Sunday, December 14, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 71)

The Lazy Dog Jumps Over The Quick Brown Fox

Edisi ketiga The Lazy Dog Jumps Over The Quick Brown Fox menghadirkan sebuah pendekatan baru terhadap tipografi, sebuah eksplorasi yang menempatkan huruf dan angka sebagai ruang kontemplatif untuk memahami IDENTITY. Dalam pameran ini, tipografi tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi visual, tetapi juga sebagai medium emosional yang membuka percakapan tentang ingatan, pengalaman, dan jati diri.

Tema IDENTITY dipilih untuk menanggapi cara generasi muda masa kini yang berhubungan dengan budaya visual. Di tengah derasnya arus informasi dan visual, huruf-huruf sederhana yang sehari-hari kita lihat ternyata menyimpan kemampuan untuk memicu refleksi personal. Melalui bentuk, warna, dan interpretasi yang dibangun para seniman, huruf menjadi simbol yang kaya makna: lembut atau kuat, rapuh atau tegas, akrab atau asing.

Pameran ini mengajak pengunjung membangun hubungan emosional antara bentuk tipografi dengan pengalaman hidup yang mereka bawa. Setiap karya menawarkan jembatan: antara visual dan perasaan, antara simbol dan memori, antara bentuk huruf dan perjalanan identitas yang terus berkembang. Dalam ruang ini, tipografi menjadi wadah tempat pertemuan antara diri dan cerita yang melekat di dalamnya.

IDENTITY juga ditempatkan sebagai ruang kecil yang intim, seperti ruang pribadi, imajinasi, dan refleksi sebuah pertemuan. Huruf dan angka yang biasanya dianggap biasa menjelma menjadi objek yang diharapkan dapat mengundang pengunjung untuk berhenti sejenak, meresapi, dan mungkin menemukan kembali sisi diri yang selama ini tersembunyi. Melalui pendekatan ni, kami membuka kesempatan bagi pengunjung untuk "mengeja ulang" siapa mereka. Membaca ulang bentuk-bentuk yang selama ini dianggap sederhana, dan menemukan lapisan-lapisan baru yang muncul ketika simbol-simbol itu ditempatkan dalam konteks personal dan emosional.

The Lazy Dog Jumps Over The Quick Brown Fox- Part IIl hadir sebagai ajakan untuk melihat tipografi bukan sekadar sebagai desain, tetapi sebagai bahasa batin yang terus berkembang bersama perjalanan hidup masing-masing individu. Pameran ini berlangsung pada tanggal 29 November - 28 Desember 2025 di C-Project by MOT, Wisma Geha, 2nd Floor Jalan Timor No. 25 Jakarta 10350.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 05 Desember 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, December 07, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 70)

Pretty Ugly

Unicorn Gallery Surabaya menggelar pameran duo Pretty Ugly. Acara ini merupakan kolaborasi antara dua seniman kontemporer Indonesia, Talitha Maranila dan Dedy Sufriadi, yang mengusung tema utama mengenai ketidaksempurnaan serta refleksi diri. Bertempat di Hotel UNIC, dari 4 Agustus 2025 hingga 31 Januari 2026, pameran ini secara berani menantang persepsi umum tentang keindahan dalam seni rupa.

Kurator Aldridge Tjiptarahardja dan para seniman mengajak pengunjung untuk merenungkan kembali apa yang membuat sebuah karya seni berharga. Bukan hanya dari segi visual yang menyenangkan, melainkan juga dari gagasan dan kejujuran yang disampaikannya. Pameran ini tidak hanya menampilkan karya duo seniman utama. Melainkan juga karya dari Desy Gitary, Diana Puspita P., Gadogadogue (Aziz), Rudy Mardijanto, Sastia Naresvari, dan Sogik Prima Yoga.

Menurut kurator Aldridge Tjiptarahardja, pameran Pretty Ugly sengaja disajikan sebagai pertentangan dari seni yang terlalu sempurna dan komersial. Ia menjelaskan bahwa "jelek" dalam konteks ini justru memiliki potensi besar dalam dunia seni rupa, terutama di pasar internasional. "Kalau terlalu cakep itu terlalu komersial, dalam arti ada hasrat ingin menjual banget, enggak kelihatan jelek," ujarnya. Aldridge menambahkan, beberapa galeri dan kurator global kini justru lebih menyukai karya yang berani tampil apa adanya. "Yang jelek kok bisa jadi bagus, sedangkan yang dibuat dengan rapi dan super bagus itu kurang bisa diterima di pasar Internasional," imbuh Aldridge, menyoroti pergeseran tren yang lebih menghargai kejujuran dan esensi daripada sekadar polesan estetika.

Pameran Pretty Ugly dan karya-karya di dalamnya mengajak Anda untuk berhenti sejenak dan melihat lebih dalam. Bukan tentang menyukai atau tidak menyukai, melainkan tentang kesediaan Anda untuk merenung dan mencari makna di balik apa yang mungkin dianggap "jelek" atau tidak sempurna. Ini adalah ruang di mana kejujuran, kontradiksi, dan ketegangan justru menjadi sumber inspirasi. Mengajak Anda untuk berpikir kritis tentang nilai seni, diri Anda sendiri, dan dunia di sekitar Anda. 

Saya menghadiri pameran pada tanggal 18 November 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, November 22, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 69)

Interbeing

Duo Exhibition: Hilal Najmi | Kemala Hayati

Keberadaan manusia selalu terjalin dalam hubungan dengan segala yang hidup di sekitarnya. Kita tidak pernah berdiri di luar alam, melainkan tumbuh bersamanya, bernapas dalam ritme yang sama, menyentuh tanah yang sama, dan mengalir bersama air yang sama. Dalam kesadaran ini, Interbeing menjadi pengingat bahwa kehidupan adalah jaringan yang saling terkait, tempat setiap bentuk keberadaan, baik manusia, hewan, tumbuhan, tanah, air, maupun udara, saling memengaruhi, menopang, dan membentuk satu sama lain.

Konsep Interbeing yang berakar dari gagasan keterhubungan universal mengajak kita untuk melihat dunia bukan sebagai kumpulan entitas yang terpisah, melainkan sebagai sistem yang hidup dan bernafas bersama. Di dalamnya, tindakan sekecil apa pun memiliki resonansi yang luas. Setiap tarikan napas mengingatkan kita bahwa oksigen yang kita hirup berasal dari dedaunan, dan setiap langkah yang kita ambil bersinggungan dengan lapisan tanah yang juga menumbuhkan kehidupan lain.

Pameran Interbeing menjadi ruang kontemplatif di mana para seniman menanggapi denyut kehidupan yang saling berjalin melalui berbagai pendekatan visual dan material. Ada yang menyoroti hubungan spiritual manusia dengan alam, ada yang menggambarkan luka ekologis dan ketegangan yang timbul dari eksploitasi, sementara yang lain mengungkap bentuk- bentuk harmoni dan keberlanjutan yang lahir dari kesadaran ekologis. Karya-karya ini tidak hanya menjadi representasi visual tetapi juga menjadi perantara untuk merasakan, mendengar, dan memahami kembali cara kita berelasi dengan dunia.

Dalam menghadapi realitas kontemporer yang ditandai oleh keterputusan dan percepatan, Interbeing menghadirkan ruang jeda. la mengajak kita untuk memperlambat pandangan, mendengarkan ritme alam yang kerap terlupakan, dan menyadari bahwa batas antara manusia dan non-manusia bukanlah garis pemisah, melainkan jembatan yang menghubungkan. Melalui perenungan ini, kita diajak untuk mengenali keberlanjutan sebagai bentuk empati, dan keberadaan sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang lebih luas.

Pada akhirnya, Interbeing bukan sekadar konsep, melainkan kesadaran yang mengalir melalui setiap karya, setiap napas, dan setia setiap detak kehĂ­dupan. la mengingatkan bahwa Bumi hidup di dalam diri kita sebagaimana kita hidup bahwa hanya dengan memahami keterjalinan itu, kita dapat menemukan kembali keseimbangan antara keberadaan dan keberlanjutan. Pameran ini berlangsung pada tanggal 01 - 30 November 2025 di Yuan Gallery, Jakarta Art Hub Ranuza.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 14 November 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Wednesday, November 19, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 68)

Echoes of Home

"Echoes of Home” lahir dari kesadaran bahwa rumah, seperti halnya kenangan, selalu bergerak dan berubah. Rumah bukan sekadar titik geografis, tetapi hidup dalam tubuh, dalam bahasa, serta dalam cara kita melihat dan berkarya. Pameran ini menjadi ruang di mana gema-gema tersebut kembali terdengar—bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai getaran yang membuka kemungkinan baru dalam penciptaan.

Para seniman dalam pameran ini masing-masing menelusuri makna rumah dengan caranya sendiri. Beberapa merangkai potongan kenangan masa kecil ke dalam bentuk-bentuk kontemporer, sementara yang lain menegosiasikan identitas di tengah arus modernitas global yang terus berubah. Di antara mereka juga hadir para seniman art toy Indonesia—pencipta yang selama ini berkarya di batas antara seni rupa, desain, dan budaya populer. Dalam pameran ini, disebut "rumah": untuk menunjukkan bahwa art toy bukan sekadar objek permainan, tetapi wadah ekspresi artistik yang berakar pada imajinasi, memori, dan denyut pengalaman kolektif Indonesia. Pameran ini berlangsung pada tanggal 01 - 30 November 2025 di Meiro Gallery, Ranuza Art Hub. Lt 2, Jalan Timor No 10, Menteng, Jakarta.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 14 November 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Tuesday, November 18, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 67)

Whispers of the Inner World

Dalam Whispers of the Inner World, tiga seniman Indonesia: Muhiqballs, Susiyo, dan Kimoz bertemu melalui imajinasi yang hidup, simbolisme personal, dan pencarian akan kebenaran batin. Karya-karya mereka, meskipun tampak berbeda secara visual, disatukan oleh dialog intim antara ingatan, emosi, dan kesadaran diri.

Muhiqballs mengubah nostalgia menjadi mitologi pop yang penuh warna. Terinspirasi oleh kenangan masa kecil dan citra leluhur Tau-Tau dari Tana Toraja, ia membayangkan kembali masa lalu melalui bahasa visual kontemporer yang sarat humor, warna, dan perpaduan budaya.

Susiyo, dengan latar belakang animasi dan desain visual, menyalurkan disiplin gerak dan penceritaan ke dalam gambar. Lukisannya mengungkapkan momen-momen kontemplasi yang tenang dan kedalaman narasi. Setiap komposisi berkembang seperti satu bingkai emosi yang terperangkap antara fantasi dan realitas.

Kimoz mengeksplorasi resonansi spiritual melalui warna dan ketenangan. Karyanya memancarkan energi meditatif. Setiap semprotan cat atau sapuan emas menjadi tindakan sekaligus doa. Di antara keheningan dan ekspresi, ia menemukan keseimbangan sakral tempat penciptaan menjadi bentuk pengabdian batin.

Bersama-sama, para seniman ini mengajak kita memasuki yang tak terlihat untuk mendengarkan suara-suara lembut dari dalam: kenangan yang tertawa, doa yang berkilau, dan keheningan yang berbicara. Pameran ini berlangsung pada tanggal 25 Oktober - 23 November 2025 di Art WeMe Contemporary, Wisma Geha, 3rd Floor JI. Timor 25, Menteng, Jakarta.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 07 November 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, November 16, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 66)

Sambung Lakon

"Sambung-Lakon" adalah istilah dalam dunia wayang yang merujuk pada keberlanjutan cerita-baik dari satu babak ke babak berikutnya, maupun dari satu tokoh ke tokoh pengganti. Namun dalam konteks pameran ini, Sambung-Lakon menjadi simbol bagi perjalanan artistik yang tidak berdiri sendiri, melainkan tersambung oleh jejak, ingatan, dan nilai yang terus diwariskan.

Pameran ini menghadirkan tiga seniman: Andi Acho Mallaena (Acho), Elang Sutajaya (Elang), dan Yula Setyowidi (Yula)--tiga individu yang datang dari latar belakang berbeda, namun berbagi benang merah: menjadikan seni rupa sebagai ruang untuk menyambung narasi personal, sosial, dan kultural. Acho menghadirkan figur-figur dari dunia shio sebagai metafora sifat manusia dan keberanian. Warna-warna cerah dan pola tekstil seperti quilt menjadi simbol bagaimana pengalaman hidup-termasuk luka dan harapan-bisa dijahit ulang menjadi identitas baru. Elang, lewat pendekatan yang jujur dan penuh nostalgia, menghidupkan kembali imajinasi masa kecil dan nilai-nilai keluarga yang membentuknya. Sementara Yula membawa kita ke dunia yang bermain di antara realitas dan absurditas--melalui komposisi ruang dan bentuk yang membuka refleksi tentang keberadaan, pikiran, dan spiritualitas.

Melalui 23 karya dua dimensi berupa lukisan, sketsa, dan drawing, pameran ini tidak hanya menyajikan visual yang menggugah tetapi juga membuka ruang untuk bertanya: sejauh mana kita mengenali cerita hidup kita sendiri? Dan kepada siapa kita menyambung lakon. Dalam dunia yang terus berubah, Sambung-Lakon adalah ajakan untuk melihat bahwa tidak ada yang benar-benar dimulal dari nol. Setiap langkah adalah lanjutan dari cerita yang lebih panjang--yang ingin terus dirawat, diruwat, dan dibagikan. Pameran ini berlangsung di C Project, Wisma Geha - 2nd Floor tanggal 25 Oktober - 25 November 2025. 

Saya menghadiri pameran pada tanggal 07 November 2025.



Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, October 11, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 65)

Fabulous Daymare

Seri lukisan-lukisan mutakhir Andry Boy Kurniawan bergerak terus dan coba menggali kemungkinan-kemungkinan baru dari karya yang telah dikerjakan sebelumnya. Banyak bagian dari lukisan itu berubah tetapi juga masih ada garis sambung yang menghubungkannya dengan gagasan karya sebelumnya. Boy sepertinya mengambil inspirasi tradisi seni lukis Romantik yang punya kecenderungan pada tema-tema yang eksotik, tapi ia kerjakan dengan caranya sendiri. Sebagaimana lukisan-lukisan Romatik, karya Boy pun menekankan unsur kekuatan warna untuk menghidupkan efek dramatis dan emosi. Bagian penting lainya adalah masalah jarak yang juga berkaitan dengan prinsip eksotisme gerakan seni Romantik. Boy nampaknya coba menghadirkan lagi jarak terhadap pengalaman hidup keseharian kini sehingga menjadi wujud pengalaman lain yang dihidupkan 'semangat kenangan muda' milik setiap orang. Boy mencoba 'menantang' realitas pengalaman hidup kini yang kian jadi simulatif dan membius untuk kembali menjadi pengalaman yang eksotik. Boy menarik jarak dalam pengalaman tiap orang, setiap hari, yang telah terbiasa menikmati berbagai bentuk hiburan simulasi peperangan dan kehancuran dengan menghadirkan cara penerimaan ketika tiap orang masih sangat muda dan 'innocent.' Boy ingin memunculkan kembali ekspresi pertanyaan yang penuh rasa ingin tahu, milik masa muda, untuk menyadarkan semua keadaan yang melenakan dari pengalaman hidup kini. Pameran ini berlangsung pada tanggal 25 September - 25 Oktober 2025 di Galeri ZEN1 Jl. Purworejo No. 24, Dukuh Atas, Menteng Jakarta Pusat 10310.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 02 Oktober 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Tuesday, September 30, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 64)

The Subconscious Room

Ada ruang-ruang sunyi dalam diri manusia yang jarang tersentuh cahaya kesadaran. la tidak selalu berbicara lantang, tetapi keberadaannya menetap dalam emosi yang sulit dijelaskan, ingatan yang samar, dan intuisi yang muncul tanpa alasan yang jelas. The Subconscious Room adalah sebuah pameran yang mengajak kita masuk ke wilayah batin yang tersembunyi. Di sini, seni menjadi jendela untuk memahami sisi terdalam dari pengalaman manusia. Bukan sekadar bentuk ekspresi, tetapi juga sebagai medium refleksi. 

Pameran ini mempertemukan karya-karya dari seniman yang menyelami kesadaran bawah sadar mereka dan mewujudkannya melalui berbagai medium seperti lukisan, instalasi, objek, hingga bentuk eksperimental yang reflektif. Setiap karya menghadirkan fragmen personal yang membawa kita pada perenungan tentang ketegangan batin, kehilangan, harapan, dan bisikan emosi yang sering kali terabaikan. Tidak ada satu narasi tunggal yang mendominasi. Sebaliknya, setiap karya menjadi ruang terbuka bagi penonton untuk merespons dengan cara yang unik dan personal. Pameran ini menampilkan karya dari Anjastama, Bahaudin, Cade, Don Bosco Laskar, Dzulfahmi Abyan, Huang Zhijun, Rumondang, Ufa Faizah, Yula Setyowidi, dan Zulfa Zuppe.

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan, The Subconscious Room menjadi ajakan untuk memperlambat langkah dan mendengarkan diri sendiri. Keheningan dalam ruang ini bukanlah kekosongan, melainkan ruang yang sarat makna. la mengingatkan bahwa tidak semua hal harus djelaskan secara rasional agar bisa dipahami secara emosional. Pameran ini mengangkat keheningan sebagai nilai yang sah untuk dihadirkan dan dirayakan. 

Kesadaran bawah sadar hadir dalam bentuk yang tidak selalu logis. la muncul dalam mimpi yang aneh, dalam keputusan yang diambil tanpa alasan jelas, atau dalam dorongan untuk mencipta yang datang tiba-tiba. Para seniman dalam pameran ini menangkap momen-momen itu dengan cara yang jujur dan intuitif. Melalui proses penciptaan yang tidak selalu terencana, mereka menunjukkan bahwa dalam kerentanan manusia tersimpan kekuatan dan ketahanan yang tidak kalah besar. 

Lebih dari sekadar ruang pamer, The Subconscious Room adalah tempat untuk hadir secara utuh. Hadir dengan luka, harapan, intuisi, dan suara hati yang mungkin tidak terdengar, tetapi nyata. la adalah ruang perantara di mana batas antara luar dan dalam menjadi kabur. Tempat di mana yang tak terlihat bisa dirasakan, dan yang tak terucapkan bisa dipahami. Lewat karya-karya yang lahir dari kesunyian, pameran ini menjadi ruang yang menyentuh, mengingatkan, dan menyembuhkan. Pameran ini berlangsung pada tanggal 09 Agustus 2025 sampai 05 Oktober 2025 di Yuan Gallery, Jakarta Art Hub Ranuza.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 26 September 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, September 28, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 63)

Harum Tanah Ketika Hujan Pertama

"Harum Tanah Ketika Hujan Pertama" kerap dinamai hujan bau tanah, atau bau alam. la juga menandai perihal waktu, ada peristiwa alam - menandakan berakhirnya musim kemarau berganti musim hujan, akan menumbuhkan tetumbuhan yang sudah mengering, tetumbuhan yang sudah menyatu bersama tanah. Secara metaforik juga bisa diartikan cara alam menyapa kita, aromanya membisikkan tentang kenangan masa lalu, sekaligus membawa pesan akan datangnya hari gembira. 

Keunikan peristiwa "Harum Tanah Ketika Hujan Pertama" seperti merasakan kehadiran karya Rangga Aputra dalam pameran tunggalnya ini. Ada kesederhanaan dalam memilih diksi dan warna yang dipungut dari seputar keseharian serta lingkungan sekitar -diksi dan warna yang ekologis tumbuh pada keseluruhan karyanya. Pemilihan diksi yang sangat mudah dipahami, diksi-diksi yang lebih dekat dengan alam lingkungan, tanah, langit, dedaunan, tetumbuhan yang menyerupai sulur-sulur dengan beragam fantasi dan naluri. Ketaksadaran itu melekat bersama memorinya, pengalaman sosial, kultural, spiritual, atau keinginan merawat kenangan yang beririsan dari masa lalu dan kehidupan sehari-hari, nostalgis, sekaligus empirisme. 

Kesederhanaan lain yang bisa kita jumpai adalah gerakan artistik yang melatarbelakangi kekaryaan justru bukan dari tetumbuhan, melainkan berangkat dari "bias cahaya" yang memunculkan bercak hitam putih seperti kunang-kunang bertebaran yang jauh pada penglihatan, berkedip, ada bintik-bintik atau garis-garis cahaya menyerupai bentuk-bentuk' yang mengambang, saling berkelindan, saling-silang dan seterusnya, Disaat yang sama muncul juga abstraksi dedaunan, batang tanaman atau tetumbuhan yang berfantasi menyerupai sulur-sulur. Pergerakan garis-garisnya juga hadir tanpa struktur yang formal dan disana kita lebih menjumpai brushstroke yang ekologis sehingga semakin menguatkan ketaksadaran pada kekaryaan Rangga - ada kecenderungan subjektif, lebih mendekat pada hal-hal yang unik dan mampu dibaca oleh jiwa. Pameran ini berlangsung pada tanggal 13 September 2025 - 06 Oktober 2025 di Dgallerie Jakarta.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 24 September 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Wednesday, September 03, 2025

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 62)

Campur Series

Campur Series adalah ruang visual yang diciptakan oleh OGGZGOY, penuh dengan bentuk-bentuk bebas, warna-warna yang saling bertabrakan, dan cerita-cerita berlapis. Inti dari semuanya adalah satu karakter sederhana: sebutir telur. Tapi bukan sembarang telur. Telur ini bukan simbol kelahiran atau akhir, melainkan mewakili proses yang tak berujung, tanpa tujuan pasti. Telur ini tumbuh liar, berubah bentuk dengan bebas, dan menyerap berbagai elemen tanpa batas. Terkadang lucu, terkadang absurd, seringkali sulit dijelaskan. Setiap karya di ruang ini adalah fragmen perjalanan telur yang berkembang tanpa arah, namun entah bagaimana menemukan identitasnya di tengah kekacauan. 

Melalui karya seni ini, OGGZGOY membangun dunia yang apa adanya dan tulus. Tanpa pola yang tetap, tanpa aturan. Hanya naluri, dorongan, dan keberanian untuk memadukan semuanya menjadi satu ekspresi yang utuh. Di dunia yang senantiasa mengajarkan kita untuk "menjadi sesuatu", Campur Series merayakan proses menjadi, apa pun bentuknya. Pameran ini berlangsung pada tanggal 09 Agustus - 08 September 2025 di C'Project by MoT, JKT ART HUB Wisma Geha, 2nd floor JI. Timor No.25 Menteng, Central Jakarta.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 26 Agustus 2025.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.