Monday, August 15, 2022

BERBAGI TULISAN (ACAK) : PENGALAMAN SURVEY BEKERJA (1 DARI 2)

Survey ke-1 : Kalimantan Timur (11 September 2017 - 13 September 2017)

Survey ke-1 saya adalah menuju tambang batu bara di daerah Melak, Kalimantan Timur. Perusahaan tersebut bergerak di bidang kontraktor pertambangan batu bara dan mengajukan pembiayaan 6 unit Volvo Articulated Dump Truck. Survey ini saya ditemani oleh rekan kerja yang bernama Pak Rusadi. Perjalanan menaiki pesawat pada pukul 05:20 WIB dari Bandara Soekarno Hatta dan tiba pukul 08:35 WITA di Bandara Sepinggan, Balikpapan. Kemudian dilanjutkan penerbangan dari Balikpapan menuju Melak pada pukul 10:00 WITA. Kami tiba pukul 10:30 WITA di Bandara Melalan, Melak. Perjalanan survey dari Bandara Melalan sampai lokasi tambang tidak jauh, perjalanan darat hanya < 1 jam saja. Berdasarkan informasi saat survey, bahwa luas tambang tersebut adalah + 5.000 Ha dan sudah dieksplorasi + 2.371 Ha. Target produksi perusahaan adalah 350.000 MT/tahun. Batu bara yang diproduksi kemudian akan diekspor ke India.

Kemudian di hari ke-2, saya dan rekan kerja hanya beristirahat saja di hotel Grand Family sekitaran lokasi tambang batu bara. Kemudian pada pukul 14:55 WITA, kami kembali menuju Balikpapan dan tiba pada pukul 15:25 WITA. Pada malam harinya, kami berjalan-jalan sambil mencari makan di sekitaran Taman Bekapai. Untuk perjalanan pulang ke Jakarta, tiket kami yaitu pada hari ke-3 tanggal 13 September 2017 di jam 13:05 WITA dan sampai di Jakarta pada 14:10 WIB.


Survey ke-2 : Bengkulu (28 September 2017 - 29 September 2017)

Survey ke-2 saya adalah menuju ke lokasi perusahaan yang bergerak di bidang rental alat berat. Perusahaan tersebut mengajukan pembiayaan 1 unit Wheel Loader. Survey kedua ini saya pergi seorang diri. Perjalanan menaiki pesawat pada pukul 07:25 WIB dari Bandara Soekarno Hatta dan tiba pukul 08:50 WIB di Bandara Fatmawati Soekarno, Bengkulu. Kemudian dilanjutkan perjalanan darat + 2 jam menuju lokasi usaha. Selesai survey saya kemudian menginap di Hotel Tanjung Karang. Survey saya selesai di hari pertama di tanggal 28 September 2017.

Sebelum kembali menuju Jakarta, saya berkeliling menuju beberapa lokasi wisata di Bengkulu. Saya mengunjungi Pantai Panjang, Benteng Marlborough, Museum Bengkulu, dan Rumah Pengasingan Bung Karno. Saya sengaja memesan tiket pulang di sore hari agar bisa berjalan-jalan terlebih dahulu disini. Kemudian saya kembali menuju Jakarta pada tanggal 29 September 2017 pukul 16:10 WIB dan tiba pada pukul 17:25 WIB.


Survey ke-3 : Kalimantan Timur (08 November 2017 - 10 November 2017)

Survey ke-3 saya adalah menuju tambang batu bara di daerah Sangkulirang, Kalimantan Timur. Perusahaan tersebut bergerak di bidang kontraktor pertambangan batu bara dan mengajukan pembiayaan 35 unit Truck dan Alat Berat. Survey ketiga ini saya ditemani oleh rekan kerja yang bernama Pak Rusadi karena pengajuan pembiayaan perusahaan ini mencapai + Rp 75 Milyar. Perjalanan menaiki pesawat pada pukul 05:20 WIB dari Bandara Soekarno Hatta dan tiba pukul 08:35 WITA di Bandara Sepinggan, Balikpapan. Kemudian dilanjutkan dengan penerbangan via pesawat Air Born (yang dipesankan oleh customer) pada pukul 13:45 WITA dan tiba pada pukul 15:00 WITA di Bandara Tanjung Bara, Kalimantan Timur. Kami melakukan perjalan darat + 3 jam menuju lokasi penginapan karena survey akan dilakukan di hari kedua suvey di tanggal 09 November 2017.

Pada pukul 07:00 WITA kami melakukan perjalanan dari penginapan menuju lokasi tambang batu bara, ditempuh selama + 30 menit perjalanan darat. Berdasarkan informasi saat survey, bahwa luas tambang tersebut adalah + 10.600 Ha. Target produksi perusahaan adalah 4.000.000 MT/tahun. Batu bara yang diproduksi kemudian akan diekspor ke Korea, India, dan China. Kami selesai survey lokasi tambang sekitar pukul 13:00 WITA, dilanjutkan perjalanan darat menuju Balikpapan. Untuk perjalanan pulang ke Jakarta, tiket kami yaitu pada hari ke-3 tanggal 10 November 2017 di jam 13:05 WITA dan sampai di Jakarta pada 14:10 WIB.


Survey ke-4 : Riau (23 November 2017 - 24 November 2017)

Survey ke-4 saya adalah menuju ke lokasi perusahaan yang bergerak di bidang rental alat berat. Perusahaan tersebut mengajukan pembiayaan 1 unit Crawler Crane. Survey keempat ini saya pergi seorang diri. Perjalanan menaiki pesawat pada pukul 06:00 WIB dari Bandara Soekarno Hatta dan tiba pukul 07:45 WIB di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Riau. Kemudian dilanjutkan perjalanan darat + 1 jam menuju lokasi kantor dan pool customer. Pada pukul 11:00 WIB menuju ke lokasi usaha customer yang berada di daerah Duri, Riau. Kami tiba di lokasi sekitar pukul 17:00 WIB. Pada saat survey ke lokasi usaha, saya melihat aktivitas pekerjaan proyek drilling. Selesai survey, saya menuju lokasi penginapan terdekat. Untuk perjalanan pulang ke Jakarta, tiket saya yaitu di jam 19:30 WIB dan sampai di Jakarta pada 21:15 WIB.


Survey ke-5 : Jawa Tengah (10 Januari 2018 - 11 Januari 2018)

Survey ke-5 saya adalah menuju ke pelabuhan yang berada di Cilacap, Jawa Tengah. Pengajuan ini merupakan pengajuan sale and leaseback 1 unit kapal tanker. Dana tersebut nantinya akan digunakan untuk biaya docking kapal. Pada survey ini, saya pergi seorang diri dengan menggunakan kereta. Perjalanan dilakukan  pada 10 Januari 2018 dari Stasiun Gambir pada pukul 22:05 WIB dan tiba di Stasiun Cilacap pada 11 Januari 2018 sekitar pukul 05:00 WIB. Sekitar pukul 07:00, dilanjutkan perjalanan ke pelabuhan. Kemudian menaiki speedboat selama + 40 menit menuju lokasi kapal tanker. 

Berdasarkan informasi saat survey, bahwa kapal tanker tersebut merupakan buatan Singapura tahun 1994. Panjang, lebar, dan kedalaman kapal adalah 94,46 m, 18,80 m, dan 8,50 m. Jumlah awak kapal adalah berjumlah 26 orang. Kapal tanker ini melakukan pengangkutan bahan bakar MFO (Marine Fuel Oil).


Survey ke-6 : Sumatera Selatan (24 Januari 2018 - 26 Januari 2018)

Survey ke-6 saya adalah menuju tambang batu bara di daerah Muara Enim, Sumatera Selatan. Perusahaan tersebut bergerak di bidang kontraktor pertambangan batu bara dan mengajukan pembiayaan 20 unit Dump Truck. Perjalanan menaiki pesawat pada pukul 09:35 WIB dari Bandara Soekarno Hatta dan tiba pukul 10:50 WIB di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Sumatera Selatan.  Survey ke lokasi tambang dilakukan pada tanggal 25 Januari 2018, perjalanan menggunakan speedboat selama + 2 jam dan jalur darat selama + 4 jam. Saya tiba di lokasi tambang sekitar pukul 16:30 WIB. Berdasarkan informasi saat survey, bahwa luas tambang tersebut adalah + 2.100 Ha dan sudah dieksplorasi + 100 Ha. Target produksi perusahaan adalah 2.200.000 MT di tahun 2018. Batu bara yang diproduksi akan diekspor 50% ke China serta India. Untuk 50%nya lagi dijual kepada PLN.

Keesokan harinya di tanggal 26 Januari 2018, saya melakukan kunjungan ke kantor perwakilan perusahaan. Untuk perjalanan pulang ke Jakarta, tiket saya yaitu di jam 19:15 WIB dan sampai di Jakarta pada 20:25 WIB.


Survey ke-7 : Kalimantan Selatan (03 Mei 2018 - 04 Mei 2018)

Survey ke-7 saya adalah menuju ke lokasi perusahaan yang bergerak di jasa transportasi, ekspedisi, konstruksi, dan rental alat berat. Perusahaan tersebut mengajukan pembiayaan 2 unit Truck Crane yang akan digunakan di tambang batu bara yang berlokasi di Tanjung Tabalong, Kalimantan Selatan. Perjalanan menaiki pesawat pada pukul 05:45 WIB dari Bandara Soekarno Hatta dan tiba pukul 08:35 WITA di Bandara Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan. Kemudian saya melanjutkan perjalanan menuju lokasi kantor dan pool perusahaan terlebih dahulu. Pada pukul 11:00 WITA melanjutkan perjalanan menuju lokasi tambang baru bara. Saya sampai disana sekitar pukul 17:00 WITA. Berdasarkan informasi saat survey, bahwa Truck Crane akan digunakan untuk Project Maintenance dan Hoover (penumpahan batu bara), Project Assembling (perakitan), dan Fasility Support (pemindahan container).

Selesai survey selama + 1 jam, saya langsung melakukan perjalanan pulang menuju hotel terdekat dengan bandara. Saya tiba di hotel hampir di jam 24:00. Keesokan harinya, saya menghabiskan waktu dengan beristirahat saja di hotel. Untuk perjalanan pulang ke Jakarta, tiket saya yaitu di jam 18:45 WITA dan sampai di Jakarta pada 20:00 WIB.


Survey ke-8 : Kalimantan Timur (23 Juli 2018 - 24 Juli 2018)

Survey ke-8 saya adalah menuju tambang batu bara di daerah Samarinda, Kalimantan Timur. Perusahaan tersebut bergerak di bidang kontraktor pertambangan batu bara dan mengajukan pembiayaan 12 unit Dump Truck. Perjalanan menaiki pesawat pada pukul 05:20 WIB dari Bandara Soekarno Hatta dan tiba pukul 08:35 WITA di Bandara Sepinggan, Balikpapan. Kemudian pada pukul 09:00 WITA melakukan perjalanan ke lokasi tambang batu bara. Survey di lokasi tambang dilakukan pada pukul 13:00 WITA.

Berdasarkan informasi saat survey, bahwa luas tambang tersebut adalah + 545 Ha. Target produksi perusahaan adalah 400.000 MT/tahun. Batu bara yang diproduksi kemudian akan diekspor ke India. Setelah survey, saya menuju ke hotel untuk beristirahat. Kemudian pada pukul 20:00 WITA saya mengunjungi Mahakam Lampion Garden yang berlokasi tidak jauh dari hotel. Untuk perjalanan pulang ke Jakarta yaitu tanggal 24 Juli 2018, tiket saya yaitu di jam 16:00 WITA dan sampai di Jakarta pada 17:05 WIB.


Survey ke-9 : Kalimantan Timur (24 September 2018 - 25 September 2018)

Survey ke-9 saya adalah menuju 2 tambang batu bara di daerah Samarinda, Kalimantan Timur. Perusahaan tersebut bergerak di bidang kontraktor pertambangan batu bara dan mengajukan pembiayaan 2 unit Dump Truck dan 1 unit Alat Berat. Perjalanan menaiki pesawat pada pukul 04:55 WIB dari Bandara Soekarno Hatta dan tiba pukul 08:05 WITA di Bandara Sepinggan, Balikpapan. Terlebih dahulu melakukan kunjungan ke kantor perusahaan sampai pukul 12:00 WITA. Kemudian dilanjutkan dengan survey 2 lokasi tambang di Samarinda. Survey selesai dilakukan sekitar pukul 17:00 WITA.

Berdasarkan informasi saat survey, bahwa luas tambang pertama adalah + 45.000 Ha dan tambang kedua adalah + 1.903 Ha . Target produksi perusahaan adalah 2.000.000 MT/tahun. Batu bara yang diproduksi kemudian akan diekspor ke India, Korea, dan China. Setelah survey, saya menuju ke hotel untuk beristirahat. Untuk perjalanan pulang ke Jakarta yaitu tanggal 25 September 2018, tiket saya yaitu di jam 16:00 WITA dan sampai di Jakarta pada 17:05 WIB.


Survey ke-10 : Riau (06 November 2018 - 07 November 2018)

Survey ke-10 saya adalah menuju tambang batu bara di daerah Kuantan Singingi, Riau. Perusahaan tersebut bergerak di bidang kontraktor pertambangan batu bara dan mengajukan pembiayaan 6 unit Alat Berat. Perjalanan menaiki pesawat pada pukul 06:00 WIB dari Bandara Soekarno Hatta dan tiba pukul 07:45 WIB di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Riau. Kemudian pada pukul 08:30 WIB melakukan perjalanan ke lokasi tambang batu bara. Kami sampai di lokasi tambang sekitar pukul 16:00 WIB karena sempat tersasar di perjalanan. Survey hanya dilakukan sebentar saja karena ternyata lokasi tambang baru saja dibuka sehingga hampir belum terlihat adanya aktivitas usaha disana. Kemudian melanjutkan perjalanan pulang menuju hotel di dekat bandara. Untuk perjalanan pulang ke Jakarta yaitu tanggal 07 November 2018, tiket saya yaitu di jam 16:35 WIB dan sampai di Jakarta pada 18:25 WIB.

Tuesday, August 09, 2022

PERCOBAAN WATAK LAMPU PIJAR

A. Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini yaitu :

1. Memahami Hukum Ohm.

2. Mengetahui hubungan antara tegangan dengan arus, hambatan, dan daya yang dihasilkan.

3. Menentukan nilai tahanan dan daya pada lampu pijar.


B. Teori Dasar

Arus yang mengalir dalam suatu penghantar besarnya sebanding dengan tegangan (beda potensial) antara ujung-ujung penghantar atau dinyatakan dengan persamaan I = V / R, dengan I adalah arus (Ampere), V adalah tegangan (Volt), dan R adalah tahanan dari penghantar (Ω). Penghantar yang mengikuti Hukum Ohm adalah penghantar yang linier, maksudnya yaitu :

- Penghantar merupakan konduktor yang baik, bukan semikonduktor.

- Penghantar tidak mengalami perubahan suhu yang signifikan ketika dialiri arus karena bila suhu berubah maka hambatan akan berubah pula.

- Penghantar memiliki induktansi dan kapasitansi rendah atau induktansi sama dengan kapasitansi sehingga impedansi (hambatan) merupakan murni resistansi.

- Nilai resitansinya tidak bergantung terhadap besar dan polaritas beda potensial yang dikenakan atau diberikan kepada konduktor tersebut.

Jika dalam suatu penghantar mengalir arus listrik, maka dalam penghantar ini ada tenaga listrik yang hilang dan berubah menjadi panas. Dikatakan ada tenaga listrik yang terdisipasi. Besarnya tenaga terdisipasi tiap detiknya atau daya yang terdisipasi adalah P = V I (Watt atau Joule/detik). Karena adanya daya terdisipasi menjadi panas, maka jelaslah bahwa tahanan suatu lampu pijar berubah dengan berubahnya tegangan.


C. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada percobaan :

1. Voltmeter.

2. Amperemeter.

3. Sumber Tegangan.

4. Lampu Pijar.


D. Prosedur Percobaan

Berikut ini prosedur pada percobaan :

1. Mengatur sumber tegangan sehingga tegangan yang ditunjukan oleh voltmeter 10 volt. Membaca amperemeternya. Mencatat besarnya arus tersebut sebanyak 5x pengulangan.

2. Mengulangi percobaan untuk tegangan 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 90, dan 100 volt.


E. Data Percobaan


F. Pengolahan dan Perhitungan Data

Lampu pijar adalah sumber cahaya buatan yang dihasilkan melalui penyaluran listrik melalui filamen yang kemudian memanas dan menghasilkan cahaya. Kaca yang menyelubungi filamen panas tersebut menghalangi udara untuk berhubungan dengannya sehingga filamen tidak akan langsung rusak akibat teroksidasi. Lampu pijar yang digunakan pada percobaan tertulis 220 - 240 V / 40 W. Maksudnya adalah lampu pijar tersebut memiliki daya 40 Watt jika tegangan yang diberikan berkisar 220 - 240 Volt. Hal ini dikatakan lampu menyala normal. Jika tegangan yang diberikan kurang dari 220 - 240 Volt, maka lampu tidak akan menyala atau menyala redup. Jika tegangan yang diberikan lebih besar dari 220 - 240 Volt, maka lampu akan menyala sangat terang. 

Arus yang digunakan pada percobaan ini bukan arus DC (arus searah), tetapi AC (arus bolak balik). Jika kita mengamati secara periodik, maka lampu pijar terkadang akan terlihat meredup dan terang kembali terang, walaupun perubahan hanya sedikit. Hal ini membuktikan bahwa arus bolak-balik menunjukkan arah yang selalu berubah secara periodik terhadap waktu sehingga nilai arusnya dan tegangan bolak baliknya selalu berubah-ubah menurut waktu dan mempunyai pola grafik simetris berupa fungsi sinusoida.

Pada percobaan, lampu belum menyala pada tegangan 10 - 20 Volt. Lampu mulai menyala pada tegangan 30 Volt dan semakin terang sampai tegangan 100 Volt. Maka dapat disimpulkan seiring bertambahnya voltase listrik yang digunakan maka semakin tinggi intensitas cahaya, sebab naiknya tegangan memacu naiknya aliran listrik. Dengan membesarnya aliran listrik, maka membesar pula probabilitas terjadinya tumbukan di dalam filamen.

Semakin besar tegangan yang diberikan, maka akan menyebabkan hambatan filamen semakin besar pula. Hal ini dikarenakan, semakin besar tegangan maka akan menimbulkan kenaikan suhu. Dengan adanya peningkatan suhu, hambatan filamen akan semakin meningkat pula. Semakin besar tegangan yang diberikan, maka akan semakin besar pula dayanya. Hal ini terjadi karena adanya disipasi tenaga dalam suatu penghantar, menyebabkan ada tenaga listrik yang hilang dan berubah menjadi panas sehingga daya bertambah besar seiring naiknya tegangan.


G. Kesimpulan dan Saran

Dalam percobaan ini dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Pada Hukum Ohm, arus yang mengalir pada suatu penghantar besarnya sebanding dengan tegangan (beda potensial) antara ujung-ujung penghantar dengan rumus V = I R.

2. Semakin besar tegangan yang diberikan, maka besarnya arus (I), hambatan (R), dan daya (P) juga akan semakin meningkat.

3. Nilai tahanan (hambatan) dan daya yang diperoleh pada percobaan yaitu :


Dalam percobaan ini dapat disarankan sebagai berikut.

1. Lebih teliti dalam merangkai rangkaian dalam percobaan.

2. Menguji kabel-kabel penghubung sebelum digunakan dalam percobaan.


H. Daftar Pustaka

belajar.kemendiknas.go.id/indexs.php?display-bahan%20Belajar/Modul%20Online

https://ariefwara.files.wordpress.com/2010/11/Lampu.pdf

id.wikipedia.org/wiki/Lampu-Pijar

mafia.mafiaol.com/2013/04/arus-bolak-balik-alternating current.html

Wednesday, August 03, 2022

PERCOBAAN KOEFISIEN KEKENTALAN ZAT CAIR

A. Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini yaitu :

1. Mempelajari definisi koefisien kekentalan zat cair.

2. Mempelajari gaya yang bekerja pada suatu benda yang bergerak jatuh di dalam suatu fluida.

3. Menentukan nilai koefisien kekentalan zat cair (viskositas) suatu fluida.


B. Teori Dasar

Fluida atau zat cair (termasuk uap air dan gas) dibedakan dari benda padat karena kemampuannya untuk mengalir. Fluida lebih mudah mengalir karena ikatan molekul dalam fluida jauh lebih kecil dari ikatan molekul dalam zat padat, akibatnya fluida mempunyai hambatan yang relatif kecil pada perubahan bentuk karena gesekan. 

Kekentalan (viskositas) zat cair secara umum didefinisikan sebagai suatu ukuran atau tetapan yang dimiliki oleh suatu fluida dan menyatakan besar kecilnya gesekan di dalam fluida (kentalnya fluida). Alat yang digunakan untuk menentukan viskositas adalah viskometer. Ada beberapa jenis viskometer, salah satunya adalah viskometer bola jatuh - Stokes. Terhadap sebuah benda yang bergerak jatuh di dalam fluida bekerja tiga macam gaya, yaitu :

a. Gaya gravitasi atau gaya berat (W), gaya inilah yang menyebabkan benda bergerak ke bawah dengan suatu percepatan.

b. Gaya apung atau gaya Archimedes (B), arah gaya ini ke atas dan besarnya sama dengan berat fluida yang dipindahkan oleh benda itu.

c. Gaya gesek (Fg), arahnya ke atas dan besarnya dinyatakan dengan persamaan F= k v.

Untuk menentukan nilai koefisien kekentalan zat cair dapat digunakan persamaan :


C. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada percobaan :

1. Tabung yang berisi zat cair.

2. Bola-bola kecil.

3. Mikrometer sekrup, jangka sorong, dan mistar.

4. Termometer.

5. Stopwatch.

6. Dua gelang kawat yang melingkari tabung.

7. Areometer.

8. Sendok saringan untuk mengambil bola dari dasar tabung.

9. Timbangan torsi dengan batu timbangnya.


D. Prosedur Percobaan

Berikut ini prosedur pada percobaan :

1. Mengukur diameter tiap-tiap bola dengan mikrometer sekrup. Melakukan 5x pengukuran untuk tiap-tiap bola.

2. Menimbang tiap-tiap bola dengan neraca torsi.

3. Mengukur diameter bagian dalam dari tabung sebanyak 5x pengukuran.

4. Mencatat suhu zat cair sebelum dan sesudah percobaan.

5. Mengukur rapat massa zat cair menggunakan areometer.

6. Menempatkan gelang kawat yang melingkar tabung kira-kira 5 cm di bawah permukaan zat cair dan yang lain kira-kira 5 cm dari dasar tabung.

7. Mengukur jarak jatuh antar kedua gelang kawat.

8. Memasukkan sendok saringan sampai dasar tabung.

9. Mengukur waktu jatuh untuk tiap bola masing-masing 5x pengulangan.

10. Mengubah letak kawat sehingga jarak berubah juga. 


E. Data Percobaan


F. Pengolahan dan Perhitungan Data


G. Kesimpulan dan Saran

Dalam percobaan ini dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Koefisien kekentalan zat cair merupakan suatu ukuran atau tetapan yang dimiliki oleh suatu fluida dan menyatakan besar kecilnya gesekan di dalam fluida.

2. Suatu benda (bola) yang jatuh dalam fluida (gliserin) dipengaruhi oleh gaya gravitasi, gaya apung, dan gaya gesek.

3. Pada percobaan diperoleh nilai koefisien kekentalan gliserin adalah 0,395 - 0,570 Pa.s.


Dalam percobaan ini dapat disarankan sebagai berikut.

1. Lebih teliti dalam mengukur waktu jatuh bola dalam gliserin.


H. Daftar Pustaka

Buerhe, Frederick J dan Eugene Hecht, Ph.D. 2006. Fisika Universitas. Jakarta : Erlangga.

Giancoli. 1999. Fisika. Jakarta : Erlangga.

Halliday dan Resnik. 1994. Fisika. Jakarta : Erlangga.

Prasetya, Lea dkk. 1991. Mengerti Fisika. Yogyakarta : Aoldi Offset.

Tipler. 1991. Fisika Untuk Sains dan Teknik. Jakarta : Erlangga.

Sunday, July 31, 2022

PERCOBAAN TEGANGAN PERMUKAAN II

A. Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini yaitu :

1. Mempelajari definisi tegangan permukaan dan gaya yang bekerja pada tegangan permukaan.

2. Mengetahui besar tegangan permukaan zat cair.


B. Teori Dasar

Masing-masing zat cair memiliki koefisien tegangan permukaan masing-masing. Molekul-molekul zat cair di bagian permukaan mempunyai kohesi lebih besar dibandingkan di bagian dalam. Gaya tarik dengan molekul-molekul di udara diatasnya relatif amat kecil. Hal ini menyebabkan sifat istimewa pada permukaan zat cair, yaitu tegangan permukaan atau tegangan bidang atas. Tegangan permukaan merupakan resultan gaya kohesi pada molekul-molekul lapisan permukaan tiap satuan panjang. Untuk menghitung nilai tegangan permukaan dapat menggunakan persamaan.

Gaya-gaya yang bekerja pada tegangan permukaan yaitu.

a. Gaya kohesi

Gaya kohesi adalah gaya tarik menarik antara molekul yang sejenis, contohnya raksa.

b. Gaya adhesi

Gaya adhesi adalah gaya tarik menarik antara molekul yang tidak sejenis, contohnya air dan lem.


C. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada percobaan :

1. Pipa kapiler.

2. Bejana gelas.

3. Manometer terbuka.

4. Buret.

5. Tabung erlenmeyer.

6. Mistar.

7. Termometer.

8. Mikrometer sekrup.


D. Prosedur Percobaan

Berikut ini prosedur pada percobaan :

1. Tahap persiapan

a. Membuat air pada pipa U dalam keadaan udara yang minimal.

b. Membuat air pada kedua kaki manometer terbuka harus sama tinggi.

c. Mengisi buret pada kran tertutup.

d. Mengisi bejana gelas dengan air.


2. Tahap percobaan

a, Mengukur jarak dari ujung pipa bawah kapiler sampai dimana pipa itu akan dicelupkan (hz). Memberi tanda pada jarak tersebut.

b. Mencelupkan pipa kapiler sampai tanda batas tersebut.

c. Membuka kran buret dengan perlahan-lahan.

d. Memperhatikan ujung pipa kapiler yang dicelupkan. Pada saat keluar gelembung udara yang pertama, mencatat kedudukan permukaan air pada kaki yang terbuka dari manometer (hm).

h = 2 (hm - hz)

e. Melakukan langkah (d) sebanyak 5x.

f. Mengulangi percobaan dengan mengubah jarak pipa kapiler sebanyak 3x perubahan.


E. Data Percobaan


F. Pengolahan dan Perhitungan Data


G. Kesimpulan dan Saran

Dalam percobaan ini dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Zat cair memiliki sifat istiewa yaitu terdapat tegangan permukaan atau tegangan bidang ke atas. Tegangan permukaan dipengaruhi oleh gaya adhesi dan kohesi.

2. Besar tegangan permukaan yang diperoleh dari percobaan yaitu 0,065 - 0,139 N/m.


Dalam percobaan ini dapat disarankan sebagai berikut.

1. Teliti dalam membaca skala pada manometer.


H. Daftar Pustaka

Buerhe, Frederick J dan Eugene Hecht, Ph.D. 2006. Fisika Universitas. Jakarta : Erlangga.

Giancoli. 1999. Fisika. Jakarta : Erlangga.

Halliday dan Resnik. 1994. Fisika. Jakarta : Erlangga.

Sears, Zemansky. 1991. Fisika Untuk Universitas Jilid 1. Jakarta : PT Bina Cipta.

Tipler. 1991. Fisika Untuk Sains dan Teknik. Jakarta : Erlangga.

Friday, July 29, 2022

PERCOBAAN TEGANGAN PERMUKAAN I

A. Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini yaitu :

1. Mempelajari definisi tegangan permukaan.

2. Mempelajari gaya yang bekerja pada tegangan permukaan.

3. Mengetahui besar tegangan permukaan zat cair.


B. Teori Dasar

Tegangan permukaan zat cair dapat dijelaskan dengan meninjau gaya yang dialami oleh partikel zat cair. Apabila dua partikel zat cair berdekatan, maka gaya tarik-menariknya kecil. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tiap-tiap partikel hanya ditarik oleh partikel-partikel sekelilingnya. Pada dasarnya, tegangan permukaan zat cair didefinisikan sebagai besarnya gaya yang dialami oleh tiap satuan panjang pada permukaan zat cair.

Untuk menghitung nilai tegangan permukaan adalah dapat menggunakan persamaan :


C. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada percobaan :

1. Dua batang gelas.

2. Benang.

3. Air sabun.

4. Kertas milimeter.


D. Prosedur Percobaan

Berikut ini prosedur pada percobaan :

1. Menimbang berat batang gelas kaca sebanyak beberapa kali dan mencatat hasilnya.

2. Menghubungkan dua batang gelas yang panjangnya sama dengan utas benang yang panjangnya 4 kali jarak ikatan pada batang kaca.

3. Mengukur jarak antara kedua benang dengan menggunakan kertas milimeter.

4. Mencelupkan kedua batang gelas kaca yang telah dihubungkan dengan benang pada air sabun, lalu mengangkat kaca tersebut dengan memegang salah satu batangkaca tersebut dan mendekatkannya pada kertas milimeter. Mengatur jarak antara kedua batang kaca yang tersedia agar dapat diukur dengan teliti. Mencatat hasil pengukurannya.

5. Melakukan langkah ke (2) dan ke (4) dengan menggantikan panjang benang (lebih panjang dari percobaan sebelumnya).


E. Data Percobaan


F. Pengolahan dan Perhitungan Data



G. Kesimpulan dan Saran

Dalam percobaan ini dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Tegangan permukaan zat cair merupakan kecenderungan permukaan zat cair untuk menegang sehingga permukaannya seperti ditutupi oleh lapisan elastis.

2. Pada percobaan tegangan permukaan, terdapat dua gaya yang bekerja yaitu gaya oleh batang kaca dan gaya oleh benang pada bagian atas lapisan gelembung sabun.

3. Pada percobaan diperoleh nilai tegangan permukaan yaitu 7,93 x 10⁻³ - 3,602 x 10⁻² N/m.


Dalam percobaan ini dapat disarankan sebagai berikut.

1. Lebih teliti dalam melakukan pengukuran kelengkungan benang pada kertas milimeter.


H. Daftar Pustaka

Buerhe, Frederick J dan Eugene Hecht, Ph.D. 2006. Fisika Universitas. Jakarta : Erlangga.

Giancoli. 1999. Fisika. Jakarta : Erlangga.

Halliday dan Resnik. 1994. Fisika. Jakarta : Erlangga.

Sears, Zemansky. 1991. Fisika Untuk Universitas Jilid 1. Jakarta : PT Bina Cipta.

Tipler. 1991. Fisika Untuk Sains dan Teknik. Jakarta : Erlangga.

Saturday, July 23, 2022

PERCOBAAN AYUNAN MATEMATIS

A. Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini yaitu :

1. Menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi nilai percepatan gravitasi.

2. Menentukan nilai percepatan gravitasi setempat.

3. Menentukan nilai periode dari ayunan matematis.


B. Teori Dasar

Pada percobaan ini, ayunan yang dipergunakan adalah ayunan yang dibuat sedemikian rupa dengan bebannya adalah bandul fisis. Pada dasarnya, percobaan dengan bandul ini tidak terlepas dari getaran, dimana pengertian getaran itu sendiri adalah gerak bolak-balik secara perioda melalui titik kesetimbangan. Getaran dapat bersifat sederhana dan kompleks. Getaran yang dibahas tentang bandul yaitu getaran harmonik sederhana yang berarti suatu getaran dimana resultan gaya yang bekerja pada titik sembarang selalu mengarah ke titik kesetimbangan dan besar resultan gaya sebanding dengan jarak titik sembarang ke titik kesetimbangan itu. 

Periode (T) adalah waktu yang diperlukan untuk satu kali getaran dan dapat dihitung dengan persamaan.

Dengan L adalah panjang tali (m) dan g adalah percepatan gravitas (m/s²)

Simpangan yang dibentuk tidak boleh besar karena apabila melebihi batas simpangan maksimum untuk gerak harmonik yaitu 15°, maka gerakan bandul bukanlah gerak harmonik sederhana dan dikhawatirkan akan berhenti bukan pada titik setimbangnya. Sedangkan jika simpangan sudut kecil < 15°, maka benda akan mengalami gerak harmonis sehingga periodenya dapat diperoleh.


C. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada percobaan :

1. Stopwatch.

2. Bola logam.

3. Benang.

4. Penggaris panjang dan busur.

5. Statif.


D. Prosedur Percobaan

Berikut ini prosedur pada percobaan :

1. Menggantungkan bola logam dengan benang pada ujung statif.

2, Mengukur panjang tali penggantung mulai dari titik simpul pada ujung statif sampai tengah-tengah bola logam.

3. Memberikan simpangan yang kecil. Setelah itu melepaskannya dan mengisahakan agar tidak terjadi gerakan yang memuntir.

4. Membiarkan sejenak bandul mengayun selama 30 detik. Mencatat waktu yang diperlukan bandul untuk melakukan 10 getaran sebanyak 5 kali.


E. Data Percobaan


F. Pengolahan dan Perhitungan Data


G. Kesimpulan dan Saran

Dalam percobaan ini dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Percepatan gravitasi ditentukan oleh besarnya periode kuadrat dan panjang tali atau benang yang digunakan. Semakin panjang tali, maka waktu yang diperlukan untuk mencapai 10x getaran akan semakin lama.

2. Berdasarkan percobaan, nilai percepatan gravitasi yang diperoleh yaitu 9,61 - 10,23 m/s².

3. Berdasarkan percobaan, nilai periode yang diperoleh yaitu 1,99 - 2,239 s.


Dalam percobaan ini dapat disarankan sebagai berikut.

1. Lebih teliti dalam mengukur waktu yang diperlukan untuk 10x getaran menggunakan stopwatch.


H. Daftar Pustaka

Buerhe, Frederick J dan Eugene Hecht, Ph.D. 2006. Fisika Universitas. Jakarta : Erlangga.

Giancoli. 1999. Fisika. Jakarta : Erlangga.

Halliday dan Resnik. 1994. Fisika. Jakarta : Erlangga.

Prasetya, Lea dkk. 1991. Mengerti Fisika. Yogyakarta : Aoldi Offset.

Tipler. 1991. Fisika Untuk Sains dan Teknik. Jakarta : Erlangga.

Sunday, July 17, 2022

PERCOBAAN GERAK HARMONIK SEDERHANA

A. Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini yaitu :

1. Menentukan nilai tetapan suatu pegas.

2. Menentukan periode suatu pegas.

3. Menentukan hubungan antara tetapan pegas, periode, dan massa beban.

4. Mempelajari gerak harmonik sederhana pada suatu pegas.


B. Teori Dasar

Jika suatu pegas berbeban yang mula-mula dalam keadaan setimbang, kemudian bebannya ditarik ke bawah dengan simpangan sebesar A dari kedudukan setimbangnya (x = 0) dan dilepaskan, maka beban akan bergerak bolak-balik ke atas dan ke bawah sekitar kedudukan setimbangnya dengan simpangan maksimum A saat balok melewati posisi setimbang x = 0, percerpatannya nol. Saat itu juga, tercapai kelajuan maksimum karena tanda percepatannya positif dan akhirnya mencapai x = -A. Pada saat itu terdapat percepatan dan kelajuannya kembali nol. Kemudian balok menyelesaikan satu siklus gerak dengan kembali ke posisi asalnya, kemudian melewati x = 0 dengan kelajuan maksimum. Dengan demikian, dapat kita lihat bahwa balok berosilasi diantara titik-titik x = + A.

Karena gaya yang dihasilkan pegas konservatif serta tidak ada gesekan (karena diabaikan), gerak ini akan bolak-balik, secara periodik tidak akan hilang dan akan berlangsung selamanya. Gerak sistem yang bekerja dengan cara seperti ini disebut gerak harmonik sederhana. Suatu benda mengalami gerak harmonik sederhana saat percepatannya berbanding lurus dengan posisinya dan berlawanan arah dengan perpindahan dari kesetimbangannya. Penyebab gerak harmonik sederhana adalah bekerjanya gaya pulih elastis F = -kx pada benda. Untuk menghitung nilai tetapan pegas k dapat digunakan rumus sebagai berikut.

Dengan k adalah tetapan pegas (N/m), m adalah massa (kg), dan T adalah periode geraknya (s).


C. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada percobaan :

1. Pegas dan statif.

2. Ember dan keping-keping beban.

3. Stopwatch.

4. Neraca teknis dan anak timbangnya.


D. Prosedur Percobaan

Berikut ini prosedur pada percobaan :

1. Menimbang pegas dan ember baban dengan menggunakan neraca teknis untuk menentukan massa masing-masing.

2. Menggantung pegas pada statif dan menggantung ember beban pada ujung bawah dari pegas. Menarik ember hingga diperoleh simpangan kecil dan melepaskan, sistem akan melakukan gerak harmonik sederhana.

3. Mencatat waktu ayunan dengan stopwatch dalam 5 kali getaran.

4. Menambahkan keping beban dan mengulangi percobaan (2) dan (3).

5. Mengulangi percobaan (4) dengan mengurangi beban satu per satu.


E. Data Percobaan


F. Pengolahan dan Perhitungan Data

Dari data di atas, maka dapat ditentukan nilai periode T (dengan n = 5x getaran) dan tetapan pegas k yaitu :

Atau jika diringkas menjadi sebagai berikut ini :


G. Kesimpulan dan Saran

Dalam percobaan ini dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Nilai periode yang diperoleh dari percobaan yaitu 0,566 - 0,748 s.

2. Nilai tetapan pegas yang diperoleh dari percobaan yaitu 19,6 - 24,7 N/m.

3. Nilai konstanta pegas atau tetapan pegas dipengaruhi oleh periode kuadrat dan massa beban. Semakin besar beban diberikan, maka periodenya juga akan semakin besar.

4. Jika suatu pegas berbeban yang mula-mula dalam keadaan setimbang, kemudian diberi beban lalu ditarik ke bawah, maka pegas tersebut akan melakukan gerak harmonik sederhana.


Dalam percobaan ini dapat disarankan sebagai berikut.

1. Lebih teliti dalam mengukur waktu yang diperlukan untuk 5 kali getaran.


H. Daftar Pustaka

Buerhe, Frederick J dan Eugene Hecht, Ph.D. 2006. Fisika Universitas. Jakarta : Erlangga.

Giancoli. 1999. Fisika. Jakarta : Erlangga.

Halliday dan Resnik. 1994. Fisika. Jakarta : Erlangga.

Sears, Zemansky. 1991. Fisika Untuk Universitas Jilid 1. Jakarta : PT Bina Cipta.

Tipler. 1991. Fisika Untuk Sains dan Teknik. Jakarta : Erlangga.

Monday, July 11, 2022

PERCOBAAN ELASTISITAS BATANG

A. Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini yaitu :

1. Mengetahui faktor-faktor yang menentukan nilai Modulus Elastisitas atau Modulus Young.

2. Mengetahui nilai Modulus Elastisitas Kayu.


B. Teori Dasar

Elastisitas adalah kemampuan suatu benda untuk kembali ke bentuk awalnya segera setelah gaya luar yang diberikan kepada benda itu dihilangkan. Seperti pada sebuah pegas yang digantungi dengan beban, akan kembali ke bentuk semula jika beban tersebut kita ambil kembali. Contoh lainnya adalah ketapel dan karet gelang, jika kita rentangkan maka akan terjadi penambahan panjang pada kedua benda tersebut tetapi jika gaya yang bekerja pada kedua benda tersebut dihilangkan maka benda tersebut akan kembali ke bentuk semula.

Sebuah benda dapat dikatakan elastisitas sempurna jika gaya penyebab perubahan bentuk hilang maka benda akan kembali ke bentuk sempurna. Benda yang elastis sempurna yaitu mempunyai batas-batas deformasi yang disebut limit elastik sehingga jika melebihi dari limit elastik maka benda tidak akan kembali ke bentuk semula. Benda yang tidak elastis adalah benda yang tidak kembali ke bentuk semula saat gaya dilepaskan, misalnya saja adonan kue. Bila kita menekan adonan kue, bentuknya akan berubah, tetapi saat gaya dilepaskan dari adonan kue maka adonan tidak dapat kembali ke bentuk semula.

Tegangan / stress (𝜎) didefinisikan sebagai perbandingan antara gaya yang bekerja pada benda (𝐹) dan luas penampang benda (𝐴). Secara matematis dirumuskan 𝜎 = 𝐹 / 𝐴.

Regangan / strain (𝜀) didefinisikan sebagai perbandingan antara pertambamhan panjang (𝛥𝑙) dan panjang batang mula-mula (𝑙). Secara matematis dirumuskan 𝜀 = 𝛥𝑙 / 𝑙.

Karakteristik hubungan tegangan dan regangan untuk tiap benda umumnya berbeda, tergantung pada jenis dan sifat benda. Perbandingan antara tegangan dan regangan benda disebut Modulus Elastisitas atau Modulus Young dan dinyatakan dengan simbol 𝐸. Secara matematis dirumuskan.

Atau dapat dirumuskan sebagai berikut.

Dengan :

𝐸 = Modulus Elastisitas atau Modulus Young (N/m²)

𝐵 = Berat benda (N)

𝑚 = Massa benda (kg)

𝑔 = Percepatan gravitasi (m/s²)

𝐿 = Panjang batang antara dua tumpuan (m)

𝑓 = pelenturan (m)

𝑏 = lebar batang (m)

𝘩 = tebal batang (m)


C. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada percobaan :

1. Batang yang akan diteliti.

2. Perangkat penopang.

3. Perangkat baca.

4. Perangkat beban.

5. Beban.

6. Mistar.

7. Jangka sorong.

8. Mikrometer sekrup.


D. Prosedur Percobaan

Berikut ini prosedur pada percobaan :

1. Mengukur lebar dan tebal batang di beberapa tempat sebanyak 10 kali pengukuran.

2. Mengukur jarak antar dua bilah penopang (100 cm).

3. Meletakkan batang di atas penopang dengan jarak yang seimbang.

4. Meletakkan perangkat beban pada titik tengah batang dan memasang perangkat baca pada meja.

5. Memasang beban secara berturut-turut dengan beban yang tersedia, kemudian mencatat penurunan titik tengah batang dari tiap keping bebannya.

6. Setelah semua penurunan titik tengah tercatat, mengangkat satu per satu beban dari batang dan mencatat data kenaikan titik tengah batang di perangkat baca.

7. Mengulangi percobaan dengan mengubah jarak antar bilah penopang (120 cm).


E. Data Percobaan

Note :

- Ketebalan batang diukur menggunakan mikrometer sekrup.

- Lebar batang diukur menggunakan jangka sorong.


F. Pengolahan dan Perhitungan Data

Dari data di atas, maka akan diperoleh nilai 𝐸 (Modulus Elastisitas atau Modulus Young) yaitu :


G. Kesimpulan dan Saran

Dalam percobaan ini dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Modulus Young dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu massa beban, tebal dan lebar batang, jarak antar bilah, dan penurunan atau kenaikan titik tengah batang.

2. Nilai Modulus Young yang diperoleh dari percobaan yaitu 1,91 x 10¹⁰ - 6,56 x 10¹⁰ N/m².


Dalam percobaan ini dapat disarankan sebagai berikut.

1. Lebih teliti dalam membaca hasil pengukuran kenaikan dan penurunan titik tengah batang.

2. Meletakkan batang yang diukur dengan jarak yang setimbang.


H. Daftar Pustaka

Giancoli. 1999. Fisika. Jakarta : Erlangga.

Halliday dan Resnik. 1994. Fisika. Jakarta : Erlangga.

Sears, Zemansky. 1991. Fisika Untuk Universitas Jilid 1. Jakarta : PT Bina Cipta.

Sudajo. 1996. Fisika Dasar Jilid 1. Bandung : ITB.

Tipler. 1991. Fisika Untuk Sains dan Teknik. Jakarta : Erlangga.

Tuesday, July 05, 2022

PERCOBAAN DIFRAKSI SINAR-X

A. Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini yaitu :

1. Mempelajari karakteristik radiasi sinar-x.

2. Mempelajari pengaruh tegangan terhadap intensitas sinar-x terdifraksi.

3. Mempelajari sifat difraksi sinar-x pada kristal.

4. Menentukan parameter kisi kristal padatan (KBr).


B. Teori Dasar

Ditemukan oleh Wilhelm Roentgen (1895), radiasi sinar-x dihasilkan saat elektron penembak yang bergerak dipercepat menumbuk permukaan suatu bahan padat (logam). Semakin cepat gerak elektron, semakin besar sinar-x yang dihasilkan. Semakin banyak jumlah elektron, semakin besar intensitas sinar-x. Jika sebuah elektron bebas bergerak dipercepat sehingga mampu menerobos suatu atom hingga membentuk elektron pada kulit terdalam hingga keluar. Karena adanya kekosongan pada kulit terdalam, maka untuk mempertahankan keadaan stabil, elektron terluar akan mengisi kekosongan pada kulit atom terdalam sambil memancarkan gelombang sinar-x.

Menurut terori elektromagnetik, sinar-x juga dapat dihasilkan melalui peristiwa pengereman elektron yang dipercepat yang disebut peristiwa Bremsstrahlung. Sinar-x memiliki daya tembus yang cukup besar dan panjang gelombangnya berorde 10⁻¹⁰ m yang bersesuaian dengan ukuran kisi kristal. Karena itu, sinar-x dapat digunakan untuk menganalisis struktur kristal bahan padatan melalui peristiwa difraksi. Peristiwa difraksi sinar-x pada kristal padatan dinyatakan dengan persamaan Bragg :

Dengan dhkl adalah jarak antar bidang kristal, 𝜃 adalah sudut difraksi, 𝜆 adalah panjang gelombang, dan n = 1, 2, 3, ....

Jarak antar bidang kristal sejajar yang berdekatan merupakan fungsi dari indeks Miller (hkl) dan tetapan kisi (a). Untuk struktur kristal kubus dapat ditulis :

Dengan s = h² + k² + l². Jika s diketahui maka nilai h, k, dan l akan diperoleh. Struktur kristal berbeda akan menunjukkan kumpulan nilai s yang berbeda pula. Untuk struktur kristal sistem kubus, nilai kumpulan s ditunjukkan sebaga berikut :

Kubus sederhana : 1, 2, 3, 4, 5, 6, 8, 9, 10, ...

Kubus pusat badan (bcc) : 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14, ...

Kubus pusat muka (fcc) : 3, 4, 8, 11, 12, 16, ...


C. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada Percobaan Difraski Sinar-x :

1. Satu set peralatan difraksi sinar-x.

2. Sumber tegangan.

3. Sampel KBr.


D. Prosedur Percobaan

Berikut ini prosedur pada Percobaan Difraksi Sinar-x :

1. Menyusun dan menyiapkan peralatan difraksi sinar-x dengan posisi sumber sinar-x, sampel, dan detektor adalah sejajar (𝜃 = 0).

2. Mengatur besar tegangan 15 kV.

3. Mencatat besar intensitas sinar-x terhadap sudut 2𝜃 mulai dari 5° hingga 90° dengan waktu cacah 10 s.

4. Mengulangi percobaan untuk tegangan 20 kV.


E. Data Percobaan

Untuk V = 15 kV

Untuk V = 20 kV


F. Pengolahan dan Perhitungan Data

                                V = 15 kV                                                            V = 20 kV


G. Analisa Data

Pada percobaan ini digunakan sudut 2𝜃, bukanlah 𝜃 karena jika sudut 𝜃 terlalu kecil maka sudut difraksi pada percobaan tidak akan terukur secara teratur. Pada percobaan ini digunakan sudut 2𝜃 mulai dari 5° hingga 90°, baik untuk tegangan 15 kV dan 20 kV.  Pada percobaan dapat dilihat bahwa semakin besar tegangan, maka intensitas yang diperoleh akan semakin besar. Baik pada percobaan I dan II, nilai intensitas bervariasi (naik-turun) pada sudut tertentu. Hal ini karena dalam spektrum kontinyu sinar-x timbul akibat adanya pengereman-pengereman elektron yang memiliki energi kinetik tinggi pada anoda. Pada saat pengereman, sebagian energi diubah menjadi sinar-x. Pengereman elektron ini dapat terjadi tiba-tiba. Akibatnya, intensitas yang terbentuk berubah-ubah karena energinya juga berubah-ubah.

Untuk nilai s pada percobaan mengikuti pola kubus pusat muka (fcc). Pada kubus ini, atom-atom berada pada setiap sudut kubus dan setiap sudut bidang. Dari hasil percobaan bahwa semakin besar nilai s, maka tetapan kisi yang diperoleh semakin besar. Begitupula dengan nilai dhkl, semakin kecil nilai s dan semakin besar a, maka nilai dhkl akan semakin besar.

Pada intensitas maksimum tertentu dan pda sudut tertentu, diambil titik-titik pertemuan agar dapat melihat titik maksimumnya. Dari literatur bahwa nilai a = 6,41 - 6,5 Å, sedangkan dari percobaan diperoleh nilai a = 3,68 - 14,14 Å. Dari literatur dhkl = 3 Å, sedangkan dari percobaan diperoleh nilai dhkl = 0,96 - 3,68 Å. Penyimpangan kemungkinan terjadi saat pergantian sudut tiap 1° kurang tepat dan tidak mereset ulang hasil intensitas. Jika dibandingkan intensitas sinar-x terdifraksi oleh KBr dan tabung sinar-x, maka nilai intensitas terdifraksi oleh KBr akan memiliki nilai intensitas yang lebih kecil. Hal ini disebabkan adanya hamburan dan penyerapan berkas oleh atom dalam medium. Sedangkan, pada tabung sinar-x, tegangan yang tinggi akan menghasilkan intensitas yang besar jika tidak ada proses pengereman elektron.


H. Kesimpulan dan Saran

Dalam percobaan ini dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Radiasi sinar-x dihasilkan saat elektron penembak yang bergerak dipercepat menumbuk permukaan suatu bahan padat (logam).

2. Semakin besar tegangan, maka nilai intensitas sinar-x terdifraksi akan semakin besar.

3. Sinar-x dapat digunakan untuk menganalisis struktur kristal bahan padatan melalui peristiwa difraksi.

4. Struktur kristal KBr yaitu kubus pusat muka (fcc). Kisi padatan KBr bergantung pada nilai s, 𝜆², dan sin²𝜃. Dari percobaan, nilai tetapan kisi (a) yang diperoleh yaitu kisaran 3,68 - 14,14 Å.


Dalam percobaan ini dapat disarankan sebagai berikut.

1. Tidak lupa mereset alat setiap kali mengambil data.

2. Tidak membuka tabung kaca setelah tabung dialiri tegangan.


I. Daftar Pustaka

Arthur Beiser. (1995). Concept of Modern Physics, 5th edition, New York: McGraw Hill.

Cullity, B.D. (1978). Elements of x-ray diffraction, 2nd ed. New York: Addison Wesley.

Phywe manual catalogue. Characteristic x-ray and Bragg scattering with higher order. LEP 5.4.01

Phywe manual catalogue. Characteristic x-ray of copper. LEP 5.4.01

Raymond A. Serway, Clement J. Moses and Curt A Moyer. (2005). Modern Physics, 3 rd edition, Belmont: Thomson Learning, Inc.