Sunday, March 01, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 80)

Inner Sight

RB. Mamet Swalle, yang lebih dikenal dengan nama sapaan RB Ali, adalah pelukis yang juga gemar menulis puisi. Ekspresi lukisan-lukisan Ali, terutama yang dipamerkan kini, pun banyak mengandung ungkapan tulisan atau huruf. Karya-karya yang ditunjukkan ini merujuk pada renungan perjalanan hidup RB Ali dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Ada rentetan peristiwa penting dan menentukan alur hidup Ali pada masa-masa itu. 

Banyak orang mafhum bahwa 'kehidupan manusia adalah panggung sandiwara', dan bagi Ali, panggung itu juga mementaskan narasi getir dalam hidup yang justru memicunya menjadi sumber penciptaan karya. Lukisan Ali mengandung narasi dengan ungkapan yang puitik. Ada banyak gambaran tentang sosok manusia, selain benda-benda atau bentuk-bentuk 'asing' yang ia ciptakan secara kreatif. 

Proses deformasi bentuk yang dikerjakan Ali ditempatkan dalam susunan komposisi bidang kanvas yang dipertimbangkan menjadi harmonis. Ekspresi lukisan Ali, nampaknya, menyerap namun memantulkan secara unik pengaruh kecenderungan bebas gerakan seni surealisme (khususnya karya Joan Miro), serta pertimbangan struktural abstrakisme Georges Braque (namun dengan karakter komposisi warna yang tidak sama). Menghubungkan dua pendekatan proses penciptaan seni yang berkarakter berbeda itu akhirnya menghasilkan karakter ekspresi yang unik dan khas pada lukisan Ali. 

Ada soal kontras di situ, tentang memadukan dua hal yang umumnya dianggap bertentangan dan tak bisa dihubungkan. Inner Sight RB Ali justru menciptakan caranya sendiri. Ali percaya bahwa tiap tragedi hidup seseorang tak hanya menambat jeruji eligi duka, tetapi juga memendam energi cita yang bersifat membebaskan, memberikan daya pertumbuhan hidup yang mengubah dan memperbarui diri. Ekspresi lukisan-lukisan Ali mencari dan menggali dimensi keindahan dalam harmoni perjumpaan antara bentuk-bentuk yang literal (tulisan, huruf, angka) dengan yang visual (deformasi bentuk), antara ekspresi naratif dengan aspek puitis, serta memadukan masalah kontras antara bidang-bidang terang dan gelap. 

Ekspresi Inner Sight RB Ali, pada akhirnya, bukan soal refleksi mengenai narasi pengalaman dirinya sendiri, melainkan justru soal pengalaman pergulatan menjadi manusia agar mampu bertahan selaras dalam aliran hidup. Energi hidup, secara misterius dan tersembunyi, justru 'memandu' kreativitas manusia agar mampu melampaui babak-babak perubahan dan pembaruan diri dalam siklus kehidupan. Pameran ini berlangsung di Galeri ZEN1, JI. Purworejo No. 24, Dukuh Atas, Menteng Jakarta Pusat 10310 pada tanggal 13 Februari 2026 sampai 10 Maret 2026.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 24 Februari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, February 22, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 79)

View/Preview '26

View/Preview '26 menjadi tonggak penting bagi ArtSociates. Pameran ini merupakan presentasi perdana yang diselenggarakan di ruang terbaru kami di Jakarta. Setelah 19 tahun berkiprah di dunia seni Bandung, pada tahun 2026 ArtSociates melakukan ekspansi strategis ke ibu kota, tepatnya berlokasi di Jakarta Art Hub 2, Gedung Ranuza Thamrin, Jakarta Pusat. 

Sebagai judul, View/Preview 26 dirancang untuk menjadi jendela sekaligus gambaran arah perjalanan artistik yang akan kami tempuh sepanjang tahun ini. Pameran ini menampilkan pilihan karya dari para seniman yang akan bekerja sama dengan kami dalam berbagai proyek mendatang. Kami menghadirkan karya Gregorius Sidharta, Umi Dachlan, Lian Sahar, dan Mujahidin Nurrahman — sebagai kelanjutan narasi dari pameran “Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme” yang saat ini berlangsung di Salihara Community. Selain itu, kami juga menampilkan karya Dzikra Afifah dan Louise Henryette sebagai pengantar menuju pameran mereka di ArtSociates Bandung pada akhir Januari 2026. 

Spektrum pameran ini juga mencakup karya Fadjar Sidik, Aming Prayitno, Maharani Mancanagara, Meliantha Muliawan, dan Rendy Raka Pramudya, yang dipersiapkan untuk partisipasi kami dalam Art Jakarta Papers. Lebih jauh lagi, kami juga menghadirkan pratinjau pameran tunggal yang akan datang di ArtSociates Bandung dari sejumlah seniman dengan karakter beragam: Daniel Kho, Alessio Ceruti, Ugo Untoro, Agnes Hansella, Dwipuspita Pangastuti, dan Endang Lestari. Khusus untuk ruang Jakarta, kami memamerkan karya Nesar Eesar dan Eddy Susanto, yang dijadwalkan akan menggelar pameran tunggal di galeri ini pada tahun ini. 

Kami juga secara khusus menampilkan karya video dari Hoo Fan Chon, yang akan menjadi bagian dari pameran mendatang di ArtSociates Bandung, dikurasi oleh Gunalan Nadarajan (salah satu juri BaCAA 8) dan dikuratori bersama oleh Roopesh Sitharan. Sebagai pelengkap visi tahun ini, kami menampilkan eksplorasi estetika para seniman Bali dalam proyek pameran “Post-Tradisi” di ArtSociates Bandung, yang diwakili oleh Darmika Solar, Made Chandra, Kadek Dwi Darmawan, dan Kuncir Sathya Viku. Kami berharap View/Preview 26 dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai visi dan agenda artistik ArtSociates sepanjang tahun 2026. Pameran ini berlangsung pada tanggal 17 Januari 2026 - April 2026 di Artsociates, JKT ART HUB Ranuza, 2nd floor Jl. Timor No.10, Menteng, Jakarta Pusat.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 13 Februari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, February 21, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 78)

Yearbook

Yearbook menampilkan potret-potret karya Seong Gwang Yun sebagai rekaman emosi — wajah-wajah yang terbentuk dari kata-kata yang tak terucap, dorongan yang ditahan, dan perasaan yang lama dipendam. Digambarkan dengan warna-warna ceria dan bentuk yang dilebih-lebihkan, sosok-sosok ini menyimpan jejak kecemasan, pengekangan, sekaligus humor di balik permukaannya. Secara bersama-sama, karya-karya ini membentuk semacam peta emosi kolektif — sebuah “album graduasi emosi” yang mengajak penonton untuk menghadapi hal-hal yang dulu pernah ditelan, disembunyikan, atau tidak pernah terucapkan. Pameran ini berlangsung pada tanggal 14 February - 4 April 2026 di Theo Gallery, Ranuza Building 2nd floor, JI. Timor No. 10, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat 10350.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 13 Februari 2026 (sebelum pameran dimulai).


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 77)

Liminality

Liminality adalah keadaan ketika seseorang berada di antara dua kondisi bukan lagi seperti sebelumnya, tetapi juga belum sepenuhnya menjadi sesuatu yang baru. la hadir sebagai jeda yang sering kali tidak disadari, namun terasa. Dalam fase ini, arah belum jelas, identitas terasa cair, dan kepastian seolah ditangguhkan. Kita tetap bergerak, tetapi belum sepenuhnya tahu ke mana. Liminality bukan ruang kosong, melainkan ruang yang sedang menunggu bentuk. Pameran ini berlangsung pada tanggal 12 Februari - 21 Februari 2026 di Galeri Hang Nadim, Anjungan Kampar - Komplek Purna MTQ, Kota Pekanbaru.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 18 Februari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Sunday, February 08, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 76)

Closed

Selama ribuan tahun, kertas selalu menjadi simbol dari dua hal yang bertolak belakang: sesuatu yang sementara sekaligus abadi. Naskah, surat, dan dokumen menyimpan sejarah dalam selembar kertas yang mengandung banyak makna tersembunyi. Di era sekarang, ketika budaya berbasis kertas dan bahan cetak semakin ditinggalkan, Irfan Hendrian justru terus menggunakan kertas sebagai medium utamanya, baik secara intens maupun luas. Namun, Irfan tidak sekadar bekerja di atas atau dengan kertas. Ia justru menyelami kertas itu sendiri sebagai medium. Proses berkarya—mulai dari membuat, merancang, hingga menyusun—selalu berangkat dari unit paling dasar: satu lembar kertas. Melalui karya-karya dalam pameran "Closed", Irfan berusaha membuka kembali ruang ingatan, melihat “sisi lain” dari bentuk, yang mengajak munculnya dialog alternatif dan mengungkap dimensi yang melampaui sekadar keindahan visual. 

Beberapa bentuk yang sering muncul dalam karya Irfan, seperti teralis jendela, pagar seng bergelombang, gembok, dan kunci, oleh sang seniman disebut sebagai arsitektur ketakutan. Bentuk-bentuk ini memiliki beban sejarah dan konteks tertentu, yang berangkat dari ingatan serta pengalaman Irfan terhadap kecemasan yang dialami komunitas Tionghoa di Indonesia. Secara keseluruhan, karya-karya tersebut berfungsi sebagai objek yang membangun konteks yang lebih luas, memperlihatkan makna di luar apa yang langsung terlihat secara visual. Pada akhirnya, "Closed" mengajak kita untuk melihat lebih dekat, serta berani menghadapi bayangan-bayangan dalam “luka” yang terus bertahan di dalam ingatan. Pameran ini berlangsung pada tanggal 31 Januari 2026 sampai 17 Maret di 2026 di Ara Contemporary, Jl. Tulodong Bawah I No.16, Senayan, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12190.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 05 Februari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, February 07, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 75)

New Paintings

ROH dengan bangga mempersembahkan pameran kelompok pertama tahun ini, New Paintings, yang berfokus pada karya terbaru dari Nadya Jiwa, Naotaka Hiro, Ser Serpas, Wei Jia, dan Tith Kanitha. Pameran ini menampilkan karya-karya yang lahir dari kondisi zaman saat ini, yaitu masa ketika isu tentang kebebasan individu, batas-batas tubuh, serta semakin kaburnya realitas banyak dirasakan dan diekspresikan oleh para seniman melalui material dan medium lukisan. Untuk pertama kalinya ditampilkan bersama, pameran ini menghadirkan dialog antar seniman yang terus mengeksplorasi dan mengembangkan medium lukisan, sekaligus menanggapi sejarahnya dan relevansinya dalam konteks seni kontemporer saat ini. Pameran ini berlangsung mulai tanggal 25 Januari 2026 sampai 22 Februari 2026 di ROH Projects, berlokasi di Jl. Surabaya No. 66, Jakarta Pusat.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 28 Januari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.

Saturday, January 31, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 74)

Small Talks For Serious Times

Lukisan-lukisan Nyoman Suarnata tidak lagi bekerja sebagai representasi langsung atas peristiwa sosial tertentu, juga tidak secara tegas mengklaim diri sebagai cermin realitas faktual yang dialami bersama pada satu ruang dan waktu yang spesifik. Pengalaman keseharian, gejolak politik, maupun tragedi kemanusiaan tidak dihadirkan sebagai laporan visual tentang "saat kini dan di sini", melainkan sebagai fragmen imaji yang dipintal ulang melalui bahasa sarkasme, humor getir, dan ironi. Dalam konteks ini, realisme yang digunakan Suarnata tidak berfungsi sebagai penjelasan, tetapi sebagai strategi visual yang justru menjaga jarak dari pengalaman hidup yang wajar dan linear. Pendekatan tersebut memperlihatkan cara kerja yang menyerupai montase: mengumpulkan, menyilangkan, dan mempertemukan berbagai simbol kekuasaan, figur prajurit, ikon budaya populer, serta imaji pahlawan dalam situasi yang ganjil dan absurd. Dunia yang dihadirkan Suarnata adalah dunia percakapan -- tempat kritik, kemarahan, dan harapan hadir tanpa tuntutan penyelesaian. Pameran ini berlangsung pada tanggal 18 Januari 2026 - 10 Februari 2026 di Galeri ZEN1, JI. Purworejo No. 24, Dukuh Atas, Menteng, Jakarta Pusat 10310.

Saya menghadiri pameran pada tanggal 26 Januari 2026.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.


Sunday, January 25, 2026

PAMERAN KARYA SENI (BAGIAN 73)

Pinata

PINATA - Herzven's Solo Exhibition

Pada 16 Juni 2025, api menghanguskan dua rumah di Depok - rumah orang tua saya dan rumah saya sendiri.Yang tersisa hanyalah keheningan, abu, dan rasa kehilangan yang sulit saya beri nama. Namun dalam sunyi setelah kehancuran itu, sesuatu bergeser. Saya mulai memahami bahwa kebakaran tersebut bukan hanya sebuah akhir, melainkan sebuah hentakan yang membelah segalanya - retakan yang membuka apa yang selama ini saya pendam. Seperti sebuah PINATA, tidak ada yang terungkap sebelum cangkangnya pecah.

Momen itu mendorong saya untuk merespons. Ia menuntut saya untuk berdiri kembali - bukan sebagai seseorang yang hancur oleh keputusasaan, tetapi sebagai seseorang yang telah melewatinya dan bangkit dengan kesadaran baru. PINATA menandai titik balik itu. Ia menyimpan pecahan-pecahan, pergeseran-pergeseran, dan awal-awal baru yang tumbuh dari kehancuran.

Pameran tunggal Herzven ini tidak hanya menghadirkan karya-karya akhirnya, tetapi juga perjalanan yang membentuknya: mural yang lahir dari kehancuran, karya yang dibentuk dari apa yang tersisa setelah api, serta dokumentasi yang mengikuti proses pemulihan perlahan. Melalui ini, saya berharap para pengunjung dapat melihat bahwa ketika hidup terbelah terbuka, ia dapat mengungkapkan sesuatu yang selama ini menunggu untuk muncul. Pameran ini berlangsung di Nirmana Falatehan Lt. 2, Blok M pada tanggal 11 Januari - 8 Februari 2026. 

Saya menghadiri pameran pada tanggal 21 Januari 2026.


--‐--‐-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Mengenai Judul Pameran "PINATA"

PINATA adalah cerminan dari perjalanan saya sendiri. Sebuah PINATA tidak mengungkapkan maknanya dengan lembut. Ia harus dipukul, dibuka, dan dipecahkan sebelum apa pun di dalamnya dapat muncul. Apa yang tersimpan di dalamnya baru terlihat setelah hantaman itu.

Hal ini selaras dengan bahasa visual dalam karya saya:rumah vang melambanakan asal-usul dan identitas saya, serta bunga dan tanaman yang tumbuh sebagai simbol pembaruan yang menerobos lewat celah-celah. Bersama, semuanya mengingatkan kita bahwa ketika sesuatu pecah, awal dari sesuatu yang baru sebenarnya sudah mulai terbentuk.


Note :

Jika ingin melihat foto-foto atau video-video selengkapnya, dapat mengunjungi YouTube saya di https://www.youtube/com/@afindrapermana.