bentuk yang selama ini dianggap sederhana, dan menemukan lapisan-lapisan baru yang muncul ketika simbol-simbol itu ditempatkan dalam konteks personal dan emosional.

The Lazy Dog Jumps Over The Quick Brown Fox- Part IIl hadir sebagai ajakan untuk melihat tipografi bukan sekadar sebagai desain, tetapi sebagai bahasa batin yang terus berkembang bersama perjalanan hidup masing-masing individu. Pameran ini berlangsung pada tanggal 29 November - 28 Desember 2025 di C-Project by MOT, Wisma Geha, 2nd Floor Jalan Timor No. 25 Jakarta 10350.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 05 Desember 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, December 07, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 70)

Pretty Ugly

Unicorn Gallery Surabaya menggelar pameran duo Pretty Ugly. Acara ini merupakan kolaborasi antara dua seniman kontemporer Indonesia, Talitha Maranila dan Dedy Sufriadi, yang mengusung tema utama mengenai ketidaksempurnaan serta refleksi diri. Bertempat di Hotel UNIC, dari 4 Agustus 2025 hingga 31 Januari 2026, pameran ini secara berani menantang persepsi umum tentang keindahan dalam seni rupa.

Kurator Aldridge Tjiptarahardja dan para seniman mengajak pengunjung untuk merenungkan kembali apa yang membuat sebuah karya seni berharga. Bukan hanya dari segi visual yang menyenangkan, melainkan juga dari gagasan dan kejujuran yang disampaikannya. Pameran ini tidak hanya menampilkan karya duo seniman utama. Melainkan juga karya dari Desy Gitary, Diana Puspita P., Gadogadogue (Aziz), Rudy Mardijanto, Sastia Naresvari, dan Sogik Prima Yoga.

Menurut kurator Aldridge Tjiptarahardja, pameran Pretty Ugly sengaja disajikan sebagai pertentangan dari seni yang terlalu sempurna dan komersial. Ia menjelaskan bahwa "jelek" dalam konteks ini justru memiliki potensi besar dalam dunia seni rupa, terutama di pasar internasional. "Kalau terlalu cakep itu terlalu komersial, dalam arti ada hasrat ingin menjual banget, enggak kelihatan jelek," ujarnya. Aldridge menambahkan, beberapa galeri dan kurator global kini justru lebih menyukai karya yang berani tampil apa adanya. "Yang jelek kok bisa jadi bagus, sedangkan yang dibuat dengan rapi dan super bagus itu kurang bisa diterima di pasar Internasional," imbuh Aldridge, menyoroti pergeseran tren yang lebih menghargai kejujuran dan esensi daripada sekadar polesan estetika.

Pameran Pretty Ugly dan karya-karya di dalamnya mengajak Anda untuk berhenti sejenak dan melihat lebih dalam. Bukan tentang menyukai atau tidak menyukai, melainkan tentang kesediaan Anda untuk merenung dan mencari makna di balik apa yang mungkin dianggap "jelek" atau tidak sempurna. Ini adalah ruang di mana kejujuran, kontradiksi, dan ketegangan justru menjadi sumber inspirasi. Mengajak Anda untuk berpikir kritis tentang nilai seni, diri Anda sendiri, dan dunia di sekitar Anda. 

Saya menghadiri pameran pada tanggal 18 November 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, November 22, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 69)

Interbeing

Duo Exhibition: Hilal Najmi | Kemala Hayati

Keberadaan manusia selalu terjalin dalam hubungan dengan segala yang hidup di sekitarnya. Kita tidak pernah berdiri di luar alam, melainkan tumbuh bersamanya, bernapas dalam ritme yang sama, menyentuh tanah yang sama, dan mengalir bersama air yang sama. Dalam kesadaran ini, Interbeing menjadi pengingat bahwa kehidupan adalah jaringan yang saling terkait, tempat setiap bentuk keberadaan, baik manusia, hewan, tumbuhan, tanah, air, maupun udara, saling memengaruhi, menopang, dan membentuk satu sama lain.

Konsep Interbeing yang berakar dari gagasan keterhubungan universal mengajak kita untuk melihat dunia bukan sebagai kumpulan entitas yang terpisah, melainkan sebagai sistem yang hidup dan bernafas bersama. Di dalamnya, tindakan sekecil apa pun memiliki resonansi yang luas. Setiap tarikan napas mengingatkan kita bahwa oksigen yang kita hirup berasal dari dedaunan, dan setiap langkah yang kita ambil bersinggungan dengan lapisan tanah yang juga menumbuhkan kehidupan lain.

Pameran Interbeing menjadi ruang kontemplatif di mana para seniman menanggapi denyut kehidupan yang saling berjalin melalui berbagai pendekatan visual dan material. Ada yang menyoroti hubungan spiritual manusia dengan alam, ada yang menggambarkan luka ekologis dan ketegangan yang timbul dari eksploitasi, sementara yang lain mengungkap bentuk- bentuk harmoni dan keberlanjutan yang lahir dari kesadaran ekologis. Karya-karya ini tidak hanya menjadi representasi visual tetapi juga menjadi perantara untuk merasakan, mendengar, dan memahami kembali cara kita berelasi dengan dunia.

Dalam menghadapi realitas kontemporer yang ditandai oleh keterputusan dan percepatan, Interbeing menghadirkan ruang jeda. la mengajak kita untuk memperlambat pandangan, mendengarkan ritme alam yang kerap terlupakan, dan menyadari bahwa batas antara manusia dan non-manusia bukanlah garis pemisah, melainkan jembatan yang menghubungkan. Melalui perenungan ini, kita diajak untuk mengenali keberlanjutan sebagai bentuk empati, dan keberadaan sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang lebih luas.

Pada akhirnya, Interbeing bukan sekadar konsep, melainkan kesadaran yang mengalir melalui setiap karya, setiap napas, dan setia setiap detak kehídupan. la mengingatkan bahwa Bumi hidup di dalam diri kita sebagaimana kita hidup bahwa hanya dengan memahami keterjalinan itu, kita dapat menemukan kembali keseimbangan antara keberadaan dan keberlanjutan. Pameran ini berlangsung pada tanggal 01 - 30 November 2025 di Yuan Gallery, Jakarta Art Hub Ranuza.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 14 November 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Wednesday, November 19, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 68)

Echoes of Home

"Echoes of Home” lahir dari kesadaran bahwa rumah, seperti halnya kenangan, selalu bergerak dan berubah. Rumah bukan sekadar titik geografis, tetapi hidup dalam tubuh, dalam bahasa, serta dalam cara kita melihat dan berkarya. Pameran ini menjadi ruang di mana gema-gema tersebut kembali terdengar—bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai getaran yang membuka kemungkinan baru dalam penciptaan.

Para seniman dalam pameran ini masing-masing menelusuri makna rumah dengan caranya sendiri. Beberapa merangkai potongan kenangan masa kecil ke dalam bentuk-bentuk kontemporer, sementara yang lain menegosiasikan identitas di tengah arus modernitas global yang terus berubah. Di antara mereka juga hadir para seniman art toy Indonesia—pencipta yang selama ini berkarya di batas antara seni rupa, desain, dan budaya populer. Dalam pameran ini, disebut "rumah": untuk menunjukkan bahwa art toy bukan sekadar objek permainan, tetapi wadah ekspresi artistik yang berakar pada imajinasi, memori, dan denyut pengalaman kolektif Indonesia. Pameran ini berlangsung pada tanggal 01 - 30 November 2025 di Meiro Gallery, Ranuza Art Hub. Lt 2, Jalan Timor No 10, Menteng, Jakarta.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 14 November 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Tuesday, November 18, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 67)

Whispers of the Inner World

Dalam Whispers of the Inner World, tiga seniman Indonesia: Muhiqballs, Susiyo, dan Kimoz bertemu melalui imajinasi yang hidup, simbolisme personal, dan pencarian akan kebenaran batin. Karya-karya mereka, meskipun tampak berbeda secara visual, disatukan oleh dialog intim antara ingatan, emosi, dan kesadaran diri.

Muhiqballs mengubah nostalgia menjadi mitologi pop yang penuh warna. Terinspirasi oleh kenangan masa kecil dan citra leluhur Tau-Tau dari Tana Toraja, ia membayangkan kembali masa lalu melalui bahasa visual kontemporer yang sarat humor, warna, dan perpaduan budaya.

Susiyo, dengan latar belakang animasi dan desain visual, menyalurkan disiplin gerak dan penceritaan ke dalam gambar. Lukisannya mengungkapkan momen-momen kontemplasi yang tenang dan kedalaman narasi. Setiap komposisi berkembang seperti satu bingkai emosi yang terperangkap antara fantasi dan realitas.

Kimoz mengeksplorasi resonansi spiritual melalui warna dan ketenangan. Karyanya memancarkan energi meditatif. Setiap semprotan cat atau sapuan emas menjadi tindakan sekaligus doa. Di antara keheningan dan ekspresi, ia menemukan keseimbangan sakral tempat penciptaan menjadi bentuk pengabdian batin.

Bersama-sama, para seniman ini mengajak kita memasuki yang tak terlihat untuk mendengarkan suara-suara lembut dari dalam: kenangan yang tertawa, doa yang berkilau, dan keheningan yang berbicara. Pameran ini berlangsung pada tanggal 25 Oktober - 23 November 2025 di Art WeMe Contemporary, Wisma Geha, 3rd Floor JI. Timor 25, Menteng, Jakarta.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 07 November 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, November 16, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 66)

Sambung Lakon

"Sambung-Lakon" adalah istilah dalam dunia wayang yang merujuk pada keberlanjutan cerita-baik dari satu babak ke babak berikutnya, maupun dari satu tokoh ke tokoh pengganti. Namun dalam konteks pameran ini, Sambung-Lakon menjadi simbol bagi perjalanan artistik yang tidak berdiri sendiri, melainkan tersambung oleh jejak, ingatan, dan nilai yang terus diwariskan.

Pameran ini menghadirkan tiga seniman: Andi Acho Mallaena (Acho), Elang Sutajaya (Elang), dan Yula Setyowidi (Yula)--tiga individu yang datang dari latar belakang berbeda, namun berbagi benang merah: menjadikan seni rupa sebagai ruang untuk menyambung narasi personal, sosial, dan kultural. Acho menghadirkan figur-figur dari dunia shio sebagai metafora sifat manusia dan keberanian. Warna-warna cerah dan pola tekstil seperti quilt menjadi simbol bagaimana pengalaman hidup-termasuk luka dan harapan-bisa dijahit ulang menjadi identitas baru. Elang, lewat pendekatan yang jujur dan penuh nostalgia, menghidupkan kembali imajinasi masa kecil dan nilai-nilai keluarga yang membentuknya. Sementara Yula membawa kita ke dunia yang bermain di antara realitas dan absurditas--melalui komposisi ruang dan bentuk yang membuka refleksi tentang keberadaan, pikiran, dan spiritualitas.

Melalui 23 karya dua dimensi berupa lukisan, sketsa, dan drawing, pameran ini tidak hanya menyajikan visual yang menggugah tetapi juga membuka ruang untuk bertanya: sejauh mana kita mengenali cerita hidup kita sendiri? Dan kepada siapa kita menyambung lakon. Dalam dunia yang terus berubah, Sambung-Lakon adalah ajakan untuk melihat bahwa tidak ada yang benar-benar dimulal dari nol. Setiap langkah adalah lanjutan dari cerita yang lebih panjang--yang ingin terus dirawat, diruwat, dan dibagikan. Pameran ini berlangsung di C Project, Wisma Geha - 2nd Floor tanggal 25 Oktober - 25 November 2025. 

Saya menghadiri pameran pada tanggal 07 November 2025.



Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.